Senin, 01 April 2013

Asbâbun Nuzûl Surat al-Baqarah (2), Ayat: 219

Asbâbun Nuzûl Surat al-Baqarah (2), Ayat: 219

يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيْهِمَا إِثْمٌ كَبِيْرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَالِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ (٢١٩)
219. Mereka bertanya kepadamu (wahai Nabi Muhammad) tentang Khamr[1] dan Judi. Katakanlah (wahai Nabi Muhammad): "Pada keduanya (pada Khamr dan Judi) terdapat Dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, akan tetapi dosa keduanya (Dosa mengkonsumsi Khamr dan berjudi) lebih besar daripada manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Nabi Muhammad): "Apa yang mereka nafkahkan?". Katakanlah (wahai Nabi Muhammad): "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allâh SWT. menerangkan Ayat-ayat-Nya kepada kalian, supaya kalian berfikir.







Al-Imâm al-Hâfizh[2] at-Tirmidzî[3] meriwayatkan dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (No. Hadis: 2975):
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ, قَالَ: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوْسُفَ, قَالَ: أَخْبَرَنَا إِسْرَائِيْلُ, قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُوْ إِسْحَقَ, عَنْ عَمْرِو بْنِ شُرَحْبِيْلَ أَبِيْ مَيْسَرَةَ, عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ, أَنَّهُ قَالَ: اللَّهُمَّ بَيِّنْ لَنَا فِي الْخَمْرِ بَيَانَ شِفَاءٍ. فَنَزَلَتْ الَّتِيْ فِي الْبَقَرَةِ: (يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ..........), الْآيَةَ. فَدُعِيَ عُمَرُ, فَقُرِئَتْ عَلَيْهِ, فَقَالَ: اللَّهُمَّ بَيِّنْ لَنَا فِي الْخَمْرِ بَيَانَ شِفَاءٍ. فَنَزَلَتْ الَّتِيْ فِيْ النِّسَاءِ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لَا تَقْرَبُوْا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى...........). فَدُعِيَ عُمَرُ, فَقُرِئَتْ عَلَيْهِ, ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ بَيِّنَ لَنَا فِي الْخَمْرِ بَيَانَ شِفَاءٍ. فَنَزَلَتْ الَّتِيْ فِي الْمَائِدَةِ: (إِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ.........) إِلَى قَوْلِهِ: (.........فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُوْنَ). فَدُعِيَ عُمَرُ, فَقُرِئَتْ عَلَيْهِ, فَقَالَ: انْتَهَيْنَا, انْتَهَيْنَا.
"'Abdullâh bin 'Abdirrahmân[4] telah bercerita kepada kami (kepada at-Tirmidzî), dia ('Abdullâh bin 'Abdirrahmân) berkata: "Muhammad bin Yûsuf[5] telah mengabarkan kami (mengabarkan 'Abdullâh bin 'Abdirrahmân), dia (Muhammad bin Yûsuf) berkata: "Isrâîl bin Yûnus[6] telah mengabarkan kami (mengabarkan Muhammad bin Yûsuf), dia (Isrâîl bin Yûnus) berkata: "Abû Ishâq[7] telah bercerita kepada kami (kepada Isrâîl bin Yûnus), dari 'Amrû bin Syurahbîl Abî Maysarah[8], dari 'Umar bin al-Khaththâb[9], bahwasannya dia ('Umar bin al-Khaththâb) berdoa: "Ya Allâh ya Tuhan kami, jelaskanlah Khamr kepada kami (kepada 'Umar bin al-Khaththâb) dengan penjelasan (yang tepat dan) dapat menjadi obat (dapat memberikan kesembuhan)". Maka turunlah Surat al-Baqarah, Ayat: 219:
يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ........... (٢١٩)
219. Mereka bertanya kepadamu (wahai Nabi Muhammad) tentang Khamr dan Judi….………".



"('Amrû bin Syurahbîl Abî Maysarah melanjutkan periwayatannya): "Kemudian 'Umar bin al-Khaththâb diseru (dengan turunnya Surat al-Baqarah, Ayat: 219), dan dibacakan (Surat al-Baqarah, Ayat: 219) kepadanya (kepada 'Umar bin al-Khaththâb). Lalu ia ('Umar bin al-Khaththâb) kembali berdoa: "Ya Allâh ya Tuhan kami, jelaskanlah Khamr kepada kami (kepada 'Umar bin al-Khaththâb) dengan penjelasan (yang tepat dan) dapat menjadi obat (dapat memberikan kesembuhan)". Maka turunlah Surat an-Nisâ, Ayat: 43:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَقْرَبُوْا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى ........... (٤٣)
43. Wahai orang-orang yang Beriman, janganlah kalian shalat, sedangkan kalian dalam keadaan mabuk……………".



"('Amrû bin Syurahbîl Abî Maysarah melanjutkan periwayatannya): "Kemudian 'Umar bin al-Khaththâb diseru (dengan turunnya Surat an-Nisâ, Ayat: 43), dan dibacakan (Surat an-Nisâ, Ayat: 43) kepadanya (kepada 'Umar bin al-Khaththâb). Lalu ia ('Umar bin al-Khaththâb) kembali berdoa: "Ya Allâh ya Tuhan kami, jelaskanlah Khamr kepada kami (kepada 'Umar bin al-Khaththâb) dengan penjelasan (yang tepat dan) dapat menjadi obat (dapat memberikan kesembuhan)". Maka turunlah Surat al-Mâidah, Ayat: 91:
إِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُوْنَ (٩١)
91. Sesungguhnya Syaithân itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (mengkonsumsi) Khamr dan Berjudi; dan menghalangi kalian dari mengingat Allâh dan Shalat. Maka berhentilah kalian (dari mengkonsumsi Khamr dan berjudi)".



"('Amrû bin Syurahbîl Abî Maysarah melanjutkan periwayatannya): "Kemudian 'Umar bin al-Khaththâb diseru (dengan turunnya Surat al-Mâidah, Ayat: 91), dan dibacakan (Surat al-Mâidah, Ayat: 91) kepadanya (kepada 'Umar bin al-Khaththâb). Lalu ia ('Umar bin al-Khaththâb) berkata: "Kami ('Umar bin al-Khaththâb) berhenti (mengkonsumsi Khamr, dan berhenti meminta penjelasan yang tepat mengenai Khamr); kami ('Umar bin al-Khaththâb) berhenti (mengkonsumsi Khamr, dan berhenti meminta penjelasan yang tepat mengenai Khamr)".





KETERANGAN (dari para Muhadditsîn[10]):
Hadis di atas berkualitas shahîh[11], karena semua rawinya tsiqqât[12].
  1. Al-Imâm al-Hâfizh Abû Dâwud[13] juga meriwayatkan melalui jalur sanad Ismâ'îl bin Ja'far bin Abî Katsîr dalam Sunan Abî Dâwudnya (No. Hadis: 3185).
  2. Al-Imâm al-Hâfizh an-Nasâ-î[14] juga meriwayatkan melalui jalur sanad 'Ubaidullâh bin Mûsâ bin Abî al-Mukhtâr Bâdzâm dalam as-Sunan ash-Shughrâ li an-Nasâînya (No. Hadis: 5445).
  3. Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts[15] Ahmad bin Hanbal[16] juga meriwayatkan melalui jalur sanad Khalaf bin al-Walîd dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (No. Hadis: 355).
  4. Al-Imâm al-Hâfizh al-Hâkim[17] juga meriwayatkan melalui jalur sanad 'Ubaidullâh bin Mûsâ bin Abî al-Mukhtâr Bâdzâm, serta melalui jalur sanad Hâritsah bin Mudharrib dalam al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhaynnya (No. Hadis: 3101 dan 7244), dan kata al-Imâm al-Hâfizh al-Hâkim: “Hadis yang ia (al-Hâkim) riwayatkan berkualitas shahîh menurut persyaratan shahîh Bukhârî dan Muslim, akan tetapi keduanya (Bukhârî dan Muslim) tidak meriwayatkan Hadis yang al-Hâkim riwayatkan”. Dan disepakati oleh al-Imâm al-Hâfizh adz-Dzahabî dalam at-Ta'lîq min Talkhîsh adz-Dzahabînya (No. Hadis: 3101 dan 7244).
  5. Al-Imâm al-Hâfizh ath-Thabarânî[18] juga meriwayatkan melalui jalur sanad Hâritsah bin Mudharrib dalam al-Mu’jam al-Awsathnya (No. Hadis: 1464).
  6. Al-Imâm al-Hâfizh al-Bayhaqî[19] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam as-Sunan al-Kubrânya (No. Hadis: 17324).
  7. Al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Abî Syaibah[20] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam al-Mushannaf Ibn Abî Syaibahnya (7/112).
  8. Al-Hâfizh Ibnu Abî Hâtim[21] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Tafsîr Ibn Abî Hâtimnya (No. Hadis: 2044, 5351, dan 6769) atau (2/388, 3/958, dan 4/1200).
  9. Al-Hâfizh Dhiyâuddîn al-Maqdisŷ[22] juga meriwayatkan melalui jalur sanad Yahyâ bin Abî Bukair bin Nasr Ibn Asîd dalam al-Ahâdîts al-Mukhtârahnya (No. Hadis: 256).
  10. Al-Imâm Ibnu Jarîr[23] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurânnya (8/658 dan 8/659).
  11. Al-Hâfizh Ibnu Katsir[24] juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîmnya (1/578)[25], dengan menyandarkan kepada Riwayat Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts Ahmad bin Hanbal dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (No. Hadis: 355).
  12. Al-Hâfizh Jalâluddîn as-Suyûthî[26] juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam ad-Durr al-Mantsûr fî at-Tafsîr bi al-Ma’tsûrnya (2/544 – 2/545)[27].
  13. Al-Imâm an-Nuhâs[28] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam an-Nâsikh wa al-Mansûkhnya (halaman: 148 - 149).







PENJELASAN (kedudukan hadis di atas):
Atsar[29] 'Umar bin al-Khaththâb di atas digolongkan Mawqûf li hukmi Marfû’, maksudnya: hadis Mawqûf[30] yang dihukumi Marfû’[31]. Karena para Muhadditsîn[32] telah bersepakat (ber-ijma') bahwa: “Ada beberapa macam Mawqûf yang dihukumi Marfû’, dan salah satunya yaitu: penafsiran para Sahabat yang berkaitan dengan sebab turunnya (asbâb an-nuzûl) suatu Ayat”.
Sebagaimana penjelasan para Muhadditsîn tersebut, maka Atsar 'Umar bin al-Khaththâb di atas tergolong hadis Mawqûf yang dihukumi Marfû’ oleh para Muhadditsîn, sehingga (hadis 'Umar bin al-Khaththâb di atas) dapat dijadikan sebagai huĵah (pedoman/ landasan) dalam Syara’ (Islâm).







PENJELASAN (mengenai Hadis di atas):
Hadis riwayat al-Imâm al-Hâfizh at-Tirmidzî di atas berkualitas Shahîh. Hadis riwayat al-Imâm al-Hâfizh at-Tirmidzî di atas di-shahîh-kan oleh:
  1. Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts 'Alî bin al-Madînî[33] dan al-Imâm al-Hâfizh at-Tirmidzî, sebagaimana dikutip oleh al-Hâfizh al-Mubârakfûrî dalam Tuhfah al-Ahwadzî bi Syarh Jâmi' at-Tirmidzînya (No. Hadis: 2975).
  2. Al-Imâm al-Hâfizh adz-Dzahabî[34] dalam at-Ta'lîq min Talkhîsh adz-Dzahabînya (No. Hadis: 3101 dan 7244).
  3. Al-Imâm al-Hâfizh al-Hâkim dalam al-Mustadrak 'alâ ash-Shahîhaynnya (No. Hadis: 3101 dan 7244).
  4. Al-Hâfizh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî dalam Shahîh wa Dha'îf Sunan at-Tirmidzînya (No: 3049).
                                                           






KESIMPULAN:
Surat al-Baqarah (2), Ayat: 219 diturunkan mengenai:
"Al-Fârûq Amîr al-Mu'minîn 'Umar bin al-Khaththâb yang berdoa meminta penjelasan yang tepat (dan akurat) mengenai Khamr (yaitu: Segala minuman yang memabukkan) kepada Allâh SWT".







BIBLIOGRAFI

Ad-Durr al-Mantsûr fî at-Tafsîr bi al-Ma’tsûr (al-Hâfizh as-Suyûthî/ ‘Abdurrahmân
bin Abî Bakr).
Al-Ahâdîts al-Mukhtârah (al-Hâfizh Dhiyâuddîn al-Maqdisŷ/ Muhammad bin 'Abdul
Wâhid bin Ahmad bin 'Abdurrahmân).
Al-Mu’jam al-Kabîr (al-Imâm al-Hâfizh ath-Thabarânî/ Sulaimân bin Ahmad bin
Aŷûb bin Muthîr).
Al-Mushannaf Ibn Abî Syaibah (al-Imâm al-Hâfizh Abû Bakr bin Abî Syaibah/
'Abdullâh bin Muhammad bin Ibrâhîm bin 'Utsmân bin Khuwâstŷ).
Al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhayn (al-Imâm al-Hâfizh al-Hâkim/ Muhammad bin
'Abdullâh bin Muhammad bin Hamdawaih bin Nu'aim bin al-Hakim).
An-Nâsikh wa al-Mansûkh (al-Imâm an-Nuhâs/ Ahmad bin Muhammad bin Ismâ'îl
bin Yûnus).
As-Sunan al-Kubrâ li al-Bayhaqî (al-Imâm al-Hâfizh al-Bayhaqî/ Ahmad bin
al-Husain bin 'Alî bin Mûsâ bin 'Abdullâh).
As-Sunan ash-Shughrâ li an-Nasâî (al-Imâm al-Hâfizh an-Nasâ-î/ Ahmad bin Syu’aib
bin ‘Alî bin Sunân bin Bahr).
Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân (al-Imâm Ibnu Jarîr/ Muhammad bin Jarîr bin
Yazîd bin Katsîr bin Ghâlib).
Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbal (Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts Ahmad bin
Hanbal/ Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilâl bin Asad).
Sunan Abî Dâwud (al-Imâm al-Hâfizh Abû Dâwud/ Sulaimân bin al-Asy’ats bin
Syadâd bin ‘Amrû bin ‘Âmir).
Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm (al-Hâfizh Ibnu Katsîr/ Ismâ’îl bin ‘Amr bin Katsîr).
Tafsîr Ibn Abî Hâtim (al-Hâfizh Ibnu Abî Hâtim/ ‘Abdurrahmân bin Abî Hâtim).






























[1] Khamr yaitu: "Segala minuman yang memabukkan".

[2] Al-Hâfizh adalah: Gelar ahli hadis yang dapat men-shahîh-kan sanad serta matan hadis, dan dapat men-ta’dîl-kan dan men-jarh-kan para perawi hadis, serta seorang Hâfizh itu harus mempunyai kapasitas menghafal 100.000 hadis. Contoh para Huffâzh: Ahmad bin Hanbal, Yahyâ bin Ma’în, ‘Alî bin al-Madînî, Bukhârî, Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, ad-Dârimî, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, ad-Dâraquthnî, ath-Thabarânî, al-Bayhaqî, al-Hâkim, Zainuddîn ‘Abdurrahîm al-‘Irâqî, Syarafuddîn ad-Dimyâthî, Ibnu Hajar al-‘Asqalânî, al-Mizzî, al-Haytsamî, adz-Dzahabî, Abû Zur’ah ar-Râzî, Abû Hâtim ar-Râzî, Ibnu Hazm, Ibnu Abî Hâtim, Ibnu ‘Adî, Ibnu al-Mundzir, Ibnu ‘Abdul Bar, Ibnu Katsîr, Ibnu as-Sakan, Ibnu Daqîq al-'Îd, Jalâluddîn as-Suyûthî, Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, dan sebagainya.

[3] Nama sebenarnya yaitu: Muhammad bin 'Îsâ bin Saurah bin Mûsâ bin adh-Dhaĥâk. Ia (at-Tirmidzî) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ junior. Dan ia (at-Tirmidzî) juga merupakan seorang tsiqqah al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (at-Tirmidzî) juga seorang pakar hadîts (hadis) dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: as-Sulamî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Îsâ. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh at-Tirmidzî. Ia (at-Tirmidzî) lahir di Turmudzî (Kota kecil yang terletak di sebelah Utara negara Iran) pada tahun 209 atau 210 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Turmudzî. Ia (at-Tirmidzî) wafat pada tahun 279 Hijriyah di daerah Bugh, yaitu suatu daerah yang dekat dengan daerah Turmudzî.

[4] Nama lengkapnya yaitu: 'Abdullâh bin 'Abdirrahmân bin al-Fadhal bin Bahrâm. Ia (ad-Dârimŷ) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ pertengahan. Dan ia (ad-Dârimŷ) juga merupakan seorang tsiqqah mutqan al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang kuat lagi kokoh, al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (ad-Dârimŷ) juga seorang pakar hadîts (hadis), tafsîr (tafsir), dan fiqh (fikih). Nasab (keturunan) nya yaitu: as-Samarqandŷ ad-Dârimŷ at-Tamîmŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Muhammad. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh ad-Dârimŷ. Ia (ad-Dârimŷ) lahir pada tahun 181 Hijriyah. Ia (ad-Dârimŷ) wafat pada Hari Kamis setelah 'Ashar, bertepatan pada tanggal 8 Dzûlhiĵah (Hari at-Tarwiyah) pada tahun 254 atau 255 Hijriyah; ia (ad-Dârimŷ) dikubur pada Hari Jumu'ah (Hari 'Arafah); dan ia (ad-Dârimŷ) saat itu berusia 75 tahun. {Sumber: "Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ ar-Rijâl", karya: al-Imâm al-Hâfizh al-Mizzî: (No. 3384)}. Dan {Sumber: "Tahdzîb at-Tahdzîb", karya: al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânî: (5/296)}. Serta {Sumber: "Ikmâl Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ ar-Rijâl", karya: al-Hâfizh 'Alâuddîn Mughlathŷ: (No. 3033)}.

[5] Nama lengkapnya yaitu: Muhammad bin Yûsuf bin Wâqid bin 'Utsmân. Ia (al-Firyâbî) merupakan seorang Tabi’ Tâbi’în junior. Dan ia (al-Firyâbî) juga merupakan seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Nasab (keturunan) nya yaitu: adh-Dhabbŷ al-Firyâbŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû 'Abdullâh. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh al-Firyâbŷ. Ia (al-Firyâbî) lahir pada tahun 120 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Qaysâriŷah, yang terletak di Pantai Syâm (wilayah Palestina). Ia (al-Firyâbî) wafat pada Bulan Rabî'ul Aŵal tahun 212 Hijriyah. {Sumber: "Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ ar-Rijâl", karya: al-Imâm al-Hâfizh al-Mizzî: (No. 5716)}. Dan {Sumber: "Tahdzîb at-Tahdzîb", karya: al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânî: (9/537)}. Serta {Sumber: "Sîr A'lâm an-Nubalâ", karya: al-Imâm al-Hâfizh adz-Dzahabî: (No. 11)}.

[6] Nama lengkapnya yaitu: Isrâîl bin Yûnus bin Abî Ishâq. Ia (Isrâîl bin Yûnus) merupakan seorang Tabi’ Tâbi’în senior. Dan ia (Isrâîl bin Yûnus) juga merupakan seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Nasab (keturunan) nya yaitu: as-Sabî'iŷ al-Hamdânŷ al-Kûfŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Yûsuf. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh Abû Yûsuf. Ia (Isrâîl bin Yûnus) lahir pada tahun 100 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Kûfah (wilayah Negara 'Irâq). Ia (Isrâîl bin Yûnus) wafat di Kûfah pada tahun 160 atau 161 atau 162 Hijriyah. {Sumber: "Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ ar-Rijâl", karya: al-Imâm al-Hâfizh al-Mizzî: (No. 402)}. Dan {Sumber: "Tahdzîb at-Tahdzîb", karya: al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânî: (1/263)}. Serta {Sumber: "Târîkh al-Islâm wa Wafiyât al-Masyâhîr wa al-A'lâm", karya: al-Imâm al-Hâfizh adz-Dzahabî: (No. 21)}.

[7] Nama sebenarnya yaitu: 'Amrû bin 'Abdillâh bin 'Ubaid, atau 'Amrû bin 'Abdillâh bin 'Alî, atau 'Amrû bin 'Abdillâh bin Abî Sya'îrah. Ia (Abû Ishâq) merupakan seorang Tâbi’în pertengahan. Dan ia (Abû Ishâq) juga merupakan seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Nasab (keturunan) nya yaitu: as-Sabî'iŷ al-Hamdânŷ al-Kûfŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Ishâq. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh Abû Ishâq. Ia (Abû Ishâq) lahir pada tahun 29 atau 32 atau 33 Hijriyah, pada masa Khalîfah 'Utsmân bin 'Affân. Tempat tinggalnya di Kûfah (wilayah Negara 'Irâq). Ia (Abû Ishâq) wafat di Kûfah pada tahun 126 atau 127 atau 128 atau 129 Hijriyah; ia (Abû Ishâq) pada saat itu berusia kurang lebih 100 tahun. {Sumber: "Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ ar-Rijâl", karya: al-Imâm al-Hâfizh al-Mizzî: (No. 4400)}. Dan {Sumber: "Tahdzîb at-Tahdzîb", karya: al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânî: (8/65)}. Dan {Sumber: "Sîr A'lâm an-Nubalâ", karya: al-Imâm al-Hâfizh adz-Dzahabî: (No. 180)}. Serta {Sumber: "Ikmâl Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ ar-Rijâl", karya: al-Hâfizh 'Alâuddîn Mughlathŷ: (No. 4130)}.

[8] Nama sebenarnya yaitu: 'Amrû bin Syurahbîl. Ia ('Amrû bin Syurahbîl) merupakan seorang Tâbi’în senior. Dan ia ('Amrû bin Syurahbîl) juga merupakan seorang yang tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Hamdânŷ al-Kûfŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Maysarah. Tempat tinggalnya di Kûfah (wilayah Negara 'Irâq). Ia ('Amrû bin Syurahbîl) wafat di Kûfah sebelum wafatnya Abî Juhayfah, ataupun ia ('Amrû bin Syurahbîl) wafat di Thâ'ûn 'Ubaidillâh bin Ziyâd pada tahun 61 atau 62 atau 63 Hijriyah. {Sumber: "Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ ar-Rijâl", karya: al-Imâm al-Hâfizh al-Mizzî: (No. 4383)}. Dan {Sumber: "Tahdzîb at-Tahdzîb", karya: al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânî: (8/47)}. Serta {Sumber: "Taqrîb at-Tahdzîb", karya: al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânî: (halaman: 422)}.

[9] Nama lengkapnya yaitu: 'Umar bin al-Khaththâb bin Nufail bin 'Abdul 'Uzzâ bin Rabâh bin 'Abdillâh bin Qurth bin Razâh bin 'Adî bin Ka'b. Semua Sahabat Nabi SAW. tsiqqah dan ‘âdl. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Qurasyî al-'Adwŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Hafsh. Laqab (gelar/titel) nya: al-Fârûq Amîr al-Mu'minîn. Tempat tinggalnya di Madînah. Ia ('Umar bin al-Khaththâb) wafat di Madînah, bertepatan pada Hari Rabu Bulan Dzûlhiĵah tahun 23 atau 24 Hijriyah; ia ('Umar bin al-Khaththâb) dikubur bersama Nabi SAW. di Kamar 'Âisyah binti Abû Bakar ash-Shiddîq; ia ('Umar bin al-Khaththâb) pada saat itu berusia kurang lebih 63 tahun. Sedangkan ia ('Umar bin al-Khaththâb) menjabat sebagai Khalîfah selama 10 tahun lebih 5 atau 6 bulan. {Sumber: "Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ ar-Rijâl", karya: al-Imâm al-Hâfizh al-Mizzî: (No. 4225)}. Dan {Sumber: "Tahdzîb at-Tahdzîb", karya: al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânî: (7/441)}. Serta {Sumber: "Ikmâl Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ ar-Rijâl", karya: al-Hâfizh 'Alâuddîn Mughlathŷ: (No. 3964)}.

[10] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan antara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm asy-Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.

[11] Hadis Shahîh ialah: Hadis yang bersambung (muttashil) sanadnya, diriwayatkan oleh orang yang ‘âdl (‘âdl yaitu: orang yang istiqamah dalam beragama, baik akhlaqnya, tidak fasiq dan tidak melakukan cacat muru’ah), sempurna ke-dhabith-annya, tidak ada keganjilan (syadzdz), dan tidak ada kecacatan (‘illat).

[12] Tsiqqât adalah: Para perawi hadis yang kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya.

[13] Nama sebenarnya yaitu: Sulaimân bin al-Asy’ats bin Syadâd bin ‘Amrû bin ‘Âmir. Ia (Abû Dâwud) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ dekat pertengahan. Dan ia (Abû Dâwud) juga merupakan seorang tsiqqah mutqan al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang kuat lagi kokoh, al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (Abû Dâwud) juga seorang pakar hadîts (hadis), dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Azdî as-Sijistânî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Dâwud. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh Abû Dâwud. Ia (Abû Dâwud) lahir di Sijistân (suatu Daerah yang terletak antara negara Iran dan Afghanistan) pada tahun 202 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Bashrah. Ia (Abû Dâwud) wafat di Bashrah pada tahun 275 Hijriyah.

[14] Nama sebenarnya yaitu: Ahmad bin Syu’aib bin ‘Alî bin Sunân bin Bahr. Ia (an-Nasâ-î) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ junior. Dan ia (an-Nasâ-î) juga merupakan seorang tsiqqah al-Qâdhî al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm al-Hâfizh dan seorang Hakim di Mesir). Ia (an-Nasâ-î) juga seorang pakar hadîts (hadis) dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: an-Nasâ-î an-Nasawy. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdurrahmân. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh an-Nasâ-î. Ia (an-Nasâ-î) lahir di Kota Nasâ (wilayah Khurrâsân) pada tahun 215 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Mesir. Ia (an-Nasâ-î) wafat di Ramalah (wilayah Palestina) pada tahun 303 Hijriyah; ia (an-Nasâ-î) dimakamkan di Baitul Maqdis (Palestina). Ia (an-Nasâ-î) berusia 88 tahun.

[15] Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts yaitu: "Gelar tertinggi pada masa tertentu sebagai seorang penghafal Hadis, dan mengetahui Ilmu Dirâyah dan Riwâyah Hadis, sehingga ia menjadi Imâm atau Raja Hadis yang banyak dikagumi oleh para ‘Ulamâ".

[16] Nama sebenarnya yaitu: Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilâl bin Asad. Ia (Ahmad bin Hanbal) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ senior. Dan ia (Ahmad bin Hanbal) juga merupakan seorang Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts (yaitu: "Gelar tertinggi pada masa tertentu sebagai seorang penghafal Hadis, dan mengetahui Ilmu Dirâyah dan Riwâyah Hadis, sehingga ia menjadi Imâm atau Raja Hadis yang banyak dikagumi oleh para ‘Ulamâ"). Ia (Ahmad bin Hanbal) juga seorang pakar hadîts (hadis) dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: asy-Syaibânî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdullâh. Laqab (gelar/titel) nya: Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts Ahmad Ibn Hanbal. Ia (Ahmad bin Hanbal) lahir di Baghdâd pada tahun 164 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Baghdâd. Ia (Ahmad bin Hanbal) wafat di Baghdâd pada tahun 241 Hijriyah.

[17] Nama sebenarnya yaitu: Muhammad bin 'Abdullâh bin Muhammad bin Hamdawaih bin Nu'aim bin al-Hakim. Dan ia (al-Hâkim) merupakan seorang tsiqqah al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm, dan al-Hâfizh). Ia (al-Hâkim) juga seorang pakar hadîts (hadis), dan târîkh (sejarah). Nasab (keturunan) nya yaitu: adh-Dhabŷ an-Naysâbûrî asy-Syâfi’iŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû 'Abdullâh. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh al-Hâkim. Ia (al-Hâkim) lahir pada tahun 321 Hijriyah. Ia (al-Hâkim) wafat pada tahun 405 Hijriyah.

[18] Nama sebenarnya yaitu: Sulaimân bin Ahmad bin Aŷûb bin Muthîr. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Lakhamî asy-Syâmî ath-Thabarânî. Ia (ath-Thabarânî) adalah seorang tsiqqah al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (ath-Thabarânî) juga seorang pakar tafsîr (tafsir) dan hadîts (hadis). Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû al-Qâsim. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh ath-Thabarânî. Ia (ath-Thabarânî) lahir di Thabariŷah (wilayah Palestina) pada tahun 260 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Ishfahân. Ia (ath-Thabarânî) wafat di Ishfahân pada tahun 360 Hijriyah.

[19] Nama sebenarnya yaitu: Ahmad bin al-Husain bin 'Alî bin Mûsâ bin 'Abdullâh. Ia (al-Bayhaqî) merupakan seorang tsiqqah al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (al-Bayhaqî) juga seorang pakar hadîts (hadis) dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Bayhaqî al-Khisrûjirdŷ al-Khurrâsânŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Bakr. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh al-Bayhaqî. Ia (al-Bayhaqî) lahir di Khisrûjird (salah satu Desa yang terdapat di Bayhaq, wilayah Naysâbûr) di Bulan Sya'bân pada tahun 384 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Naysâbûr (Kota kecil yang ada di negara Iran). Ia (al-Bayhaqî) wafat di Naysâbûr pada hari kesepuluh Jumâdâl Ûlâ tahun 458 Hijriyah.

[20] Nama sebenarnya yaitu: 'Abdullâh bin Muhammad bin Ibrâhîm bin 'Utsmân bin Khuwâstŷ. Ia (Ibnu Abî Syaibah) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ senior. Ia (Ibnu Abî Syaibah) juga merupakan seorang tsiqqah al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (Ibnu Abî Syaibah) juga seorang pakar hadîts (hadis) terkemuka. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-'Absŷ al-Kûfŷ al-Wâsithiŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Bakr. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh Abû Bakr Ibn Abî Syaibah. Ia (Ibnu Abî Syaibah) lahir pada tahun 159 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Kûfah (Kota yang ada di negara 'Irâq). Ia (Ibnu Abî Syaibah) wafat di Kûfah pada Bulan Muharram tahun 235 Hijriyah. {Sumber: "Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ ar-Rijâl", karya: al-Imâm al-Hâfizh al-Mizzî: (No. 197)}. Dan {Sumber: "Tahdzîb at-Tahdzîb", karya: al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânî: (6/4)}.

[21] Nama lengkapnya yaitu: ‘Abdurrahmân bin Abî Hâtim. Ia (Ibnu Abî Hâtim) adalah seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Nasab (keturunan) nya yaitu: ar-Râzî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Muhammad. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh Ibn Abî Hâtim. Ia (Ibnu Abî Hâtim) adalah pakar tafsîr (tafsir) dan hadîts (hadis). Ia (Ibnu Abî Hâtim) wafat pada tahun 327 Hijriyah.

[22] Nama sebenarnya yaitu: Muhammad bin 'Abdul Wâhid bin Ahmad bin 'Abdurrahmân. Ia (Dhiyâuddîn al-Maqdisŷ) merupakan seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Ia (Dhiyâuddîn al-Maqdisŷ) juga seorang pakar hadîts (hadis). Nasab (keturunan) nya yaitu: as-Sa'dŷ al-Maqdisŷ ash-Shâlihŷ ad-Dimasyqî al-Hanbalŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû 'Abdullâh. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh Dhiyâuddîn al-Maqdisŷ. Ia (Dhiyâuddîn al-Maqdisŷ) lahir di ad-Diyâr al-Mubârak (yang ada di Damaskus) pada tahun 569 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Damaskus. Ia (Dhiyâuddîn al-Maqdisŷ) wafat pada Hari Senin 28 Jumâdîl Âkhirah di Damaskus pada tahun 643 Hijriyah. {Sumber: "Târîkh al-Islâm wa Wafiyât al-Masyâhîr wa al-A'lâm", karya: al-Imâm al-Hâfizh adz-Dzahabî: (No. 256)}. Dan {Sumber: "al-A'lâm", karya: Khayruddîn az-Ziriklŷ: (6/255)}.

[23] Nama lengkapnya yaitu: Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr bin Ghâlib. Ia (Ibnu Jarîr) merupakan seorang tsiqqah ‘âlim (kredibel ke-âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang ‘âlim). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Âmalî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Ja’far ath-Thabarî. Laqab (gelar/titel) nya: Abâ at-Tafsîr dan Abâ at-Târîkh. Ia (Ibnu Jarîr) lahir di Thabari Sittân pada tahun 224 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Baghdâd. Ia (Ibnu Jarîr) wafat di Baghdâd pada tahun 310 Hijriyah.

[24] Nama lengkapnya yaitu: Ismâ’îl bin ‘Amr bin Katsîr. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Qurasyî ad-Dimasyqî. Ia (Ibnu Katsîr) adalah seorang tsiqqah mutqan al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh yang kokoh dan kuat). Ia (Ibnu Katsîr) juga seorang pakar tafsîr (tafsir), hadîts (hadis) dan târîkh (sejarah). Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû al-Fidâ’. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh Ibn Katsîr. Ia (Ibnu Katsîr) lahir di Bashrah pada tahun 700 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Bashrah. Ia (Ibnu Katsîr) wafat di Bashrah pada tahun 774 Hijriyah, dan dikubur di Damsyiq (Damaskus).

[25] Al-Hâfizh Ibnu Katsîr. Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, Tahqîq Sâmî bin Muhammad as-Salâmah. Ar-Riyadh: Dâr Thayyibah. Jilid. 1, Juz. 1, halaman: 578.

[26] Nama sebenarnya yaitu: ‘Abdurrahmân bin Abî Bakr. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Jalâluddîn. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh as-Suyûthî. Ia (as-Suyûthî) adalah seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Serta ia (as-Suyûthî) juga seorang pakar tafsîr (tafsir), hadîts (hadis), lughah (gramatika), adb (sastra), fiqh (fikih), târîkh (sejarah), dan sebagainya. Nasab (keturunan) nya yaitu: as-Suyûthî. Ia (as-Suyûthî) lahir di Qâhirah pada tahun 849 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Qâhirah. Ia (as-Suyûthî) wafat di Qâhirah pada tahun 911 Hijriyah.

[27] Al-Hâfizh Jalâluddîn as-Suyûthî. Ad-Durr al-Mantsûr fî at-Tafsîr bi al-Ma’tsûr, Tahqîq Dr. ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî. Al-Qâhirah: Al-Muhandisîn. Cetakan Pertama, Juz. 2, halaman: 544 - 545.

[28] Nama sebenarnya yaitu: Ahmad bin Muhammad bin Ismâ'îl bin Yûnus. Ia (an-Nuhâs) merupakan seorang tsiqqah al-Imâm (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm). Ia (an-Nuhâs) juga seorang pakar tafsîr (tafsir), lughah (gramatika), adb (sastra), dan fiqh (fikih). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Murâdŷ al-Mishrŷ an-Nahwŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Ja'far. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm an-Nuhâs. Ia (an-Nuhâs) lahir di Mesir. Tempat tinggalnya di Mesir. Ia (an-Nuhâs) wafat pada Bulan Dzûlhiĵah di Mesir pada tahun 337 atau 338 Hijriyah. {Sumber: "al-A'lâm", karya: Khayruddîn az-Ziriklŷ: (1/208)}. Dan {Sumber: "Inbâh ar-Ruwâh 'alâ Anbâh an-Nuhâh", karya: al-Imâm al-Qifthŷ: (No. 50)}. Serta {Sumber: "Mu'jam al-Adubâ", karya: al-Imâm Yâqût al-Hamwŷ: (No. 160)}.

[29] Atsar adalah: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat dan Tâbi’în, baik berupa perkataan dan perbuatan.

[30] Hadis Mawqûf yaitu: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan; baik bersambung sanadnya ataupun terputus sanadnya.

[31] Marfu’ maksudnya: Terangkatnya derajat hadis hingga ke Nabi SAW.

[32] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan antara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm asy-Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.

[33] Nama sebenarnya yaitu: 'Alî bin 'Abdullâh bin Ja'far bin Najîh. Ia ('Alî bin al-Madînî) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ senior. Dan ia ('Alî bin al-Madînî) juga merupakan seorang Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts (yaitu: "Gelar tertinggi pada masa tertentu sebagai seorang penghafal Hadis, dan mengetahui Ilmu Dirâyah dan Riwâyah Hadis, sehingga ia menjadi Imâm atau Raja Hadis yang banyak dikagumi oleh para ‘Ulamâ"). Ia ('Alî bin al-Madînî) juga seorang pakar 'ilal (Ilmu yang membahas tentang sebab-sebab yang samar yang membuat cacat ke-shahîh-an Hadis), hadîts (hadis), dan târîkh (sejarah). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Bashrŷ as-Sa'dŷ al-Madînŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘al-Hasan. Laqab (gelar/titel) nya: Amîr al-Mu'minîn fî al-Hadîts 'Alî bin al-Madînî. Ia ('Alî bin al-Madînî) lahir di Bashrah (wilayah Negara 'Irâq) pada tahun 161 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Bashrah. Ia ('Alî bin al-Madînî) wafat di Sâmurâ atau Rashfah Hâsyim atau 'Askar, pada Hari Senin Bulan Dzûlqa'dah tahun 234 Hijriyah. {Sumber: "Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ ar-Rijâl", karya: al-Imâm al-Hâfizh al-Mizzî: (No. 4096)}. Dan {Sumber: "Tahdzîb at-Tahdzîb", karya: al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânî: (7/356)}.

[34] Nama sebenarnya yaitu: Muhammad bin Ahmad bin 'Utsmân bin Qaymâz bin 'Abdillâh. Ia (adz-Dzahabŷ) merupakan seorang tsiqqah al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (adz-Dzahabŷ) juga seorang pakar hadîts (hadis) lughah (gramatika), adb (sastra), dan târîkh (sejarah). Nasab (keturunan) nya yaitu: adz-Dzahabŷ al-Fâriqŷ ad-Dimasyqŷ at-Turkumânŷ asy-Syâfi'iŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû 'Abdullâh. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh Syamsuddîn adz-Dzahabŷ. Ia (adz-Dzahabŷ) lahir di Damaskus, bertepatan pada Bulan Rabî'ul Âkhir tahun 673 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Damaskus. Ia (adz-Dzahabŷ) wafat di Damaskus, pada malam Senin, bertepatan pada Bulan Dzûlqa'dah tahun 748 Hijriyah; dan ia (adz-Dzahabŷ) dikubur di Pemakaman Bâb ash-Shaghîr. {Sumber: "Dzaylut Taqyîd fî Ruwâh as-Sunan wa al-Asânîd", karya: al-Hâfizh Taqiŷuddîn al-Fâsŷ: (No. 39)}. Serta {Sumber: "Mu'jam asy-Syuyûkh", karya: al-Imâm Tâjuddîn as-Subkŷ: (No. 109)}.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar