Loading...

Senin, 18 Oktober 2010

Asbâbun Nuzûl Surat al-Baqarah(2), ayat: 230


Asbâbun Nuzûl Surat al-Baqarah(2), ayat: 230

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (٢٣٠)

230. Kemudian jika si suami menthalaknya (sesudah thalak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin(bersetubuh) dengan suami yang lain. kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya(bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah yang diterangkan-Nya bagi kaum yang (mau) mengetahui.



Imâm Jalâludin ash-Suyûthî mengeluarkan dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûlinya(Bab I, Surat ke-2: al-Baqarah) dengan menisbahkan kepada Ibnu Mundzir yang bersumber dari Muqâtil bin Hibbân:
“Dikemukakan oleh Ibnu Mundzîr yang bersumber dari Muqâtil bin Hibbân. Muqâtil bin Hibbân berkata: “ayat ini turun mengenai ‘Aisyah binti Abdirrohmân bin ‘Atiek yang pada awal mulanya adalah istri Rifa’ah bin Wahab bin ‘Atiek, dia anak paman ‘Aisyah binti Abdirrohmân bin ‘Atiek sendiri. Lalu terjadilah perceraian tiga kali(thalâq ba’in). sesudah itu ‘Aisyah binti Abdirrohmân bin ‘Atiek dinikahi oleh ‘Abdurrahmân bin az-Zubair al-Qura’zhi. Kemudian ‘Aisyah binti Abdirrohmân bin ‘Atiek dicerai oleh ‘Abdurrahmân bin az-Zubair al-Qura’zhi dan hendak dikembalikan lagi kepada Rifa’ah bin Wahab bin ‘Atiek, maka ‘Aisyah binti Abdirrohmân bin ‘Atiek mengadu kepada Nabi SAW, katanya(‘Aisyah binti Abdirrohmân bin ‘Atiek): “ ‘Abdurrahmân bin az-Zubair al-Qura’zhi telah mencerai saya sebelum menyetubuhiku(Aisyah binti Abdirrohmân bin ‘Atiek), bolehkah saya kembali kepada suami saya yang pertama(Rifa’ah bin Wahab bin ‘Atiek) ?”  , Nabi SAW menjawab: “tidak, kecuali kamu(‘Aisyah binti Abdirrohmân bin ‘Atiek) sudah disetubuhi oleh suamimu yang kedua”. Lalu turunlah ayat:

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (٢٣٠)

230. Kemudian jika si suami menthalaknya (sesudah thalak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin(bersetubuh) dengan suami yang lain. kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya(bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah yang diterangkan-Nya bagi kaum yang (mau) mengetahui.

Imâm Jalâludin ash-Suyûthî menambahkan: “ayat tersebut membenarkan seorang suami yang mencerai istrinya tiga kali(thalâq ba’in), kemudian mengawini istrinya kembali setelah disetubuhi oleh suami istrinya yang kedua”.


KETERANGAN:
Kata Imâm Jalâludin ash-Suyûthî: “Hadis yang ia keluarkan berkualitas Hasan”.






BIBLIOGRAFI

Tafsîr Ibnu Mundzîr(Ibnu Mundzîr).
Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûli(as-Suyûthî/Imâm Jalâludin ash-Suyûthî).