Jumat, 09 Desember 2011

Asbâbun Nuzûl Surat an-Nisâ’ (4), Ayat: 59


Asbâbun Nuzûl Surat an-Nisâ’ (4), Ayat: 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٥٩)
59. Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri[1] di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian[2]; yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan jalan[3] terbaik.




Imâm Bukhârî meriwayatkan dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (9/322):
“Shadaqah bin al-Fadhl telah bercerita kepada kami (Bukhârî), katanya (Shadaqah bin al-Fadhl): “Hajjaj bin Muhammad telah mengabarkan kepada kami (Shadaqah bin al-Fadhl) dari ‘Abdullâh bin ‘Abd al-‘Azîz bin Juraij (Ibnu Juraij) dari Ya’lâ bin Muslim dari Sa’îd bin Jubair dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs, (tentang Firman Allah SWT. Surat an-Nisâ’, Ayat: 59):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٥٩)
59. Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian; yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan jalan terbaik.

“Kata beliau (‘Abdullâh bin ‘Abbâs): “Turun tentang ‘Abdullâh bin Hudzafah bin Qais ketika dia (‘Abdullâh bin Hudzafah bin Qais) diutus Nabi SAW. dalam satu pasukan ekspedisi”.


KETERANGAN dan PENJELASAN:
Kata Ibnu Katsîr dalam Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîmnya: “Hadis di atas diriwayatkan oleh Jamâ’ah kecuali Ibnu Mâjah”.
Imâm Bukhârî juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Musnad al-Kabîrnya (1/337). Ibnu Jarîr juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Jâmi’ al-Bayâni fî at-Ta’wîl al-Qurâninya (5/147 dan 5/148). Ibnu al-Jarûd juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Muntaqâ Ibn al-Jarûdnya (halaman: 346).
Atsar[4] ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas digolongkan Mawqûf li hukmi Marfu’, maksudnya: hadis Mawqûf[5] yang dihukumi Marfu’[6]. Karena para Muhadditsîn[7] telah bersepakat bahwa: “Ada beberapa macam Mawqûf yang dihukumi Marfu’, dan salah satunya yaitu: penafsiran para Sahabat yang berkaitan dengan sebab turunnya (asbâb an-nuzûl) suatu ayat”.
Sebagaimana penjelasan para Muhadditsîn tersebut, maka Atsar ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas tergolong hadis Mawqûf yang dihukumi Marfu’ oleh para Muhadditsîn, sehingga (hadis ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas) dapat dijadikan sebagai hujjah (pedoman/landasan) dalam hukum Syara’ (Islam).




PENJELASAN (dari al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalanî):
Kata al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalanî dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûli (Juz. 5, 4/an-Nisâ’) karya Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî: “Yang dimaksud dalam kisah ‘Abdullâh bin Hudzafah bin Qais itu dihubungkan dengan sebab turunnya Ayat: 59, Surat an-Nisâ:
............................. فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٥٩)
59. …………………………………………. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian; yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan jalan terbaik.

Ia (al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalanî) melanjutkan: “Karena di dalam kisah itu dituliskan adanya pembatasan antara taat pada perintah (Pemimpin), dan menolak perintah untuk terjun ke dalam api. Pada saat itu mereka (para pasukan kaum Muslim) memerlukan petunjuk bagaimana semestinya mereka (para pasukan kaum Muslim) lakukan. Maka Ayat: 59, Surat an-Nisâ’ diturunkan sebagai petunjuk kepada mereka (para pasukan kaum Muslim), apabila berselisih hendaknya dikembalikan kepada Allah SWT. dan Rasûl-Nya”.




PENJELAS (SYARH) HADIS DI ATAS OLEH IMÂM BUKHÂRÎ:
Imâm Bukhârî meriwayatkan dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (9/121):
“Telah bercerita kepada kami (Bukhârî) Musaddad, katanya (Musaddad): “Telah bercerita kepada kami (Musaddad) ‘Abd al-Wahid, katanya (‘Abd al-Wahid): “Al-A’masy telah bercerita kepada kami (‘Abd al-Wahid), katanya (al-A’masy): “Sa’îd bin ‘Ubaidah telah bercerita kepada saya (al-A’masy) dari Abu ‘Abd ar-Rahmân dari ‘Alî bin Abî Thâlib, katanya (‘Alî bin Abî Thâlib): “Nabi SAW. mengirim satu pasukan dan mengangkat seorang kaum Anshâr sebagai pimpinan pasukan serta memerintahkan mereka (pasukan kaum Muslim) agar mentaatinya (mentaati Pimpinannya). Suatu ketika dia (Pimpinan pasukan yang telah diangkat oleh Nabi SAW) marah, seraya berkata: “Bukankah Nabi SAW. telah memerintahkan kamu (pasukan kaum Muslim) untuk mentaatiku?”. Mereka (pasukan kaum Muslim) menjawab: “Betul”. Katanya (Pimpinan pasukan yang telah diangkat oleh Nabi SAW): “Kumpulkan kayu bakar untukku”. Lalu mereka (pasukan kaum Muslim) mengumpulkannya (mengumpulkan kayu bakar). Dia (Pimpinan pasukan yang telah diangkat oleh Nabi SAW) berkata: “Nyalakan api”. Mereka (pasukan kaum Muslim) pun menyalakannya (menyalakan api). Dia (Pimpinan pasukan yang telah diangkat oleh Nabi SAW) pun berkata: “Masuklah kalian (ke dalam api)”. Mereka (pasukan kaum Muslim) pun ingin melakukannya (ingin masuk ke dalam api), mulailah yang satu menahan yang lainnya (agar tidak mentaati/mematuhi perintah Pimpinannya yang memerintahkan untuk masuk ke dalam api), dan mereka (pasukan kaum Muslim) berkata: “Kami (pasukan kaum Muslim) lari kepada Nabi SAW. dari api (Neraka)”. Mereka (pasukan kaum Muslim) tetap dalam keadaan demikian (maksudnya: tidak mentaati/mematuhi perintah Pimpinannya untuk masuk ke dalam api) sampai api itu padam, dan marahnya (amarah Pimpinannya) pun reda. Berita ini sampai kepada Nabi SAW. dan beliau SAW. berkata: “Kalau mereka (pasukan kaum Muslim) masuk ke dalamnya (ke dalam api), niscaya mereka (pasukan kaum Muslim) tidak keluar dari dalamnya (dari dalam api) sampai Hari Kiamat. Taat itu hanya dalam kebaikan”.



KESIMPULAN:
*        Pemimpin pasukan dalam Hadis di atas yaitu: ‘Abdullâh bin Hudzafah bin Qais.
*        “Taat itu hanya dalam kebaikan”.







BIBLIOGRAFI

Al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârî (Imâm Bukhârî/Abû ‘Abdullâh Muhammad bin Ismâ’îl bin
Ibrâhîm bin al-Mughîrah bin Bardizbah al-Ju’fî al-Bukhârî).
Fath al-Bâri bi Syarh Shahîh al-Imâm Abî ‘Abdullâh Muhammad bin Ismâ’îl al-Bukhârî
(al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Asqalanî/Ahmad bin ‘Alî bin Hajar al-Asqalanî).
Jâmi’ al-Bayâni fî at-Ta’wîl al-Qurâni (Ibnu Jarîr/Abû Ja’far ath-Thabarî Muhammad bin
Jarîr bin Yazîd bin Katsîr bin Ghâlib al-Âmalî).
Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûli (as-Suyûthî/Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî).
Muntaqâ Ibn al-Jarûd (Ibnu al-Jarûd).
Musnad al-Kabîr (Imâm Bukhârî/Abû ‘Abdullâh Muhammad bin Ismâ’îl bin Ibrâhîm bin
al-Mughîrah bin Bardizbah al-Ju’fî al-Bukhârî).
Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm (Ibnu Katsîr/Abû al-Fidâ-u Ismâ’îlu bin ‘Amr bin Katsîr
al-Qurasyî ad-Dimasyqî).















[1] Ulil Amri artinya: Para pemimpin yang amanah, bijaksana, adil, jujur, kredibel, santun, berakhlak mulia, tegas, cakap, baik, lugas, tawadhu’ (rendah hati), sabar, tabah dan konsisten terhadap tanggung jawabnya.
[2] Hari Kemudian maksudnya: Hari Akhir atau Hari Kiyamat.
[3] Jalan di sini maksudnya: Cara-cara atau langkah-langkah.
[4] Atsar adalah: sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat dan Tâbi’în, baik berupa perkataan dan perbuatan.
[5] Hadis Mawqûf yaitu: sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan; baik bersambung sanadnya ataupun terputus sanadnya.
[6] Marfu’ maksudnya: terangkatnya derajat hadis hingga ke Nabi SAW.
[7] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan atara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwûd, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar