Sabtu, 06 April 2013

HUKUM BEJANA NON-MUSLIM MENURUT ISLÂM



HUKUM BEJANA NON-MUSLIM MENURUT ISLÂM

Oleh: Jati Sarwo Edi



DALIL-DALIL YANG MENERANGKAN DAN MENJELASKAN MENGENAI HUKUM BEJANA NON-MUSLIM MENURUT ISLÂM:


Al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânŷ mengeluarkan dalam Fath al-Bârŷ bi Syarh Shahîh al-Bukhârînya {(9/623), Bâb Bejana-bejana Orang Majûsi}, dengan menyandarkan kepada periwayatan al-Imâm al-Hâfizh al-Bazzâr:
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ, قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى, وَإِسْمَعِيْلُ, عَنْ بُرْدِ بْنِ سِنَانٍ, عَنْ عَطَاءٍ, عَنْ جَابِرٍ, قَالَ: كُنَّا نَغْزُوْ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَنُصِيْبُ مِنْ آنِيَةِ الْمُشْرِكِيْنَ, فَنَغْسِلُهَا, وَنَأْكُلُ فِيْهَا. فَلَا يَعِيْبُ ذَالِكَ عَلَيْهِمْ.
"'Utsmân bin Abî Syaibah telah bercerita kepada kami (kepada al-Bazzâr), dia ('Utsmân bin Abî Syaibah) berkata: "'Abdul A'lâ dan Ismâ'îl bin Ibrâhîm telah bercerita kepada kami (kepada 'Utsmân bin Abî Syaibah), dari Burd bin Sinân, dari 'Athâ bin Abî Rabâh, dari Jâbir bin 'Abdullâh, dia (Jâbir bin 'Abdullâh) berkata: "Dahulukala kami (para Shahabat) pernah berperang bersama Rasûlullâh SAW. Kemudian kami (para Shahabat) mendapatkan BEJANA-BEJANA KAUM MUSYRIKÎN, lalu KAMI (PARA SHAHABAT) MENCUCINYA (MENCUCI BEJANA-BEJANA KAUM MUSYRIKÎN), setelah itu kami (para Shahabat) makan dengan Bejana-bejana Kaum Musyrikîn. DAN BELIAU SAW. TIDAK MENCELA (MENEGUR) ATAS TINDAKAN KAMI (PARA SHAHABAT)". {HR. Abû Dâwud dalam Sunan Abî Dâwudnya (No. Hadis: 3341). Ahmad bin Hanbal dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (No. Hadis: 14523). Ath-Thabarânî dalam Musnad asy-Syâmiŷînnya (No. Hadis: 375). Dan al-Bayhaqî dalam as-Sunan al-Kubrânya (No. Hadis: 128 dan 19714)}.[1]







Al-Imâm al-Hâfizh at-Tirmidzî meriwayatkan dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (No. Hadis: 1718):
حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ الطَّائِيُّ, قَالَ: حَدَّثَنَا سَلْمُ بْنُ قُتَيْبَةَ, قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ, عَنْ أَيُّوْبَ, عَنْ أَبِيْ قِلَابَةَ, عَنْ أَبِيْ ثَعْلَبَةَ, قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قُدُوْرِ الْمَجُوْسِ؟. فَقَالَ: أَنْقُوْهَا غَسْلًا, وَاطْبُخُوْا فِيْهَا. وَنَهَى عَنْ كُلِّ سَبْعٍ ذِيْ نَابٍ.
"Zaid bin Akhzam ath-Thâiŷ telah bercerita kepada kami (kepada at-Tirmidzî), dia (Zaid bin Akhzam ath-Thâiŷ) berkata: "Salm bin Qutaybah telah bercerita kepada kami (kepada Zaid bin Akhzam ath-Thâiŷ), dia (Salm bin Qutaybah) berkata: "Syu'bah bin al-Haĵâj telah bercerita kepada kami (kepada Salm bin Qutaybah), dari Aŷûb bin Abî Tamîmah, dari Abû Qilâbah (nama sebenarnya yaitu: 'Abdullâh bin Zaid bin 'Amrû bin Nâtil), dari Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ (nama lainnya: Jurtsûm, dan sebagainya), dia (Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ) berkata: "RASÛLULLÂH SAW. PERNAH DITANYA TENTANG PERIUK (KUALI) ORANG MAJÛSI?". Beliau SAW. bersabda: "CUCILAH HINGGA BERSIH PERIUK (KUALI ORANG MAJÛSI) ITU, dan memasaklah dengan Periuk (Kuali Orang Majûsi) itu. Lalu beliau SAW. melarang (mengkonsumsi) tujuh Binatang Buas (seperti: Singa, Macan, Serigala, Harimau, dan sebagainya)". {HR. At-Tirmidzî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (No. Hadis: 1482 dan 1718). Dan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (No. Hadis: 17065)}.[2]







Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts al-Bukhârî meriwayatkan dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (No. Hadis: 5073):
حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ, قَالَ: حَدَّثَنِيْ يَزِيْدُ بْنُ أَبِيْ عُبَيْدٍ, عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ, قَالَ: لَمَّا أَمْسَوْا يَوْمَ فَتَحُوْا خَيْبَرَ, أَوْقَدُوْا النِّيْرَانَ. قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَامَ أَوْقَدْتُمْ هَذِهِ النِّيْرَانَ؟. قَالُوْا: لُحُوْمِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ. قَالَ: أَهْرِيْقُوْا مَا فِيْهَا, وَاكْسِرُوْا قُدُوْرَهَا. فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ, فَقَالَ: نُهَرِيْقُ مَا فِيْهَا, وَنَغْسِلُهَا. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْ ذَاكَ.
"Al-Makkŷ bin Ibrâhîm telah bercerita kepada kami (kepada al-Bukhârî), dia (al-Makkŷ bin Ibrâhîm) berkata: "Yazîd bin Abî 'Ubaid telah bercerita kepada saya (kepada al-Makkŷ bin Ibrâhîm), dari Salamah bin 'Amrû bin al-Akwa', dia (Salamah bin 'Amrû bin al-Akwa') berkata: "Ketika Sore hari tiba, pada saat penaklukan Khaybar, mereka (para Shahabat) menyalakan (menghidupkan) Api". Nabi SAW. berkata: "Ada gerangan apa menyalakan (menghidupkan) Api?". Mereka (para Shahabat) berkata: "Untuk menggoreng (ataupun memanggang) Daging Keledai Betina". Beliau SAW. berkata: "Bakarlah Daging Keledai Betina itu. Dan Rusaklah PERIUK (KUALI) TERSEBUT (karena Periuk/ Kuali tersebut biasa digunakan untuk memasak Bangkai)". Maka berdirilah salah satu Shahabat, lalu ia (salah satu Shahabat) berkata: "Kita (para Shahabat) bakar Daging Keledai Betina tersebut. DAN KITA (PARA SHAHABAT) CUCI SAJA PERIUK (KUALI) ITU". BELIAU SAW. BERKATA: "ATAU SEPERTI ITU (MAKSUDNYA: NABI SAW. SETUJU DENGAN IDE DAN PENDAPAT SALAH SATU SHAHABAT TERSEBUT)". {HR. Al-Bukhârî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (No. Hadis: 5073, 5682, dan 5856). Dan al-Bayhaqî dalam as-Sunan al-Kubrânya (No. Hadis: 11553)}.[3]







Al-Imâm al-Hâfizh at-Tirmidzî meriwayatkan dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (No. Hadis: 1483):
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ, قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ, عَنْ حَيْوَةَ بْنِ شُرَيْحٍ, قَالَ: سَمِعْتُ رَبِيْعَةَ بْنَ يَزِيْدَ الدِّمَشْقِيَّ يَقُوْلُ: أَخْبَرَنِيْ أَبُوْ إِدْرِيْسَ الْخَوْلَانِيُّ عَائِذُ اللهِ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ, قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ يَقُوْلُ: أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّا بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ, نَأْكُلُ فِيْ آنِيَتِهِمْ؟. قَالَ: إِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَ آنِيَتِهِمْ, فَلَا تَأْكُلُوْا فِيْهَا. فَإِنْ لَّمْ تَجِدُوْا, فَاغْسِلُوْهَا, وَكُلُوْا فِيْهَا.

قَالَ أَبُوْ عِيْسَى: هَذَا حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ.
"Hannâd bin as-Sarŷ telah bercerita kepada kami (kepada at-Tirmidzî), dia (Hannâd bin as-Sarŷ) berkata: "'Abdullâh bin al-Mubârak telah bercerita kepada kami (kepada Hannâd bin as-Sarŷ), dari Haywah bin Syuraih, dia (Haywah bin Syuraih) berkata: "Saya (Haywah bin Syuraih) telah mendengar Rabî'ah bin Yazîd ad-Dimasyqî berkata: "Abû Idrîs al-Khawlânŷ 'Âidzullâh bin 'Ubaidillâh telah mengabarkan saya (mengabarkan Rabî'ah bin Yazîd ad-Dimasyqî), dia (Abû Idrîs al-Khawlânŷ 'Âidzullâh bin 'Ubaidillâh) berkata: "Saya (Abû Idrîs al-Khawlânŷ 'Âidzullâh bin 'Ubaidillâh) telah mendengar Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ (nama lainnya: Jurtsûm, dan sebagainya) berkata: "Pada suatu saat, saya (Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ) datang menemui Rasûlullâh SAW; seraya berkata: "Wahai Rasûlullâh SAW; sesungguhnya KITA (NABI SAW. DAN PARA SHAHABAT) SEKARANG BERADA DI DAERAH (WILAYAH) AHLI AL-KITÂB, APAKAH KITA (NABI SAW. DAN PARA SHAHABAT) MAKAN DENGAN BEJANA-BEJANA MEREKA?". Beliau SAW. bersabda: "Jika kalian (para Shahabat) mendapatkan Bejana-bejana selain Bejana-bejana mereka (selain Bejana-bejana Ahli al-Kitâb), maka janganlah kalian (para Shahabat) makan dengan Bejana-bejana mereka (Bejana-bejana Ahli al-Kitâb). JIKA KALIAN (PARA SHAHABAT) TIDAK MENDAPATKAN BEJANA-BEJANA SELAIN BEJANA-BEJANA AHLI AL-KITÂB, MAKA CUCILAH (HINGGA BERSIH DAN SUCI) BEJANA-BEJANA AHLI AL-KITÂB TERSEBUT; setelah itu makanlah kalian (para Shahabat) dengan Bejana-bejana Ahli al-Kitâb tersebut".


"Al-Imâm al-Hâfizh at-Tirmidzî berkata: "Hadis ini (berkualitas) Hasan Shahîh". {HR. At-Tirmidzî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (No. Hadis: 1483). Bukhârî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (No. Hadis: 5056, 5065, dan 5072). Muslim dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li Muslimnya (No. Hadis: 3567). Ahmad bin Hanbal dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (No. Hadis: 17085). Ibnu Mâjah dalam Sunan Ibn Mâjahnya (No. Hadis: 3198). Ad-Dârimî dalam Sunan ad-Dârimînya (No. Hadis: 2387). Abû 'Awânah dalam Mustakhraj Abî 'Awânahnya (No. Hadis: 7584). Abû Hanîfah dalam Musnad Abî Hanîfahnya (halaman: 215-216). Dan al-Baghawî dalam Syarh as-Sunnahnya (No. Hadis: 2771)}.[4]







Al-Imâm al-Hâfizh Abû Dâwud meriwayatkan dalam Sunan Abî Dâwudnya (No. Hadis: 3342):
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَاصِمٍ, قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبٍ, قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْعَلَاءِ بْنِ زَبْرٍ, عَنْ أَبِيْ عُبَيْدِ اللهِ مُسْلِمِ بْنِ مِشْكَمٍ, عَنْ أَبِيْ ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ, أَنَّهُ سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, قَالَ: إِنَّا نُجَاوِرُ أَهْلَ الْكِتَابِ, وَهُمْ يَطْبُخُوْنَ فِيْ قُدُوْرِهِمُ الْخِنْزِيْرَ, وَيَشْرَبُوْنَ فِيْ آنِيَتِهِمُ الْخَمْرَ؟. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا, فَكُلُوْا فِيْهَا, وَاشْرَبُوْا. وَإِنْ لَّمْ تَجِدُوْا غَيْرَهَا, فَارْحَضُوْهَا بِالْمَاءِ. وَكُلُوْا, وَاشْرَبُوْا.
"Nashr bin 'Âshim telah bercerita kepada kami (kepada Abû Dâwud), dia (Nashr bin 'Âshim) berkata: "Muhammad bin Syu'aib telah bercerita kepada kami (kepada Nashr bin 'Âshim), dia (Muhammad bin Syu'aib) berkata: "'Abdullâh bin al-'Alâ bin Zabr telah mengabarkan kami (mengabarkan Muhammad bin Syu'aib), dari Abî 'Ubaidillâh Muslim bin Misykam, dari Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ (nama lainnya: Jurtsûm, dan sebagainya), bahwasannya ia (Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ) bertanya kepada Rasûlullâh SAW. Ia (Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ) berkata: "Bagaimana kita (Kaum Muslimîn) bisa hidup berdampingan dengan AHLI AL-KITÂB, SEDANGKAN MEREKA (AHLI AL-KITÂB) MEMASAK DAGING BABI DI PERIUK (KUALI) MEREKA. DAN MEREKA (AHLI AL-KITÂB) MEMINUM KHAMR (SEGALA MINUMAN YANG MEMABUKKAN) DI BEJANA-BEJANA MEREKA?". Kemudian Rasûlullâh SAW. bersabda: "Jika kalian (para Shahabat) mendapatkan Bejana-bejana selain Bejana-bejana mereka (selain Bejana-bejana Ahli al-Kitâb), maka makan dan minumlah kalian (para Shahabat) dengan Bejana-bejana tersebut. JIKA KALIAN (PARA SHAHABAT) TIDAK MENDAPATKAN BEJANA-BEJANA SELAIN BEJANA-BEJANA AHLI AL-KITÂB, MAKA CUCILAH DENGAN AIR (HINGGA BERSIH DAN SUCI) BEJANA-BEJANA AHLI AL-KITÂB TERSEBUT. Setelah itu makan dan minumlah kalian (para Shahabat) dengan Bejana-bejana Ahli al-Kitâb tersebut". {HR. Abû Dâwud dalam Sunan Abî Dâwudnya (No. Hadis: 3342). At-Tirmidzî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (No. Hadis: 1484 dan 1719). Ahmad bin Hanbal dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (No. Hadis: 17071 dan 17083). Ath-Thabarânî dalam Musnad asy-Syâmiŷînnya (No. Hadis: 783). Dan al-Bayhaqî dalam as-Sunan al-Kubrânya (No. Hadis: 133)}.[5]







Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (No. Hadis: 17067):
حَدَّثَنَا يَزِيْدُ, قَالَ: حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ أَرْطَأَةَ, عَنْ مَكْحُوْلٍ, عَنْ أَبِيْ ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ, يَقُوْلُ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّا أَهْلُ صَيْدٍ. فَقَالَ: إِذَا أَرْسَلْتَ كَلْبَكَ, وَذَكَرْتَ اسْمَ اللهِ, فَأَمْسَكَ عَلَيْكَ, فَكُلْ. قَالَ, قُلْتُ: وَإِنْ قَتَلَ؟. قَالَ: وَإِنْ قَتَلَ. قَالَ, قُلْتُ: إِنَّا أَهْلُ رَمْيٍ. قَالَ: مَا رَدَّتْ عَلَيْكَ قَوْسُكَ, فَكُلْ. قَالَ, قُلْتُ: إِنَّا أَهْلُ سَفَرٍ, نَمُرُّ بِالْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوْسِ, وَلَا نَجِدُ غَيْرَ آنِيَتِهِمْ؟. قَالَ: فَإِنْ لَّمْ تَجِدُوْا غَيْرَهَا, فَاغْسِلُوْهَا بِالْمَاءِ. ثُمَّ كُلُوْا فِيْهَا, وَاشْرَبُوْا.
"Yazîd bin Hârûn telah bercerita kepada kami (kepada Ahmad bin Hanbal), dia (Yazîd bin Hârûn) berkata: "Haĵâj bin Arthâh telah bercerita kepada kami (kepada Yazîd bin Hârûn), dari Makhûl asy-Syâmŷ, dari Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ (nama lainnya: Jurtsûm, dan sebagainya), dia (Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ) berkata: "Saya (Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ) berkata: "Wahai Rasûlullâh SAW; sesungguhnya kami (para Shahabat) adalah para Pemburu". Beliau SAW. bersabda: "Apabila kalian (para Shahabat) mengirim Anjing Pemburu kalian, sedangkan kalian (para Shahabat) menyebut Nama Allâh SWT; kemudian Binatang Buruan itu berhasil kalian (para Shahabat) tangkap, maka makanlah (hasil buruan kalian)". Dia (Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ) berkata: "Saya (Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ) berkata: "Walaupun Binatang Buruan tersebut telah mati?". Beliau SAW. berkata: "Walaupun Binatang Buruan tersebut telah mati (maka kalian halâl memakan hasil buruan kalian)". Dia (Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ) berkata: "Saya (Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ) berkata: "Kami (para Shahabat) adalah para Pemanah". Beliau SAW. berkata: "Apa saja yang kalian (para Shahabat) peroleh (dapat) dari bidikan Busur Panah kalian, maka makanlah hasil buruan kalian". Dia (Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ) berkata: "Saya (Abû Tsa'labah al-Khusyanŷ) berkata: "Kami (para Shahabat) adalah para Musâfir, kami melewati (PERKAMPUNGAN) YAHÛDI, NASHRANI DAN MAJÛSI, dan kami (para Shahabat) tidak mendapatkan Bejana-bejana selain Bejana-bejana mereka (selain Bejana-bejana Orang-orang Yahûdi, Nashrani dan Majûsi)?". Beliau SAW. bersabda: "JIKA KALIAN (PARA SHAHABAT) TIDAK MENDAPATKAN BEJANA-BEJANA SELAIN BEJANA-BEJANA MEREKA (SELAIN BEJANA-BEJANA ORANG-ORANG YAHÛDI, NASHRANI DAN MAJÛSI), MAKA CUCILAH DENGAN AIR (HINGGA BERSIH DAN SUCI) BEJANA-BEJANA MEREKA (BEJANA-BEJANA ORANG-ORANG YAHÛDI, NASHRANI DAN MAJÛSI). Setelah itu makan dan minumlah kalian (para Shahabat) dengan Bejana-bejana mereka (dengan Bejana-bejana Orang-orang Yahûdi, Nashrani dan Majûsi)". {HR. Ahmad bin Hanbal dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (No. Hadis: 17067). Dan at-Tirmidzî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (No. Hadis: 1384)}.[6]










PENJELASAN (mengenai Hadis-hadis di atas):
Saya (Jati Sarwo Edi) berpendapat bahwa: "Hadis-hadis di atas memiliki dua (2) substansi (kandungan):
1.    Rasûlullâh SAW. memberi RUKHSHAH (keringanan) kepada seluruh Kaum Muslimîn dalam menggunakan BEJANA NON-MUSLIM, dengan syarat HARUS DICUCI (hingga bersih dan suci) terlebih dahulu sebelum digunakan. Hal tersebut berdasarkan Zhâhir Ketiga Hadis Pertama di atas. Serta berdasarkan Pendapat al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânŷ dalam Fath al-Bârŷ bi Syarh Shahîh al-Bukhârînya (No. Hadis: 5056). Ia (al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânŷ) berkata: "Zhâhir Hadis-hadis di atas (sebagaimana berikut): "Rasûlullâh SAW. memerintahkan untuk mencuci (hingga bersih) Bejana Non-Muslim yang akan digunakan, karena dengan mencuci (hingga bersih) Bejana Non-Muslim tersebut, maka Bejana Non-Muslim tersebut menjadi suci (dan bersih). Sedangkan Rasûlullâh SAW. memerintahkan untuk menjauhi (tidak memakai) Bejana Non-Muslim, karena Bejana Non-Muslim tersebut kotor dan menjijikkan. (Oleh karena itu), menggunakan Bejana Non-Muslim tanpa dicuci (hingga bersih) terlebih dahulu hukumnya MAKRÛH (dibenci Allâh SWT). Dan Rasûlullâh SAW. memperbolehkan menggunakan Bejana Non-Muslim (pada Ketiga Hadis Pertama di atas), walaupun ada Bejana yang lain, dengan Syarat harus dicuci (hingga bersih) terlebih dahulu; karena Hal tersebut merupakan RUKHSHAH (keringanan) yang diberikan Nabi SAW. kepada seluruh Kaum Muslimîn".

2.    Rasûlullâh SAW. memberi RUKHSHAH (keringanan) kepada seluruh Kaum Muslimîn dalam menggunakan BEJANA NON-MUSLIM, dengan syarat: a). TIDAK ADA BEJANA LAIN kecuali Bejana Non-Muslim. b). Bejana Non-Muslim tersebut HARUS DICUCI (hingga bersih dan suci) terlebih dahulu sebelum digunakan. Hal tersebut berdasarkan Zhâhir Ketiga Hadis Terakhir di atas. Serta berdasarkan Pendapat al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hazm, yang dikutip oleh al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânŷ dalam Fath al-Bârŷ bi Syarh Shahîh al-Bukhârînya (No. Hadis: 5056). Ia (al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hazm) berkata: "Tidak boleh (dilarang) menggunakan Bejana Non-Muslim, kecuali dengan dua (2) Syarat: 1. Tidak ada Bejana lain kecuali Bejana Non-Muslim. 2. Bejana Non-Muslim tersebut harus dicuci (hingga bersih dan suci) terlebih dahulu sebelum digunakan".










KESIMPULAN:
Dari Penjelasan dan Dalil-dalil yang telah saya (Jati Sarwo Edi) kemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa: "Rasûlullâh SAW. memberi RUKHSHAH (keringanan) kepada seluruh Kaum Muslimîn dalam menggunakan BEJANA NON-MUSLIM, dengan syarat HARUS DICUCI (hingga bersih dan suci) terlebih dahulu sebelum digunakan. Rasûlullâh SAW. juga memberi RUKHSHAH (keringanan) kepada seluruh Kaum Muslimîn dalam menggunakan BEJANA NON-MUSLIM, dengan syarat: 1. TIDAK ADA BEJANA LAIN kecuali Bejana Non-Muslim. 2. Bejana Non-Muslim tersebut HARUS DICUCI (hingga bersih dan suci) terlebih dahulu sebelum digunakan".


Wa Allâh A'lâm bi ash-Shaŵâb























[1] Hadis riwayat al-Imâm al-Hâfizh al-Bazzâr di atas berkualitas shahîh, karena semua perawinya tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Hadis riwayat al-Imâm al-Hâfizh al-Bazzâr di atas di-shahîh-kan oleh: al-Imâm al-Hâfizh al-Haytsamî dalam Majma' az-Zawâid wa Manba' al-Fawâidnya (No. Hadis: 1094). Dan di-shahîh-kan oleh: al-Imâm al-Hâfizh an-Nawawî dalam Khulâshah al-Ahkâm fî Muhimmât as-Sunan wa Qawâ'id al-Islâmnya (No. Hadis: 75). Serta dinilai Shahîh oleh: al-Hâfizh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî dalam Shahîh wa Dha'îf Sunan Abî Dâwudnya (No. Hadis: 3838).

[2] Hadis riwayat al-Imâm al-Hâfizh at-Tirmidzî di atas berkualitas shahîh, karena semua perawinya tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Hadis riwayat al-Imâm al-Hâfizh at-Tirmidzî di atas di-shahîh-kan oleh: al-Imâm al-Hâfizh al-Mizzŷ dalam Tuhfah al-Asyrâf bi Ma'rifah al-Athrâfnya (No. Hadis: 11880). Dan dinilai Shahîh oleh: al-Hâfizh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî dalam Shahîh wa Dha'îf Sunan at-Tirmidzînya (No. Hadis: 1560 dan 1796).

[3] Hadis riwayat Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts al-Bukhârî di atas berkualitas shahîh, karena diriwayatkan oleh: Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts al-Bukhârî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (No. Hadis: 5073, 5682, dan 5856).

[4] Hadis riwayat al-Imâm al-Hâfizh at-Tirmidzî di atas adalah Hadis Muttafaq 'Alayh, karena diriwayatkan dan disepakati bersama oleh: Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts al-Bukhârî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (No. Hadis: 5056, 5065, dan 5072). Dan Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts Muslim dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li Muslimnya (No. Hadis: 3567).

[5] Hadis riwayat al-Imâm al-Hâfizh Abû Dâwud di atas berkualitas shahîh, karena semua perawinya tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Hadis riwayat al-Imâm al-Hâfizh Abû Dâwud di atas dinilai Hasan Shahîh oleh: al-Imâm al-Hâfizh at-Tirmidzî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (No. Hadis: 1719). Serta dinilai Shahîh oleh: al-Hâfizh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî dalam Shahîh wa Dha'îf Sunan Abî Dâwudnya (No. Hadis: 3839).

[6] Hadis riwayat Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts Ahmad bin Hanbal di atas berkualitas shahîh, karena semua perawinya tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Hadis riwayat Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts Ahmad bin Hanbal di atas dinilai Hasan Shahîh oleh: al-Imâm al-Hâfizh at-Tirmidzî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (No. Hadis: 1384). Serta dinilai Shahîh oleh: al-Hâfizh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî dalam Shahîh wa Dha'îf Sunan at-Tirmidzînya (No. Hadis: 1464).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar