Kamis, 29 Maret 2012

Asbâbun Nuzûl Surat al-Baqarah (2), Ayat: 115


Asbâbun Nuzûl Surat al-Baqarah (2), Ayat: 115
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ إِنَّ اللهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ (١١٥)
115. Dan kepunyaan[1] Allah-lah Timur dan Barat; di manapun kamu (kaum Muslimîn) menghadap (untuk mendirikan shalat), maka di situlah wajah Allah[2]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.


Al-Imâm al-Hâfizh[3] Ahmad bin Hanbal[4] meriwayatkan dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (No. Hadis: 4484) atau (2/20):
حَدَّثَنَا يَحْيَى, عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ, قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ جُبَيْرٍ, أَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيْ عَلَى رَاحِلَتِهِ مُقْبِلًا مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِيْنَةِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ. وَفِيْهِ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: (........فَأَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ.......).
“Yahyâ[5] telah bercerita kepada kami (kepada Ahmad bin Hanbal), dari ‘Abdul Malik[6], dia (‘Abdul Malik) berkata: “Sa’îd bin Jubair[7] telah bercerita kepada kami (kepada ‘Abdul Malik): “Bahwasannya ‘Abdullâh bin ‘Umar[8] berkata: “Dahulu kala Rasûlullâh SAW. pernah sholat di atas kendaraannya (di atas Unta betina) dari Makkah ke Madînah menghadap (mengikuti) posisi dan arah kendaraannya tersebut (kendaran beliau SAW. yaitu: Unta betina)”. Dalam hal (peristiwa) tersebut (maksudnya: karena peristiwa yang dialami Nabi SAW. yaitu: ketika shalat dalam perjalanan di atas Unta betinanya, beliau SAW. menghadap mengikuti posisi dan arah Unta betinanya tersebut), maka turunlah Ayat ini (Surat al-Baqarah, Ayat:115):
........ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ ....... (١١٥)
115. .............. di manapun kamu (kaum Muslimîn) menghadap (untuk mendirikan shalat), maka di situlah wajah Allah (maksudnya: Qiblat Allah, yaitu: Ka’bah)...............”.

KETERANGAN (dari para Muhadditsîn[9]):
Hadis di atas berkualitas shahîh[10], karena semua rawinya tsiqqât[11].
Al-Imâm al-Hâfizh[12] Muslim[13] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li Muslimnya (No. Hadis: 1131) atau (5/209).
Al-Hâfizh at-Tirmidzî[14] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam at-Tafsîr at-Tirmidzînya (4/68), dan kata al-Hâfizh at-Tirmidzî: “Hadis yang ia (at-Tirmidzî) riwayatkan berkualitas hasan shahîh”.
Al-Hâfizh an-Nasâ-î[15] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Sunan an-Nasâ-î al-Kubrânya (No. Hadis: 487) atau (1/196).
Imâm Ibnu Jarîr[16] juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurânnya (1/503).
Al-Hâfizh Jalâluddîn as-Suyûthî[17] juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 1, 2/al-Baqarah), dengan menisbahkan kepada al-Imâm al-Hâfizh Muslim dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li Muslimnya (No. Hadis: 1131) atau (5/209); dan menisbahkan kepada al-Hâfizh an-Nasâ-î dalam Sunan an-Nasâ-î al-Kubrânya (No. Hadis: 487) atau (1/196).



PENJELASAN (kedudukan hadis di atas):
Atsar[18] ‘Abdullâh bin ‘Umar di atas digolongkan Mawqûf li hukmi Marfû’, maksudnya: hadis Mawqûf[19] yang dihukumi Marfû’[20]. Karena para Muhadditsîn[21] telah bersepakat bahwa: “Ada beberapa macam Mawqûf yang dihukumi Marfû’, dan salah satunya yaitu: penafsiran para Sahabat yang berkaitan dengan sebab turunnya (asbâb an-nuzûl) suatu Ayat”.
Sebagaimana penjelasan para Muhadditsîn tersebut, maka Atsar ‘Abdullâh bin ‘Umar di atas tergolong hadis Mawqûf yang dihukumi Marfû’ oleh para Muhadditsîn, sehingga (hadis ‘Abdullâh bin ‘Umar di atas) dapat dijadikan sebagai hujjah (pedoman/landasan) dalam hukum Syara’ (Islam).




PENJELASAN (Hadis di atas):
قَالَ أَبُوْ عُبَيْدِ الْقَاسِمِ بْنِ سَلاَمِ فِيْ كِتَابِ النَّاسِخِ وَالْمَنْسُوْخِ: حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ, قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ وَعُثْمَانُ بْنُ عَطَاءٍ, عَنْ عَطَاءٍ, عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ, قَالَ: أَوَّلُ مَا نُسِخَ مِنَ الْقُرْآنِ فِيْمَا ذَكَرَ لَنَا, وَ اللهِ أَعْلَمُ شَأْنُ الْقِبْلَةِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: (وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ............). فَاسْتَقْبَلَ رَسُوْلُ اللهِ فَصَلَّى نَحْوَ بَيْتِ الْمُقَدَّسِ, وَتَرَكَ الْبَيْتَ الْعَتِيْقِ. ثُمَّ صَرَّفَهُ إِلَى بَيْتِهِ الْعَتِيْقِ وَ نُسِخَهَا, فَقَالَ: (وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ............).
“Abû ‘Ubaid al-Qâsim bin Salâm berkata dalam Kitâb an-Nâsikh wa al-Mansûkh: “Hajjâj bin Muhammad telah bercerita kepada kami (kepada Abû ‘Ubaid al-Qâsim bin Salâm), dia (Hajjâj bin Muhammad) berkata: “Ibnu Juraij dan ‘Utsmân bin ‘Athâ’ telah mengabarkan kepada kami (kepada Hajjâj bin Muhammad), dari ‘Athâ’, dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs, dia (‘Abdullâh bin ‘Abbâs) berkata: “Demi Allah, seingat (sepengetahuan) kami (Ayat) al-Qurân yang pertama kali dihapus (mansûkh) yaitu: (Ayat) mengenai Qiblat”. Allah SWT. berfirman (Surat al-Baqarah, Ayat: 115):
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ .............. (١١٥)
115. Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat; di manapun kamu (kaum Muslimîn) menghadap (untuk mendirikan shalat), maka di situlah wajah Allah (maksudnya: Qiblat Allah, yaitu: Ka’bah)............”.

“Maka Rasûlullâh SAW. shalat menghadap Baitul Muqaddas (Baitul Maqdîs), dan beliau SAW. meninggalkan (perintah shalat menghadap) Baitul ‘Atîq (Ka’bah). Kemudian Allah SWT. merubah (kembali menghadap) Baitul ‘Atîq-Nya (yaitu: Ka’bah), maka dihapus-Nya (maksudnya: perintah Allah SWT. ketika akan mendirikan shalat agar menghadap Baitul Muqaddas yang terdapat dalam Surat al-Baqarah Ayat: 115, dihapus hukumnya dengan Surat al-Baqarah Ayat: 150, yang memerintahkan mendirikan shalat menghadap Ka’bah). Dia (‘Abdullâh bin ‘Abbâs) berkata (mengenai Firman Allah SWT. Surat al-Baqarah, Ayat: 150):
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ ......... (١٥٠)
150. Dan dari mana saja kamu (kaum Muslimîn) keluar (maksudnya: bepergian atau musâfir), maka palingkanlah (hadapkanlah) wajahmu (maksudnya: jiwa dan ragamu ketika akan mendirikan shalat) ke arah Masjidil Haram (maksudnya: ke arah Ka’bah). Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah (hadapkanlah) wajahmu (maksudnya: jiwa dan ragamu ketika akan mendirikan shalat) ke arah tersebut (maksudnya: ke arah Ka’bah)......................”.[22]




KESIMPULAN
1.   Hadis di atas berkualitas shahîh[23], dan dikuatkan ke-râjih-annya dengan Hadis-hadis melalui jalur (sanad) lain sebagaimana yang telah saya kemukakan di atas; sehingga kokoh dan kuatlah Hadis di atas, dan dapat dijadikan hujjah (pedoman/landasan) dalam Syara’ (Islam).
2.   Hukum yang terkandung dalam Surat al-Baqarah Ayat: 115, dihapus (mansûkh) dengan hukum yang terkandung dalam Surat al-Baqarah Ayat: 150, sebagaimana riwayat ‘Abdullâh bin ‘Abbâs dalam “PENJELASAN” di atas.





BIBLIOGRAFI

Al-Jâmi’ ash-Shahîh li Muslim (Imâm Muslim/ al-Imâm al-Hâfizh Muslim bin al-Hajjâj bin
Muslim bin Warad).
Al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzî (al-Hâfizh at-Tirmidzî/ al-Imâm al-Hâfizh
Muhammad bin Îsâ bin Saurah bin Mûsâ bin adh-Dhahâk).
Al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhayn (al-Hâfizh al-Hâkim/ al-Hâfizh Abî ‘Abdullâh al-Hâkim
an-Naisâbûrî).
Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân (Imâm Ibnu Jarîr/ al-Imâm al-‘Âlim Muhammad bin
Jarîr bin Yazîd bin Katsîr bin Ghâlib).
Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûl (al-Hâfizh as-Suyûthî/ al-Imâm al-Hâfizh ‘Abdurrahmân
bin Abî Bakr).
Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbal (Imâm Ahmad bin Hanbal/ al-Imâm al-Hâfizh Ahmad
bin Muhammad bin Hanbal bin Hilâl bin Asad).
Sunan an-Nasâ-î al-Kubrâ (al-Hâfizh an-Nasâ-î/ al-Qâdhî al-Imâm al-Hâfizh Ahmad bin
Syu’aib bin ‘Alî bin Sunân bin Bahr).
Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm (al-Hâfizh Ibnu Katsîr/ Ismâ’îl bin ‘Amr bin Katsîr).
Tafsîr Ibn Abî Hâtim (al-Hâfizh Ibnu Abî Hâtim/ al-Imâm al-Hâfizh ‘Abdurrahmân bin Abî
Hâtim).

















[1] Di dalam “Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân, Tahqîq Dr. ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî”, karya Imâm Ibnu Jarîr (Cetakan Pertama, Juz. 2, halaman: 449), kata “KEPUNYAAN” ditafsirkan dengan kalimat: “Kepunyaan dan Ciptaan Allah SWT.”.

[2] Di dalam “Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, Tahqîq Sâmî bin Muhammad as-Salâmah”, karya al-Hâfizh Ibnu Katsîr (Jilid. 1, Juz. 1, halaman: 391): ‘Abdullâh bin ‘Abbâs menafsirkan kata “WAJAH ALLAH” dengan kalimat: “Qiblat Allah SWT; baik menghadap ke Timur maupun ke Barat”. Sedangkan di dalam “Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân, Tahqîq Dr. ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî”, karya Imâm Ibnu Jarîr (Cetakan Pertama, Juz. 2, halaman: 457 dan 459); dan di dalam “Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, Tahqîq Sâmî bin Muhammad as-Salâmah”, karya al-Hâfizh Ibnu Katsîr (Jilid. 1, Juz. 1, halaman: 391): Mujâhid menafsirkan kata “WAJAH ALLAH” dengan kalimat: “Qiblat Allah SWT; yaitu: Ka’bah”.

[3] Al-Hâfizh adalah: Gelar ahli hadis yang dapat men-shahîh-kan sanad serta matan hadis, dan dapat men-ta’dîl-kan dan men-jarh-kan para perawi hadis, serta seorang Hâfizh itu harus mempunyai kapasitas menghafal 100.000 hadis. Contoh para Huffâzh: Ahmad bin Hanbal, Yahyâ bin Ma’în, ‘Alî bin al-Madînî, Bukhârî, Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, ad-Dârimî, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, al-Bayhaqî, ad-Dâruquthnî, al-Hâkim, Zainuddîn ‘Abdurrahîm al-‘Irâqî, Syarafuddîn ad-Dimyathî, Ibnu Hajar al-‘Asqalânî, al-Mizzî, al-Haitsamî, adz-Dzahabî, Abû Zar’ah ar-Râzî, Abû Hâtim ar-Râzî, Ibnu Hazm, Ibnu Abî Hâtim, Ibnu ‘Adî, Ibnu al-Mundzir, Ibnu ‘Abdul Bâr, Ibnu Katsîr, Ibnu as-Sakan, Jalâluddîn as-Suyûthî, Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, dan sebagainya.

[4] Nama sebenarnya yaitu: Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilâl bin Asad. Ia (Ahmad bin Hanbal) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ senior. Dan ia (Ahmad bin Hanbal) juga merupakan seorang tsiqqah mutqan al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm al-Hâfizh yang kuat dan kokoh). Ia (Ahmad bin Hanbal) juga seorang pakar hadîts (hadis) dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: asy-Syaibânî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdullâh. Laqab (gelar/titel) nya: Imâm Ahmad Ibn Hanbal. Ia (Ahmad bin Hanbal) lahir di Baghdâd pada tahun 164 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Baghdâd. Ia (Ahmad bin Hanbal) wafat di Baghdâd pada tahun 241 Hijriyah.

[5] Nama lengkapnya yaitu: Yahyâ bin Sa’îd bin Furûkh. Ia (Yahyâ bin Sa’îd) merupakan seorang Tabi’ Tâbi’în junior. Ia (Yahyâ bin Sa’îd) adalah seorang tsiqqah tsabat mutqan Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang kuat lagi kokoh, al-Imâm dan al-Hâfizh). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Qaththân at-Tamîmy. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Sa’îd. Tempat tinggalnya di Bashrah. Ia (Yahyâ bin Sa’îd) wafat di Bashrah pada tahun 198 Hijriyah.

[6] Nama lengkapnya yaitu: ‘Abdul Malik bin Abî Sulaimân Maysarah. Ia (‘Abdul Malik) merupakan seorang Tâbi’în junior. Ia (‘Abdul Malik) adalah seorang yang tsiqqah (kredibel ke-âdl-an dan ke-dhabith-annya). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-‘Urzumî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Muhammad. Tempat tinggalnya di Kûfah. Ia (‘Abdul Malik) wafat pada tahun 145 Hijriyah.

[7] Nama lengkapnya yaitu: Sa’îd bin Jubair bin Hisyâm. Ia (Sa’îd bin Jubair) merupakan seorang Tâbi’în pertengahan. Ia (Sa’îd bin Jubair) adalah seorang tsiqqah tsabat (kredibel ke-âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang konsisten). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Asadî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Muhamad. Tempat tinggalnya di Kûfah. Ia (Sa’îd bin Jubair) wafat di ‘Irâq pada tahun 94 Hijriyah.

[8] Nama lengkapnya yaitu: ‘Abdullâh bin ‘Umar bin al-Khaththâb bin Nufail. Semua Sahabat Nabi SAW. tsiqqah dan ‘âdl. Ia (‘Abdullâh bin ‘Umar) merupakan salah satu pakar hadîts (hadis) terkemuka di kalangan Sahabat; serta ia (‘Abdullâh bin ‘Umar) telah meriwayatkan 2.630 Hadîts. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-‘Udwy al-Qurasyî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdurrahmân. Tempat tinggalnya di Madînah. Ia (‘Abdullâh bin ‘Umar) wafat pada tahun 73 Hijriyah.

[9] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan atara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm asy-Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.

[10] Hadis Shahîh ialah: Hadis yang bersambung (muttashil) sanadnya, diriwayatkan oleh orang yang ‘âdl (‘âdl yaitu: orang yang istiqamah dalam beragama, baik akhlaqnya, tidak fasiq dan tidak melakukan cacat muru’ah), sempurna ke-dhabith-annya, tidak ada keganjilan (syadzdz), dan tidak ada kecacatan (‘illat).

[11] Tsiqqât adalah: Para perawi hadis yang kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya.

[12] Al-Hâfizh adalah: Gelar ahli hadis yang dapat men-shahîh-kan sanad serta matan hadis, dan dapat men-ta’dîl-kan dan men-jarh-kan para perawi hadis, serta seorang Hâfizh itu harus mempunyai kapasitas menghafal 100.000 hadis. Contoh para Huffâzh: Ahmad bin Hanbal, Yahyâ bin Ma’în, ‘Alî bin al-Madînî, Bukhârî, Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, ad-Dârimî, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, al-Bayhaqî, ad-Dâruquthnî, al-Hâkim, Zainuddîn ‘Abdurrahîm al-‘Irâqî, Syarafuddîn ad-Dimyathî, Ibnu Hajar al-‘Asqalânî, al-Mizzî, al-Haitsamî, adz-Dzahabî, Abû Zar’ah ar-Râzî, Abû Hâtim ar-Râzî, Ibnu Hazm, Ibnu Abî Hâtim, Ibnu ‘Adî, Ibnu al-Mundzir, Ibnu ‘Abdul Bâr, Ibnu Katsîr, Ibnu as-Sakan, Jalâluddîn as-Suyûthî, Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, dan sebagainya.

[13] Nama lengkapnya yaitu: Muslim bin al-Hajjâj bin Muslim bin Warad. Ia (Imâm Muslim) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ dekat pertengahan. Dan ia (Imâm Muslim) juga merupakan seorang al-Imâm al-Hâfizh al-Hujjah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm al-Hâfizh dan al-Hujjah). Ia (Imâm Muslim) juga seorang pakar hadîts (hadis) terkemuka. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Qusyairî an-Naysâbûrî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû al-Husain. Laqab (gelar/titel) nya: Imâm Muslim. Ia (Imâm Muslim) lahir di Naysâbûr (wilayah Khurrâsân) pada tahun 204 atau 206 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Naysâbûr (wilayah Khurrâsân). Ia (Imâm Muslim) wafat di Naysâbûr (wilayah Khurrâsân) pada tahun 261 Hijriyah.

[14] Nama lengkapnya yaitu: Muhammad bin Îsâ bin Saurah bin Mûsâ bin adh-Dhahâk. Ia (at-Tirmidzî) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ junior. Dan ia (at-Tirmidzî) juga merupakan seorang tsiqqah al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (at-Tirmidzî) juga seorang pakar hadîts (hadis) dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: as-Sulamî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Îsâ. Laqab (gelar/titel) nya: Imâm at-Tirmidzî. Ia (at-Tirmidzî) lahir di Turmudzî pada tahun 209 atau 210 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Turmudzî. Ia (at-Tirmidzî) wafat pada tahun 279 Hijriyah di daerah Bugh, yaitu suatu daerah yang dekat dengan daerah Turmudzî.

[15] Nama sebenarnya yaitu: Ahmad bin Syu’aib bin ‘Alî bin Sunân bin Bahr. Ia (an-Nasâ-î) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ junior. Dan ia (an-Nasâ-î) juga merupakan seorang al-Qâdhî al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm al-Hâfizh dan seorang Hakim). Ia (an-Nasâ-î) juga seorang pakar hadîts (hadis) dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: an-Nasâ-î an-Nasawy. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdurrahmân. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh an-Nasâ-î. Ia (an-Nasâ-î) lahir di Nasâ (wilayah Khurrâsân) pada tahun 215 Hijriyah. Ia (an-Nasâ-î) wafat di Ramalah (wilayah Palestina) pada tahun 303 Hijriyah; ia (an-Nasâ-î) dimakamkan di Baitul Maqdis (Palestina).

[16] Nama lengkapnya yaitu: Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr bin Ghâlib al-Âmalî. Ia (Ibnu Jarîr) merupakan seorang tsiqqah ‘âlim (kredibel ke-âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang ‘âlim). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Âmalî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Ja’far ath-Thabarî. Laqab (gelar/titel) nya: Abâ at-Tafsîr dan Abâ at-Târîkh. Ia (Ibnu Jarîr) lahir di Thabari Sittân pada tahun 224 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Baghdâd. Ia (Ibnu Jarîr) wafat di Baghdâd pada tahun 310 Hijriyah.

[17] Nama lengkapnya yaitu: ‘Abdurrahmân bin Abî Bakr. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Jalâluddîn. Laqab (gelar/titel) nya: as-Suyûthî. Ia (as-Suyûthî) adalah seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Serta ia (as-Suyûthî) juga seorang pakar tafsîr (tafsir), hadîts (hadis), lughah (bahasa), adb (sastra), fiqh (fikih), târîkh (sejarah) dan sebagainya. Nasab (keturunan) nya yaitu: as-Suyûthî. Ia (as-Suyûthî) lahir di Qâhirah pada tahun 849 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Qâhirah. Ia (as-Suyûthî) wafat di Qâhirah pada tahun 911 Hijriyah.

[18] Atsar adalah: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat dan Tâbi’în, baik berupa perkataan dan perbuatan.

[19] Hadis Mawqûf yaitu: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan; baik bersambung sanadnya ataupun terputus sanadnya.

[20] Marfu’ maksudnya: Terangkatnya derajat hadis hingga ke Nabi SAW.

[21] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan atara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm asy-Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.

[22] Hadis ini diriwayatkan oleh al-Hâfizh Ibnu Abî Hâtim dalam Tafsîr Ibn Abî Hâtimnya (1/346), melalui jalur sanad Hajjâj bin Muhammad. Juga diriwayatkan oleh al-Hâfizh al-Hâkim dalam al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhaynnya (2/267), melalui jalur sanad Ibnu Juraij, dari ‘Athâ’, sebagaimana Hadis di atas. Kata al-Hâfizh al-Hâkim: “Hadis yang ia (al-Hâkim) riwayatkan berkualitas shahîh menurut persyaratan Bukhârî dan Muslim; akan tetapi mereka berdua (Bukhârî dan Muslim) tidak meriwayatkan sebagaimana yang ia (al-Hâkim) riwayatkan”.

[23] Hadis Shahîh ialah: Hadis yang bersambung (muttashil) sanadnya, diriwayatkan oleh orang yang ‘âdl (‘âdl yaitu: orang yang istiqamah dalam beragama, baik akhlaqnya, tidak fasiq dan tidak melakukan cacat muru’ah), sempurna ke-dhabith-annya, tidak ada keganjilan (syadzdz), dan tidak ada kecacatan (‘illat).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar