Minggu, 08 Januari 2012

Asbâbun Nuzûl Surat an-Nisâ’ (4), Ayat: 94


Asbâbun Nuzûl Surat an-Nisâ’ (4), Ayat: 94

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (٩٤)
94. Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu sekalian (pasukan kaum Muslimîn) mengatakan kepada seorang yang mengucapkan "salam”[1] kepadamu: "Kamu bukan seorang Mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan dunia, (sedangkan) di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu juga keadaan kamu (pasukan kaum Muslimîn) dahulu[2], lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu (pasukan kaum Muslimîn), maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.




Imâm Bukhârî meriwayatkan dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (9/327):
“Telah bercerita kepada saya (Bukhârî) ‘Alî bin ‘Abdillâh, katanya (‘Alî bin ‘Abdillâh): “Sufyan bin ‘Uyaynah telah bercerita kepada kami (‘Alî bin ‘Abdillâh) dari ‘Amr bin Dinar dari ‘Atha’ bin Yasar dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs (tentang Ayat: 94, Surat an-Nisâ’):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (٩٤)
94. Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu sekalian (pasukan kaum Muslimîn) mengatakan kepada seorang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang Mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan dunia, (sedangkan) di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu juga keadaan kamu (pasukan kaum Muslimîn) dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu (pasukan kaum Muslimîn), maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

“‘Abdullâh bin ‘Abbâs berkata: “Ada seorang lelaki (Bani Salim) di antara kambing-kambingnya diikuti oleh pasukan (kaum) Muslimîn, lalu dia (seorang lelaki Bani Salim) pun berkata: “Assalamu’alaikum”; akan tetapi mereka (pasukan kaum Muslimîn) membunuhnya (membunuh seorang lelaki Bani Salim) dan mengambil kambing tersebut (mengambil kambingnya seorang lelaki Bani Salim); maka Allah SWT. menurunkan tentang hal itu[3] sampai pada:
.................عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا......................... (٩٤)
94. ………………………………..harta benda kehidupan dunia………………………………..

“(‘Abdullâh bin ‘Abbâs melanjutkan): “Yaitu (mengenai) Kambing/harta”.

KETERANGAN:
Imâm Muslim juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam al-Jâmi ash-Shahîh li Muslimnya (18/161). At-Tirmidzî juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (4/90); dan kata at-Tirmidzî: Hadis yang ia (at-Tirmidzî) riwayatkan berkualitas hasan”. Imâm Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (1/229 dan 1/324). Al-Hâkim juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhaynnya (2/235); dan kata al-Hâkim: “Hadis yang ia (al-Hâkim) riwayatkan sanadnya shahîh (menurut persyaratan shahîh Bukhârî-Muslim); akan tetapi keduanya (Bukhârî-Muslim) tidak meriwayatkan melalui jalur sanad Hadis yang diriwayatkan oleh al-Hâkim; dan didiamkan oleh al-Hâfizh adz-Dzahabî”. Ibnu Jarîr juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Jâmi’ al-Bayân fî at-Ta’wîl al-Qurânnya (5/223). Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 5, 4/an-Nisâ’), dengan menisbahkan kepada Imâm Bukhârî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (9/327); Serta menisbahkan kepada at-Tirmidzî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (4/90); Serta menisbahkan kepada al-Hâkim dalam al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhaynnya (2/235).
Kata ‘Abdullâh bin al-Mubârak yang di-nuqil (dikutip) oleh asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î dalam ash-Shahîh al-Musnad min Asbâb an-Nuzûlnya (Surat an-Nisâ’, Ayat: 94): “Imâm Abû Dâwûd juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam al-Hurfnya; Imâm an-Nasâ-î juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam as-Siyarfnya dan Tafsîr an-Nasâ-înya”.


PENJELASAN:
Atsar[4] ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas digolongkan Mawqûf li hukmi Marfu’, maksudnya: hadis Mawqûf[5] yang dihukumi Marfu’[6]. Karena para Muhadditsîn[7] telah bersepakat bahwa: “Ada beberapa macam Mawqûf yang dihukumi Marfu’, dan salah satunya yaitu: penafsiran para Sahabat yang berkaitan dengan sebab turunnya (asbâb an-nuzûl) suatu ayat”.
Sebagaimana penjelasan para Muhadditsîn tersebut, maka Atsar ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas tergolong hadis Mawqûf yang dihukumi Marfu’ oleh para Muhadditsîn, sehingga (hadis ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas) dapat dijadikan sebagai hujjah (pedoman/landasan) dalam hukum Syara’ (Islam).







Imâm Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (6/11):
Ya’qûb telah bercerita kepada kami (Ahmad bin Hanbal), katanya (Ya’qûb): “Ayahku (ayahnya Ya’qûb) telah bercerita kepada kami (Ya’qûb) dari Muhammad bin Ishâq, katanya (Muhammad bin Ishâq): “Yazîd bin ‘Abdullâh bin Qusaith telah bercerita kepada saya (Muhammad bin Ishâq), dari al-Qa’qâ’ bin ‘Abdullâh bin Abî Hadrad dari ayahnya (yaitu) ‘Abdullâh bin Abî Hadrad, katanya (‘Abdullâh bin Abî Hadrad): “Rasûlullâh SAW. mengutus kami (‘Abdullâh bin Abî Hadrad) ke Adham (Idham). Saya pun berangkat bersama rombongan (kaum) Muslimîn, di antara mereka ada Abû Qatâdah al-Hârits bin Rib’î dan Muhallam bin Jutsamah bi Qais. Kami (rombongan kaum Muslimîn yang diutus oleh Nabi SAW. menuju Adham) pun berangkat, (ketika rombongan kaum Muslimîn yang diutus oleh Nabi SAW. menuju Adham) sampai di lembah Adham (Idham) lewatlah ‘Âmir bin al-Adhbath al-Asyja’î di atas kendaraannya (yaitu Unta) dengan bekal dan kantung kulitnya yang berisi susu. Ketika dia (‘Âmir bin al-Adhbath al-Asyja’î) melewati kami (rombongan kaum Muslimîn yang diutus oleh Nabi SAW. menuju Adham), dia (‘Âmir bin al-Adhbath al-Asyja’î) memberi salam kepada kami (kepada rombongan kaum Muslimîn yang diutus oleh Nabi SAW. menuju Adham) dan kami (rombongan kaum Muslimîn yang diutus oleh Nabi SAW. menuju Adham) pun menahan diri darinya (dari ‘Âmir bin al-Adhbath al-Asyja’î); akan tetapi Muhallam bin Jutsamah bi Qais menyerangnya (menyerang ‘Âmir bin al-Adhbath al-Asyja’î) hingga membunuhnya (membunuh ‘Âmir bin al-Adhbath al-Asyja’î), karena sesuatu antara dia (Muhallam bin Jutsamah bi Qais) dengannya (dengan ‘Âmir bin al-Adhbath al-Asyja’î), lalu (Muhallam bin Jutsamah bi Qais) mengambil Unta dan perbekalannya (perbekalan ‘Âmir bin al-Adhbath al-Asyja’î). Setelah kami (rombongan kaum Muslimîn yang diutus oleh Nabi SAW. menuju Adham) tiba (sampai) kepada Rasûlullâh SAW. kami (rombongan kaum Muslimîn yang diutus oleh Nabi SAW. menuju Adham) menceritakan hal itu[8]; lalu turunlah tentang kami (rombongan kaum Muslimîn yang diutus oleh Nabi SAW. menuju Adham) al-Quran (Ayat: 94, Surat an-Nisâ’):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (٩٤)
94. Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu sekalian (pasukan kaum Muslimîn) mengatakan kepada seorang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang Mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan dunia, (sedangkan) di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu juga keadaan kamu (pasukan kaum Muslimîn) dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu (pasukan kaum Muslimîn), maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

KETERANGAN:
Ibnu al-Jarûd juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Muntaqâ Ibn al-Jarûdnya (halaman: 263), dan kata Imâm Bukhârî yang di-nuqil (dikutip) oleh Ibnu al-Jarûd dalam Muntaqâ Ibn al-Jarûdnya (halaman: 263): Al-Qa’qâ’ bin ‘Abdullâh bin Abî Hadrad adalah seorang Sahabat Nabi SAW”. Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 5, 4/an-Nisâ’), dengan menisbahkan kepada Imâm Ahmad bin Hanbal dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (6/11); Serta menisbahkan kepada ath-Thabrânî dalam al-Mu’jam al-Kabîrnya.


PENJELASAN:
Atsar[9] ‘Abdullâh bin Abî Hadrad di atas digolongkan Mawqûf li hukmi Marfu’, maksudnya: hadis Mawqûf[10] yang dihukumi Marfu’[11]. Karena para Muhadditsîn[12] telah bersepakat bahwa: “Ada beberapa macam Mawqûf yang dihukumi Marfu’, dan salah satunya yaitu: penafsiran para Sahabat yang berkaitan dengan sebab turunnya (asbâb an-nuzûl) suatu ayat”.
Sebagaimana penjelasan para Muhadditsîn tersebut, maka Atsar ‘Abdullâh bin Abî Hadrad di atas tergolong hadis Mawqûf yang dihukumi Marfu’ oleh para Muhadditsîn, sehingga (hadis ‘Abdullâh bin Abî Hadrad di atas) dapat dijadikan sebagai hujjah (pedoman/landasan) dalam hukum Syara’ (Islam).








Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî meriwayatkan dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 5, 4/an-Nisâ’), dengan menisbahkan kepada ats-Tsa’labî dalam Tafsîr ats-Tsa’labînya:
“Diriwayatkan oleh ats-Tsa’labî dari jalan sanad al-Kilabi yang bersumber dari Ibnu Shâlih dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs: “Bahwa nama orang yang dibunuh itu ialah Mirdas bin Nahik dari Ahli Fadaq, nama pembunuhnya ialah Usamah bin Zaid, sedangkan nama komandan pasukannya ialah Ghalib bin Fudhalah al-Laitsî”.
“(‘Abdullâh bin ‘Abbâs melanjutkan): “Sesungguhnya kaum Mirdas bin Nahik ketika bercerai-berai melarikan diri; ia (Mirdas bin Nahik) tinggal sendirian (di kampungnya) sedang menggiring kambingnya (kambingnya Mirdas bin Nahik) ke Gunung. Ketika mereka (pasukan kaum Muslimîn yang dikomando oleh Ghalib bin Fudhalah al-Laitsî) menyusulnya (menyusul Mirdas bin Nahik), ia (Mirdas bin Nahik) mengucapkan “Syahadat dan Salam: lâ ilâha illa Allâh, Muhammad Rasûlullâh; Assalamu’alaikum”, akan tetapi (Mirdas bin Nahik) langsung dibunuh oleh Usamah bin Zaid. Maka ketika mereka (pasukan kaum Muslimîn yang dikomando oleh Ghalib bin Fudhalah al-Laitsî) kembali, turunlah Ayat ini (Ayat: 94, Surat an-Nisâ’):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (٩٤)
94. Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu sekalian (pasukan kaum Muslimîn) mengatakan kepada seorang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang Mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan dunia, (sedangkan) di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu juga keadaan kamu (pasukan kaum Muslimîn) dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu (pasukan kaum Muslimîn), maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

“(‘Abdullâh bin ‘Abbâs melanjutkan): “Yang menerangkan teguran tindakan (Usamah bin Zaid) yang ceroboh (yaitu: membunuh Mirdas bin Nahik yang sudah mengucapkan syahadat dan salam)”.


KETERANGAN:
Kata Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 5, 4/an-Nisâ’): “Hadis yang ia riwayatkan di atas berkualitas hasan[13].
Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 5, 4/an-Nisâ’), dengan menisbahkan kepada Ibnu Jarîr dalam Jâmi’ al-Bayân fî at-Tawîl al-Qurânnya, melalui jalur sanad[14] as-Suddy yang bersumber dari Qatâdah.
Hadis di atas juga dikuatkan oleh riwayat Ibnu Abî Hâtim dalam Tafsîr Ibn Abî Hâtimnya, yang di-nuqil (dikutip) oleh Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 5, 4/an-Nisâ’):
“Dikemukakan oleh Ibnu Abî Hâtim dari jalan sanad Ibnu Luhai’ah dari Abû Zubair yang bersumber dari Jâbir bin ‘Abdillâh. Jâbir bin ‘Abdillâh berkata: “Ayat (Ayat: 94, Surat an-Nisâ’):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (٩٤)
94. Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu sekalian (pasukan kaum Muslimîn) mengatakan kepada seorang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang Mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan dunia, (sedangkan) di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu juga keadaan kamu (pasukan kaum Muslimîn) dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu (pasukan kaum Muslimîn), maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

“(Jâbir bin ‘Abdillâh melanjutkan): “Itu diturunkan mengenai Mirdas bin Nahik”.

PENJELASAN:
Atsar[15] ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas digolongkan Mawqûf li hukmi Marfu’, maksudnya: hadis Mawqûf[16] yang dihukumi Marfu’[17]. Karena para Muhadditsîn[18] telah bersepakat bahwa: “Ada beberapa macam Mawqûf yang dihukumi Marfu’, dan salah satunya yaitu: penafsiran para Sahabat yang berkaitan dengan sebab turunnya (asbâb an-nuzûl) suatu ayat”.
Sebagaimana penjelasan para Muhadditsîn tersebut, maka Atsar ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas tergolong hadis Mawqûf yang dihukumi Marfu’ oleh para Muhadditsîn, sehingga (hadis ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas) dapat dijadikan sebagai hujjah (pedoman/landasan) dalam hukum Syara’ (Islam).




PENJELASAN (dari al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalanî):
Kata al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalanî dalam Fath al-Bâri bi Syarh Shahîh al-Imâm Abî ‘Abdullâh Muhammad bin Ismâ’îl al-Bukhârînya (9/327): “Ini pada saya ada kisah lain, dan tidak ada halangannya kalau Ayat (Ayat: 94, Surat an-Nisâ’) turun tentang dua hal sekaligus”.




KESIMPULAN:
1.    Seseorang dari Bani Salim adalah person yang terbunuh. Hal ini berdasarkan riwayat at-Tirmidzî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (4/90); Serta berdasarkan riwayat Imâm Ahmad bin Hanbal dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (1/229 dan 1/324); Serta berdasarkan riwayat al-Hâkim dalam al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhaynnya (2/235); Dan juga berdasarkan riwayat Ibnu Jarîr dalam Jâmi’ al-Bayân fî at-Ta’wîl al-Qurânnya (5/223).
2.    Person yang terbunuh adalah: Mirdas bin Nahik dari Ahli Fadaq. Dan nama pembunuhnya yaitu: Usamah bin Zaid. Serta nama komandan pasukan kaum Muslimîn yaitu: Ghalib bin Fudhalah al-Laitsî. Hal ini berdasarkan riwayat Hasan[19] Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 5, 4/an-Nisâ’), yang menisbahkan kepada ats-Tsa’labî dalam Tafsîr ats-Tsa’labînya; Serta berdasarkan riwayat Hasan[20] Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 5, 4/an-Nisâ’), yang menisbahkan kepada Ibnu Abî Hâtim dalam Tafsîr Ibn Abî Hâtimnya; Serta berdasarkan riwayat Mursal Shahâbî[21] Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 5, 4/an-Nisâ’), yang menisbahkan kepada Ibnu Jarîr dalam Jâmi’ al-Bayân fî at-Tawîl al-Qurânnya.
3.    Nama pembunuhnya yaitu: Muhallam bin Jutsamah bi Qais. Dan person yang terbunuh yaitu: ‘Âmir bin al-Adhbath al-Asyja’î. Hal ini berdasarkan riwayat Imâm Ahmad bin Hanbal dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (6/11); Serta berdasarkan riwayat Hasan[22] Ibnu al-Jarûd dalam Muntaqâ Ibn al-Jarûdnya (halaman: 263); Serta berdasarkan riwayat Hasan[23] Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 5, 4/an-Nisâ’), yang menisbahkan kepada Imâm Ahmad bin Hanbal dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (6/11); Serta menisbahkan kepada ath-Thabrânî dalam al-Mu’jam al-Kabîrnya.
4.    Nama pembunuhnya yaitu: al-Miqdad. Hal ini berdasarkan riwayat al-Hâfizh al-Haitsamî dalam Majma’ al-Zawâid wa Manba’ al-Fawâidnya (7/9); Serta berdasarkan riwayat Hasan[24] Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 5, 4/an-Nisâ’), yang menisbahkan kepada al-Bazzâr dalam Musnad Abû Bakr al-Bazzârnya.








BIBLIOGRAFI

Al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârî (Imâm Bukhârî/Abû ‘Abdullâh Muhammad bin Ismâ’îl bin
Ibrâhîm bin al-Mughîrah bin Bardizbah al-Ju’fî al-Bukhârî).
Al-Jâmi’ ash-Shahîh li Muslim (Imâm Muslim/al-Imâm Abî al-Husain Muslim bin al-Haĵâj
Ibnu Muslim al-Qusyairî an-Naisâbûrî).
Al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzî (at-Tirmidzî/al-Imâm al-Hâfizh Abî ‘Îsâ Muhammad
bin ‘Îsâ bin Saurah at-Tirmidzî).
Al-Mu’jam al-Kabîr (ath-Thabrânî/Sulaimân bin Ahmad ath-Thabrânî).
Al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhayn (al-Hâkim/Abî ‘Abdullâh al-Hâkim an-Naisâbûrî).
Ash-Shahîh al-Musnad min Asbâb an-Nuzûl (asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î).
Fath al-Bâri bi Syarh Shahîh al-Imâm Abî ‘Abdullâh Muhammad bin Ismâ’îl al-Bukhârî
(al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalanî/Ahmad bin ‘Alî bin Hajar al-‘Asqalanî).
Jâmi’ al-Bayân fî at-Ta’wîl al-Qurân (Ibnu Jarîr/Abû Ja’far ath-Thabarî Muhammad bin
Jarîr bin Yazîd bin Katsîr bin Ghâlib al-Âmalî).
Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûl (as-Suyûthî/Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî).
Majma’ al-Zawâid wa Manba’ al-Fawâid (al-Haitsamî).
Muntaqâ Ibn al-Jarûd (Ibnu al-Jarûd).
Musnad Abû Bakr al-Bazzâr (al-Bazzâr/Ahmad bin ‘Amar al-Bazzâr).
Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbal (Imâm Ahmad bin Hanbal/Ahmad bin Hanbal Abû
‘Abdullâh asy-Syaibânî).
Tafsîr ats-Tsa’labî (ats-Tsa’labî).
Tafsîr Ibn Abî Hâtim (Ibnu Abî Hâtim).




















[1] Mengucapkan “Salam” juga dapat diartikan dengan: Orang yang mengucapkan kalimat “lâ ilâha illa Allâh”.
[2] Maksudnya: Seseorang yang telah kamu (pasukan kaum Muslimîn) bunuh itu belum nyata keislamannya di mata (hadapan) khalayak umum (masyarakat); kamu (pasukan kaum Muslimîn) pun demikian pula dahulu kala, yaitu: pada saat dahulu kala kamu (pasukan kaum Muslimîn) juga belum nyata keislamanmu (keislaman pasukan kaum Muslimîn) di mata (hadapan) khalayak umum (masyarakat).
[3] Tentang Hal Itu, maksudnya: Tentang terbunuhnya seorang lelaki Bani Salim oleh pasukan kaum Muslimîn; yang mana lelaki Bani Salim tersebut mengucapkan “Assalamu’alaikum” kepada pasukan kaum Muslimîn, akan tetapi pasukan kaum Muslimîn tetap membunuh lelaki Bani Salim tersebut, serta pasukan kaum Muslimîn juga mengambil kambing-kambing lelaki Bani Salim tersebut.
[4] Atsar adalah: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat dan Tâbi’în, baik berupa perkataan dan perbuatan.
[5] Hadis Mawqûf yaitu: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan; baik bersambung sanadnya ataupun terputus sanadnya.
[6] Marfu’ maksudnya: Terangkatnya derajat hadis hingga ke Nabi SAW.
[7] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan atara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwûd, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.
[8] Hal Itu, maksudnya: Hal mengenai terbunuhnya ‘Âmir bin al-Adhbath al-Asyja’î oleh Muhallam bin Jutsamah bi Qais, kemudian Muhallam bin Jutsamah bi Qais mengambil Unta dan perbekalan ‘Âmir bin al-Adhbath al-Asyja’î.  
[9] Atsar adalah: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat dan Tâbi’în, baik berupa perkataan dan perbuatan.
[10] Hadis Mawqûf yaitu: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan; baik bersambung sanadnya ataupun terputus sanadnya.
[11] Marfu’ maksudnya: Terangkatnya derajat hadis hingga ke Nabi SAW.
[12] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan atara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwûd, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.
[13] Hadis Hasan ialah: Hadis yang bersambung (muttashil) sanadnya, diriwayatkan oleh orang yang ‘âdil (‘âdil yaitu: orang yang istiqamah dalam beragama, baik akhlaqnya, tidak fasiq dan tidak melakukan cacat muru’ah), ke-dhâbith-annya tidak sempurna, tidak ada keganjilan (syadzdz), dan tidak ada kecacatan (‘illat).
[14] Sanad yaitu: Mata rantai para perawi hadis yang menghubungkan kepada matan (redaksi/isi) hadis.
[15] Atsar adalah: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat dan Tâbi’în, baik berupa perkataan dan perbuatan.
[16] Hadis Mawqûf yaitu: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan; baik bersambung sanadnya ataupun terputus sanadnya.
[17] Marfu’ maksudnya: Terangkatnya derajat hadis hingga ke Nabi SAW.
[18] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan atara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwûd, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.
[19] Hadis Hasan ialah: Hadis yang bersambung (muttashil) sanadnya, diriwayatkan oleh orang yang ‘âdil (‘âdil yaitu: orang yang istiqamah dalam beragama, baik akhlaqnya, tidak fasiq dan tidak melakukan cacat muru’ah), ke-dhâbith-annya tidak sempurna, tidak ada keganjilan (syadzdz), dan tidak ada kecacatan (‘illat).
[20] Ibid.
[21] Hadis Mursal Shahâbî adalah: Periwayatan Sahabat pada sesuatu yang mana ia tidak bertemu dengan Nabi SAW; baik tidak melihat dan tidak mendengar langsung dari Nabi SAW; ataupun tidak pula menghadiri majlis Nabi SAW.
[22] Hadis Hasan, loc. cit.
[23] Hadis Hasan, loc. cit.
[24] Hadis Hasan, loc. cit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar