Senin, 10 Desember 2012

Asbâbun Nuzûl Surat al-Baqarah (2), Ayat: 197


Asbâbun Nuzûl Surat al-Baqarah (2), Ayat: 197

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُوْمَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوْقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللهُ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُوْنِ يَا أُوْلِي الْأَلْبَابِ (١٩٧)
197. (Musim) Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[1]. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan Haji, maka tidak boleh rafats[2], berbuat fasiq[3], dan berbantah-bantahan[4] di dalam masa mengerjakan Haji. Dan apa yang kalian kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allâh mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah Takwa; dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.







Al-Imâm al-Hâfizh[5] Bukhârî[6] meriwayatkan dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (No. Hadis: 1426):
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بِشْرٍ, قَالَ: حَدَّثَنَا شَبَابَةُ, عَنْ وَرْقَاءَ, عَنْ عَمْرِو بْنِ دِيْنَارٍ, عَنْ عِكْرِمَةَ, عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا, قَالَ: كَانَ أَهْلُ الْيَمَنِ يَحُجُّوْنَ وَلَا يَتَزَوَّدُوْنَ, وَيَقُوْلُوْنَ: نَحْنُ الْمُتَوَكِّلُوْنَ. فَإِذَا قَدِمُوْا مَكَّةَ, سَأَلُوْا النَّاسَ. فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى: (.........وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى..........).
قَالَ: رَوَاهُ ابْنُ عُيَيْنَةَ, عَنْ عَمْرٍو, عَنْ عِكْرِمَةَ, مُرْسَلًا.
"Yahyâ bin Bisyr[7] telah bercerita kepada kami (kepada Bukhârî), dia (Yahyâ bin Bisyr) berkata: "Syabâbah bin Saŵâr[8] telah bercerita kepada kami (kepada Yahyâ bin Bisyr), dari Warqâ bin 'Umar[9], dari 'Amrû bin Dînâr[10], dari ‘Ikrimah[11], dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs[12], dia (‘Abdullâh bin ‘Abbâs) berkata: "Dahulukala orang-orang Yaman berhaji tidak membawa bekal; mereka (orang-orang Yaman) berkata: "Kami (orang-orang Yaman) adalah orang-orang yang bertawakkal". Apabila mereka (orang-orang Yaman) tiba di Kota Makkah, mereka (orang-orang Yaman) malah meminta-minta (mengemis) kepada orang-orang. Maka Allâh SWT. menurunkan (Surat al-Baqarah, Ayat: 197):
........ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ....... (١٩٧)
197. …...…. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah Takwa…..…..".


"Dia (Bukhârî) berkata: "Diriwayatkan pula oleh Sufyân bin 'Uyaynah[13], dari 'Amrû bin Dînâr, dari 'Ikrimah, secara Mursal[14]".




KETERANGAN (dari para Muhadditsîn[15]):
Hadis di atas berkualitas shahîh[16], karena semua rawinya tsiqqât[17].
1.     Al-Hâfizh Abû Dâwud[18] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Sunan Abî Dâwudnya (No. Hadis: 1470).
2.    Al-Hâfizh an-Nasâ-î[19] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Sunan an-Nasâ-î al-Kubrânya (No. Hadis: 8790 dan 11033).
3.      Al-Hâfizh Ibnu Hibbân[20] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Shahîh Ibn Hibbânnya (No. Hadis: 2746).
4.   Al-Hâfizh al-Hâkim juga meriwayatkan melalui jalur sanad[21] Sufyân ats-Tsaurŷ dalam at-Târîkhnya, sebagaimana terdapat dalam Fath al-Bârî bi Syarh Shahîh al-Bukhârî (3/384).
5.      Al-Hâfizh al-Bayhaqî juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam as-Sunan al-Kubrâ li al-Bayhaqînya (4/332).
6.      Al-Hâfizh Ibnu Abî Hâtim[22] juga meriwayatkan melalui jalur sanad Sufyân Ibnu 'Uyaynah dalam Tafsîr Ibn Abî Hâtimnya (No. Hadis: 1871).
7.        Imâm Ibnu Jarîr[23] juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurânnya (3/494)[24].
8.  Al-Hâfizh Ibnu Katsir[25] juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîmnya (Jilid. 1, Juz. 1, halaman: 547 - 548)[26], dengan menyandarkan kepada Riwayat al-Hâfizh Bukhârî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (No. Hadis: 1426); serta menyandarkan kepada Riwayat al-Hâfizh an-Nasâ-î dalam Sunan an-Nasâ-î al-Kubrânya (No. Hadis: 8790 dan 11033).
9.  Al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalânî juga meriwayatkan melalui jalur sanad Sa'îd bin 'Abdurrahmân al-Makhzûmŷ dalam Taghlîq at-Ta'lîq (3/45).
10.  Al-Hâfizh Jalâluddîn as-Suyûthî[27] juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 2, 2/al-Baqarah), dengan menisbahkan kepada Riwayat al-Hâfizh Bukhârî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (No. Hadis: 1426). Beliau (al-Hâfizh Jalâluddîn as-Suyûthî) juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam ad-Durr al-Mantsûr fî at-Tafsîr bi al-Ma’tsûrnya (2/390 – 2/391)[28].







PENJELASAN (kedudukan hadis di atas):
Atsar[29] 'Abdullâh bin 'Abbâs di atas digolongkan Mawqûf li hukmi Marfû’, maksudnya: hadis Mawqûf[30] yang dihukumi Marfû’[31]. Karena para Muhadditsîn[32] telah bersepakat bahwa: “Ada beberapa macam Mawqûf yang dihukumi Marfû’, dan salah satunya yaitu: penafsiran para Sahabat yang berkaitan dengan sebab turunnya (asbâb an-nuzûl) suatu Ayat”.
Sebagaimana penjelasan para Muhadditsîn tersebut, maka Atsar 'Abdullâh bin 'Abbâs di atas tergolong hadis Mawqûf yang dihukumi Marfû’ oleh para Muhadditsîn, sehingga (hadis 'Abdullâh bin 'Abbâs di atas) dapat dijadikan sebagai huĵah (pedoman/ landasan) dalam hukum Syara’ (Islâm).







KESIMPULAN:
Surat al-Baqarah, Ayat: 197 diturunkan mengenai:
Orang-orang Yaman yang berhaji tanpa membawa bekal. Ketika mereka (orang-orang Yaman) tiba di Kota Makkah, mereka (orang-orang Yaman) meminta-minta (mengemis) kepada orang-orang.






BIBLIOGRAFI

Ad-Durr al-Mantsûr fî at-Tafsîr bi al-Ma’tsûr (al-Hâfizh as-Suyûthî/ ‘Abdurrahmân
bin Abî Bakr).
Al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârî (al-Imâm al-Hâfizh al-Bukhârî/ Muhammad bin
Ismâ’îl bin Ibrâhîm bin al-Mughîrah bin Bardizbah).
As-Sunan al-Kubrâ li al-Bayhaqî (al-Hâfizh al-Bayhaqî).
Fath al-Bârî bi Syarh Shahîh al-Bukhârî (al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalânî/ Ahmad
bin ‘Alî bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Alî).
Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân (Imâm Ibnu Jarîr/ Muhammad bin Jarîr bin
Yazîd bin Katsîr bin Ghâlib).
Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûl (al-Hâfizh as-Suyûthî/ ‘Abdurrahmân bin Abî
Bakr).
Shahîh Ibn Hibbân (al-Hâfizh Ibnu Hibbân/ Muhammad bin Hibbân bin Ahmad bin
Hibbân bin Mu’âdz bin Ma’bad).
Sunan Abî Dâwud (al-Hâfizh Abû Dâwud/ Sulaimân bin al-Asy’ats bin Syadâd bin
‘Amrû bin ‘Âmir).
Sunan an-Nasâ-î al-Kubrâ (al-Hâfizh an-Nasâ-î/ Ahmad bin Syu’aib bin ‘Alî bin
Sunân bin Bahr).
Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm (al-Hâfizh Ibnu Katsîr/ Ismâ’îl bin ‘Amr bin Katsîr).
Tafsîr Ibn Abî Hâtim (al-Hâfizh Ibnu Abî Hâtim/ ‘Abdurrahmân bin Abî Hâtim).


























[1] Di dalam “Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân, Tahqîq ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî”, karya Imâm Ibnu Jarîr (Cetakan Pertama, Juz. 3, halaman: 444 dan 446): 'Abdullâh bin 'Abbâs dan 'Abdullâh bin 'Umar menafsirkan kata (أَشْهُرٌ مَّعْلُوْمَاتٌ) dengan: “Syawâl, Dzûlqa'dah, dan 10 hari di Bulan Dzûlhijah”.

[2] Di dalam “Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân, Tahqîq ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî”, karya Imâm Ibnu Jarîr (Cetakan Pertama, Juz. 3, halaman: 458 dan 465): 'Abdullâh bin 'Abbâs dan 'Abdullâh bin 'Umar menafsirkan kata (رَفَثَ) dengan: “Menyetubuhi isteri (al-Jimâ')”.

[3] Di dalam “Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân, Tahqîq ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî”, karya Imâm Ibnu Jarîr (Cetakan Pertama, Juz. 3, halaman: 472): 'Abdullâh bin 'Abbâs menafsirkan kata (فُسُوْقَ) dengan: “Bermaksiat (melanggar larangan-larangan Allâh)”.

[4] Di dalam “Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân, Tahqîq ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî”, karya Imâm Ibnu Jarîr (Cetakan Pertama, Juz. 3, halaman: 482): 'Abdullâh bin 'Umar menafsirkan kata (جِدَالَ فِي الْحَجِّ) dengan: “Saling mencaci-maki, berdebat, bertengkar, berbantah-bantahan, dan berselisih”.
Sedangkan dalam “Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân, Tahqîq ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî”, karya Imâm Ibnu Jarîr (Cetakan Pertama, Juz. 3, halaman: 478): 'Abdullâh bin 'Abbâs menafsirkan kata (جِدَالَ فِي الْحَجِّ) dengan: “Berdebat dan bertengkar hingga saling emosi (marah)”.

[5] Al-Hâfizh adalah: Gelar ahli hadis yang dapat men-shahîh-kan sanad serta matan hadis, dan dapat men-ta’dîl-kan dan men-jarh-kan para perawi hadis, serta seorang Hâfizh itu harus mempunyai kapasitas menghafal 100.000 hadis. Contoh para Huffâzh: Ahmad bin Hanbal, Yahyâ bin Ma’în, ‘Alî bin al-Madînî, Bukhârî, Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, ad-Dârimî, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, ad-Dâruquthnî, ath-Thabrânî, al-Bayhaqî, al-Hâkim, Zainuddîn ‘Abdurrahîm al-‘Irâqî, Syarafuddîn ad-Dimyathî, Ibnu Hajar al-‘Asqalânî, al-Mizzî, al-Haitsamî, adz-Dzahabî, Abû Zar’ah ar-Râzî, Abû Hâtim ar-Râzî, Ibnu Hazm, Ibnu Abî Hâtim, Ibnu ‘Adî, Ibnu al-Mundzir, Ibnu ‘Abdul Bâr, Ibnu Katsîr, Ibnu as-Sakan, Jalâluddîn as-Suyûthî, Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, dan sebagainya.

[6] Nama sebenarnya yaitu: Muhammad bin Ismâ’îl bin Ibrâhîm bin al-Mughîrah bin Bardizbah. Ia (Bukhârî) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ pertengahan. Dan ia (Bukhârî) juga merupakan seorang tsiqqah mutqan al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang kuat lagi kokoh, al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (Bukhârî) juga seorang pakar hadîts (hadis), tafsîr (tafsir), fiqh (fiqih), târîkh (sejarah) dan lughah (gramatika). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Ju’fŷ al-Bukhârî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdullâh. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh Bukhârî. Ia (Bukhârî) lahir di Bukhârâ pada tahun 194 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Madînah. Ia (Bukhârî) wafat di desa Khartank (wilayah Samarqand) pada tahun 256 Hijriyah.

[7] Namanya yaitu: Yahyâ bin Bisyr. Ia (Yahyâ bin Bisyr) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ senior. Dan ia (Yahyâ bin Bisyr) juga merupakan seorang yang tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Fallâs al-Balakhî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Zakariŷâ. Tempat tinggalnya di Hamsh. Ia (Yahyâ bin Bisyr) wafat pada tahun 232 Hijriyah.

[8] Namanya yaitu: Syabâbah bin Saŵâr. Ia (Syabâbah bin Saŵâr) merupakan seorang Tabi’ Tâbi’în junior. Ia (Syabâbah bin Saŵâr) adalah seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Fazzârî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû 'Amrû. Tempat tinggalnya di al-Madâin. Ia (Syabâbah bin Saŵâr) wafat di al-Madâin pada tahun 206 Hijriyah.

[9] Nama lengkapnya yaitu: Warqâ bin 'Umar bin Kulaib. Ia (Warqâ bin 'Umar) merupakan seorang Tabi’ Tâbi’în senior. Dan ia (Warqâ bin 'Umar) juga merupakan seorang yang tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Yasykarî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Bisyr. Tempat tinggalnya di Kûfah.

[10] Nama lengkapnya yaitu: 'Amrû bin Dînâr al-Atsram. Ia ('Amrû bin Dînâr) merupakan seorang Tâbi’în dekat pertengahan. Ia ('Amrû bin Dînâr) adalah seorang tsiqqah tsabat (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang konsisten). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Jamhî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Muhammad. Laqab (gelar/titel) nya: al-Atsram. Tempat tinggalnya di Marwa ar-Ruwadz (salah satu Kota di Khurrâsân). Ia ('Amrû bin Dînâr) wafat pada tahun 126 Hijriyah.

[11] Nama lengkapnya yaitu: ‘Ikrimah Maulâ ‘Abdullâh bin ‘Abbâs. Ia (‘Ikrimah) merupakan seorang Tâbi’în pertengahan. Ia (‘Ikrimah) adalah seorang tsiqqah tsabat (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang konsisten). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Barbarî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdullâh. Tempat tinggalnya di Madînah. Ia (‘Ikrimah) wafat pada tahun 104 Hijriyah.

[12] Nama lengkapnya yaitu: ‘Abdullâh bin ‘Abbâs bin ‘Abdul Muthallib bin Hâsyim. Ia (Ibnu ‘Abbâs) merupakan seorang Sahabat dan juga seorang pakar tafsîr (tafsir), fiqh (fikih), lughah (gramatika), Syi’ir (Sya’ir), farâidh (waris) dan hadîts (hadis). Serta ia (Ibnu ‘Abbâs) telah meriwayatkan 1.660 Hadîts. Semua Sahabat Nabi SAW. tsiqqah dan ‘âdl. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Qurasyî al-Hâsyimî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû al-‘Abbâs. Laqab (gelar/titel) nya: Ibn ‘Abbâs, al-Hijr dan al-Bahr. Tempat tinggalnya di Marwa ar-Ruwadz (salah satu Kota di Khurrâsân). Ia (Ibnu ‘Abbâs) wafat di Thâ-if pada tahun 68 Hijriyah.

[13] Nama lengkapnya yaitu: Sufyân bin 'Uyaynah bin Abî 'Imrân Maymûn. Ia (Sufyân bin 'Uyaynah) merupakan seorang Tabi’ Tâbi’în pertengahan. Ia (Sufyân bin 'Uyaynah) adalah seorang tsiqqah al-Hâfizh al-Huĵah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh dan al-Huĵah). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Hilâlî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Muhammad. Tempat tinggalnya di Kûfah. Ia (Sufyân bin 'Uyaynah) wafat di Marwa ar-Ruwadz (salah satu Kota di Khurrâsân) pada tahun 198 Hijriyah.

[14] Mursal yaitu: "Periwayatan Tâbi'în senior atau junior secara mutlak (dari Nabi SAW)".

[15] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan antara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm asy-Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.

[16] Hadis Shahîh ialah: Hadis yang bersambung (muttashil) sanadnya, diriwayatkan oleh orang yang ‘âdl (‘âdl yaitu: orang yang istiqamah dalam beragama, baik akhlaqnya, tidak fasiq dan tidak melakukan cacat muru’ah), sempurna ke-dhabith-annya, tidak ada keganjilan (syadzdz), dan tidak ada kecacatan (‘illat).

[17] Tsiqqât adalah: Para perawi hadis yang kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya.

[18] Nama sebenarnya yaitu: Sulaimân bin al-Asy’ats bin Syadâd bin ‘Amrû bin ‘Âmir. Ia (Abû Dâwud) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ dekat pertengahan. Dan ia (Abû Dâwud) juga merupakan seorang tsiqqah mutqan al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang kuat lagi kokoh, al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (Abû Dâwud) juga seorang pakar hadîts (hadis), dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Azdî as-Sijistânî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Dâwud. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh Abû Dâwud. Ia (Abû Dâwud) lahir di Sijistân (suatu Daerah yang terletak antara negara Iran dan Afghanistan) pada tahun 202 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Bashrah. Ia (Abû Dâwud) wafat di Bashrah pada tahun 275 Hijriyah.

[19] Nama sebenarnya yaitu: Ahmad bin Syu’aib bin ‘Alî bin Sunân bin Bahr. Ia (an-Nasâ-î) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ junior. Dan ia (an-Nasâ-î) juga merupakan seorang tsiqqah al-Qâdhî al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm al-Hâfizh dan seorang Hakim di Mesir). Ia (an-Nasâ-î) juga seorang pakar hadîts (hadis) dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: an-Nasâ-î an-Nasawy. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdurrahmân. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh an-Nasâ-î. Ia (an-Nasâ-î) lahir di Kota Nasâ (wilayah Khurrâsân) pada tahun 215 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Mesir. Ia (an-Nasâ-î) wafat di Ramalah (wilayah Palestina) pada tahun 303 Hijriyah; ia (an-Nasâ-î) dimakamkan di Baitul Maqdis (Palestina). Ia (an-Nasâ-î) berusia 88 tahun.

[20] Nama lengkapnya yaitu: Muhammad bin Hibbân bin Ahmad bin Hibbân bin Mu’âdz bin Ma’bad. Ia (Ibnu Hibbân) merupakan seorang tsiqqah al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (Ibnu Hibbân) juga seorang pakar lughah (gramatika) hadîts (hadis), târîkh (sejarah), ath-Thibb (kedokteran), fiqh (fiqih), dan sebagainya. Nasab (keturunan) nya yaitu: at-Tamîmî, ad-Dârimî al-Bustî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Hâtim. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh Ibn Hibbân. Ia (Ibnu Hibbân) lahir di Bustî (salah satu Kampung yang terletak di Sijistân) pada tahun 270 atau 271 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Khurrâsân. Ia (Ibnu Hibbân) wafat pada tahun 354 Hijriyah.

[21] Sanad adalah: Mata rantai para perawi hadis yang menghubungkan ke matan (redaksi/ isi) hadis.

[22] Nama lengkapnya yaitu: ‘Abdurrahmân bin Abî Hâtim. Ia (Ibnu Abî Hâtim) adalah seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Nasab (keturunan) nya yaitu: ar-Râzî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Muhammad. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh Ibn Abî Hâtim. Ia (Ibnu Abî Hâtim) adalah pakar tafsîr (tafsir) dan hadîts (hadis). Ia (Ibnu Abî Hâtim) wafat pada tahun 327 Hijriyah.

[23] Nama lengkapnya yaitu: Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr bin Ghâlib. Ia (Ibnu Jarîr) merupakan seorang tsiqqah ‘âlim (kredibel ke-âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang ‘âlim). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Âmalî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Ja’far ath-Thabarî. Laqab (gelar/titel) nya: Abâ at-Tafsîr dan Abâ at-Târîkh. Ia (Ibnu Jarîr) lahir di Thabari Sittân pada tahun 224 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Baghdâd. Ia (Ibnu Jarîr) wafat di Baghdâd pada tahun 310 Hijriyah.

[24] Imâm Ibnu Jarîr. 2001. Tafsîr ath-Thabarî, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân; Tahqîq Dr. ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî. Kairo: Badâr Hajar. Cetakan Pertama, Juz. 3, halaman: 494.

[25] Nama lengkapnya yaitu: Ismâ’îl bin ‘Amr bin Katsîr. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Qurasyî ad-Dimasyqî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû al-Fidâ’. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh Ibn Katsîr. Ia (Ibnu Katsîr) adalah seorang tsiqqah mutqan al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh yang kokoh dan kuat). Ia (Ibnu Katsîr) juga seorang pakar tafsîr (tafsir), hadîts (hadis) dan târîkh (sejarah). Ia (Ibnu Katsîr) lahir di Bashrah pada tahun 700 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Bashrah. Ia (Ibnu Katsîr) wafat di Bashrah pada tahun 774 Hijriyah, dan dikubur di Damsyiq (Damaskus).

[26] Al-Hâfizh Ibnu Katsîr. Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, Tahqîq Sâmî bin Muhammad as-Salâmah. Ar-Riyadh: Dâr Thayyibah. Jilid. 1, Juz. 1, halaman: 547 - 548.

[27] Nama sebenarnya yaitu: ‘Abdurrahmân bin Abî Bakr. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Jalâluddîn. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh as-Suyûthî. Ia (as-Suyûthî) adalah seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Serta ia (as-Suyûthî) juga seorang pakar tafsîr (tafsir), hadîts (hadis), lughah (gramatika), adb (sastra), fiqh (fikih), târîkh (sejarah), dan sebagainya. Nasab (keturunan) nya yaitu: as-Suyûthî. Ia (as-Suyûthî) lahir di Qâhirah pada tahun 849 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Qâhirah. Ia (as-Suyûthî) wafat di Qâhirah pada tahun 911 Hijriyah.

[28] Al-Hâfizh Jalâluddîn as-Suyûthî. Ad-Durr al-Mantsûr fî at-Tafsîr bi al-Ma’tsûr, Tahqîq Dr. ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî. Al-Qâhirah: Al-Muhandisîn. Cetakan Pertama, Juz. 2, halaman: 390 - 391.

[29] Atsar adalah: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat dan Tâbi’în, baik berupa perkataan dan perbuatan.

[30] Hadis Mawqûf yaitu: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan; baik bersambung sanadnya ataupun terputus sanadnya.

[31] Marfu’ maksudnya: Terangkatnya derajat hadis hingga ke Nabi SAW.

[32] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan antara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm asy-Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar