Loading...

Selasa, 29 November 2011

Asbâbun Nuzûl Surat an-Nisâ’ (4), Ayat: 58


Asbâbun Nuzûl Surat an-Nisâ’ (4), Ayat: 58
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (٥٨)
58. Sesungguhnya Allah memerintahkan (menyuruh) kamu melaksanakan (menunaikan/menyampaikan) amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran (pelajaran) yang sebaik-baiknya (sangat berharga) kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.



Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî mengeluarkan dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûlinya (Juz. 5, 4/an-Nisâ’) dengan menisbahkan kepada Ibnu Mardawaih dalam Tafsîr Ibn Mardawaihnya:
“Dikemukakan oleh Ibnu Mardawaih dari jalur sanad al-Kilabi dari Abi Shâlih yang bersumber dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs. ‘Abdullâh bin ‘Abbâs berkata: “Ketika Rasûlullâh SAW. menaklukkan Makkah, beliau SAW. memanggil ‘Usmân bin Thalhah. Ketika (‘Usmân bin Thalhah) sudah datang menghadap beliau SAW; Rasûlullâh SAW. bersabda: “Mana kuncinya?”. Ketika kunci diserahkan oleh (‘Usmân bin Thalhah) kepada beliau SAW; berdirilah ‘Abdullâh bin ‘Abbâs seraya berkata: “Wahai Rasûlullâh SAW; demi ayahku dan ibuku, berikan kunci itu kepadaku, akan kurangkap jabatan tersebut dengan jabatan siqâyah (pengairan)”. Lalu ‘Usmân bin Thalhah menarik tangannya kembali. Maka Rasûlullâh SAW. bersabda: “Wahai ‘Usmân bin Thalhah, berikan kunci itu kepadaku (Nabi SAW)!”. ‘Usmân bin Thalhah berkata: “Inilah amanat Allah SWT.”. Maka berdirilah Rasûlullâh SAW. dan membuka Ka’bah, kemudian keluar untuk melakukan thawwaf[1] di Baitullâh (Ka’bah). Maka turunlah Malaikat Jibrîl membawa perintah agar kunci tadi dikembalikan (kepada ‘Usmân bin Thalhah). Lalu beliau SAW. memanggil ‘Usmân bin Thalhah dan menyerahkan kunci kepadanya (kepada ‘Usmân bin Thalhah), kemudian (Nabi SAW.) membaca Ayat (Ayat: 58, Surat an-Nisâ’):
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (٥٨)
58. Sesungguhnya Allah memerintahkan (menyuruh) kamu melaksanakan (menunaikan/menyampaikan) amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran (pelajaran) yang sebaik-baiknya (sangat berharga) kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

KETERANGAN dan PENJELASAN:
Kata Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî: “Hadis yang ia keluarkan di atas berkualitas hasan”.
Atsar[2] ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas digolongkan Mawqûf li hukmi Marfu’, maksudnya: hadis Mawqûf[3] yang dihukumi Marfu’[4]. Karena para Muhadditsîn[5] telah bersepakat bahwa: “Ada beberapa macam Mawqûf yang dihukumi Marfu’, dan salah satunya yaitu: penafsiran para Sahabat yang berkaitan dengan sebab turunnya (asbâb an-nuzûl) suatu ayat”.
Sebagaimana penjelasan para Muhadditsîn tersebut, maka Atsar ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas tergolong hadis Mawqûf yang dihukumi Marfu’ oleh para Muhadditsîn, sehingga (hadis ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas) dapat dijadikan sebagai hujjah (pedoman/landasan) dalam hukum Syara’ (Islam).








Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî mengeluarkan dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûlinya (Juz. 5, 4/an-Nisâ’) dengan menisbahkan kepada Syu’bah bin al-Hajjâj dalam Tafsîr Syu’bah bin al-Hajjâjnya:
“Dikemukakan oleh Syu’bah bin al-Hajjâj dari ayahnya (al-Hajjâj) yang bersumber dari ‘Abdullâh bin ‘Abd al-‘Azîz bin Juraij (Ibnu Juraij). ‘Abdullâh bin ‘Abd al-‘Azîz bin Juraij (Ibnu Juraij) berkata: “Ayat (Ayat: 58, Surat an-Nisâ’) diturunkan mengenai ‘Usmân bin Thalhah. Rasûlullâh SAW. meminta kunci Ka’bah kepadanya (kepada ‘Usmân bin Thalhah), lalu beliau SAW. masuk Baitullâh (Ka’bah) pada waktu Fath al-Makkah[6]. Lalu beliau SAW. keluar dari Ka’bah sambil membaca Ayat (Ayat: 58, Surat an-Nisâ’). Lantas beliau SAW. memanggil ‘Usmân bin Thalhah untuk menyerahkan kunci itu (kepada ‘Usmân bin Thalhah). ‘Abdullâh bin ‘Abbâs berkata: “Menurut ‘Umar bin al-Khaththâb bahwa Ayat (Ayat: 58, Surat an-Nisâ’) diturunkan kepada Rasûlullâh SAW. di dalam Ka’bah, karena pada saat Rasûlullâh keluar dari Ka’bah, beliau SAW. membaca Ayat (Ayat: 58, Surat an-Nisâ’). Dan dia (‘Umar bin al-Khaththâb) pun bersumpah: “Demi ayah dan ibuku, sebelum itu saya (‘Umar bin al-Khaththâb) tidak pernah mendengar Rasûlullâh SAW. membacanya (membaca Ayat: 58, Surat an-Nisâ’)”.
“Saya (Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî) berpendapat: “Menurut kenyataannya, bahwa Ayat (Ayat: 58, Surat an-Nisâ’) diturunkan di dalam Ka’bah”.

KETERANGAN dan PENJELASAN:
‘Atsar[7] ‘Abdullâh bin ‘Abd al-‘Azîz bin Juraij (Ibnu Juraij) di atas adalah Hadis Maqthu’[8], akan tetapi Atsar di atas terdapat bukti-bukti yang kuat yang menunjukkan ke-marfu’-annya, sehingga Atsar di atas dihukumi Marfu’ Mursal[9]. Karena para Muhadditsîn[10] telah bersepakat bahwa: “Perkataan Tâbi’în[11] terkadang dipandang sebagai perkataan Sahabat, apabila perkataan tersebut semata tidak diperoleh melalui ijtihad. Begitu juga sebaliknya, perkataan Sahabat yang dianggap bukan sebagai ijtihad, maka juga dipandang sebagai perkataan Nabi SAW. sendiri”. Sebagaimana penjelasan para Muhadditsîn tersebut, maka Atsar ‘Abdullâh bin ‘Abd al-‘Azîz bin Juraij (Ibnu Juraij) di atas tergolong Marfu’ Mursal oleh para Muhadditsîn.
Menurut pendapat Imâm Mâlik, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Abû Hanîfah dan ulama lain: “Hukum Hadis Mursal Tâbi’î[12] shahîh dan dapat dijadikan hujjah (pedoman/landasan), jika yang me-mursal-kan tsiqqah”. Sedangkan ‘Abdullâh bin ‘Abd al-‘Azîz bin Juraij (Ibnu Juraij) merupakan seorang Tâbi’în[13] junior, tsiqqah[14] dan ia (Ibnu Juraij) tidak menyalahi para Huffâzh[15] yang amanah; Serta atsar (Ibnu Juraij) sesuai dengan persyaratan: Imâm Mâlik, Imâm Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Abû Hanîfah, sebagian ahli ilmu dan para ulama lain. Sehingga Atsar ‘Abdullâh bin ‘Abd al-‘Azîz bin Juraij (Ibnu Juraij) di atas dapat dijadikan hujjah (pedoman/landasan) dalam hukum Syara’ (Islam).


KESIMPULAN:
Kedua Hadis di atas saling menguatkan antara Hadis pertama dengan Hadis kedua, sehingga kedua Hadis di atas dapat dijadikan hujjah (pedoman/landasan) dalam hukum Syara’ (Islam).





BIBLIOGRAFI

Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûli (as-Suyûthî/Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî).
Tafsîr Ibn Mardawaih (Ibnu Mardawaih).
Tafsîr Syu’bah bin al-Hajjâj (Syu’bah/Syu’bah bin al-Hajjâj).















[1] Thawwaf adalah: Lari-lari kecil selama tujuh kali mengelilingi Ka’bah serta membaca talbiyah (labaikallâh humâ labaik, labaika lâ syarika labaik, innalhamda wa ni’matah laka wal mulk lâ syarikalah).
[2] Atsar adalah: sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat dan Tâbi’în, baik berupa perkataan dan perbuatan.
[3] Hadis Mawqûf yaitu: sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan; baik bersambung sanadnya ataupun terputus sanadnya.
[4] Marfu’ maksudnya: terangkatnya derajat hadis hingga ke Nabi SAW.
[5] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan atara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwûd, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.
[6] Fath al-Makkah maknanya yaitu: Penaklukkan Mekah oleh kaum Muslim yang dipimpin oleh Nabi SAW.
[7] Atsar adalah: sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat dan Tâbi’în, baik berupa perkataan dan perbuatan.
[8] Hadis Maqthu’ adalah: sifat matan yang disandarkan kepada seorang Tâbi’în atau para generasi setelahnya, baik berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan.
[9] Marfu’ Mursal yaitu: Periwayatan Tâbi’in atau para generasi setelahnya, yang dinaikkan derajat hadisnya hingga ke Sahabat.
[10] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan atara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwûd, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.
[11] Tâbi’în adalah: para generasi setelah Sahabat. Contoh para Tâbi’în: Sa’d bin al-Musayyab, ‘Ikrimah, Nâfi’, Mujâhid, az-Zuhrî, Hasan al-Bashrî, Qatadah, al-A’masy, dan sebagainya.
[12] Hadis Mursal Tâbi’î adalah: periwayatan Tâbi’în secara mutlak dari Nabi SAW; baik Tâbi’în senior maupun yunior.
[13] Tâbi’în adalah: para generasi setelah Sahabat. Contoh para Tâbi’în: Sa’d bin al-Musayyab, ‘Ikrimah, Nâfi’, Mujâhid, az-Zuhrî, Hasan al-Bashrî, Qatadah, al-A’masy, dan sebagainya.
[14] Tsiqqah adalah: seorang yang kredibel ke-‘âdilan dan ke-dhâbith-annya.
[15] Huffazh merupakan jamak dari al-Hâfizh. Al-Hâfizh adalah gelar ahli hadis yang dapat men-shahîh-kan sanad serta matan hadis, dan dapat men-ta’dîl-kan dan men-jarh-kan para perawi hadis, serta seorang Hâfizh itu harus mempunyai kapasitas menghafal 100.000 hadis. Contoh para Huffâzh: Zainuddin ‘Abdurrahîm al-‘Iraqî, Syarafuddîn ad-Dimyathî, Ibnu Hajar al-Asqalanî, al-Mizzî, Abû Dâwûd, Jalâluddîn as-Suyûthî, dan sebagainya.