Loading...

Senin, 19 April 2010

Asbâbun Nuzûl Surat al-Baqarah (2), Ayat: 79

Asbâbun Nuzûl Surat al-Baqarah (2), Ayat: 79
فَوَيْلٌ لِلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً فَوَيْلٌ لَّهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِمَّا يَكْسِبُوْنَ (٧٩)
79. Maka celakalah[1] (bagi) orang-orang yang menulis[2] al-Kitâb[3] dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka berkata; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka celakalah (bagi) mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan celakalah (bagi) mereka, akibat apa yang mereka kerjakan[4].



Al-Hâfizh[5] Bukhârî[6] meriwayatkan dalam Khalq Af’âl al-‘Ibâd li al-Bukhârînya (No. Hadis. 188, halaman: 54):
حَدَّثَنَا يَحْيَى، قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَلْقَمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: (فَوَيْلٌ لِلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيْهِمْ........). قَالَ: نَزَلَتْ فِيْ أَهْلِ الْكِتَابِ.
“Yahyâ[7] telah bercerita kepada kami (kepada Bukhârî), dia (Yahyâ) berkata: “Wakî’[8] telah bercerita kepada kami (kepada Yahyâ), dari Sufyân[9], dari ‘Abdurrahmân bin ‘Alqamah[10], dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs[11], (mengenai Firman Allah SWT. Surat al-Baqarah, Ayat: 79):
فَوَيْلٌ لِلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً فَوَيْلٌ لَّهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِمَّا يَكْسِبُوْنَ (٧٩)
79. Maka celakalah (bagi) orang-orang yang menulis al-Kitâb dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka berkata; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka celakalah (bagi) mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan celakalah (bagi) mereka, akibat apa yang mereka kerjakan”.

“Dia (‘Abdullâh bin ‘Abbâs) berkata: “Ayat (Surat al-Baqarah, Ayat: 79) ini turun tentang (mengenai) Ahli Kitâb”.

KETERANGAN (dari para Muhadditsîn[12]):
Al-Hâfizh[13] Jalâluddîn as-Suyûthî[14] juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 1, 2/al-Baqarah), dengan menisbahkan kepada al-Hâfizh an-Nasâ-î[15], melalui jalur ‘Abdullâh bin ‘Abbâs. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam ash-Shahîh al-Musnad min Asbâb an-Nuzûlnya (Surat al-Baqarah, Ayat: 79), dengan menisbahkan kepada al-Hâfizh al-Bukhârî, melalui jalur sebagaimana Hadis di atas.



PENJELASAN (kedudukan hadis di atas):
Atsar[16] ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas digolongkan Mawqûf li hukmi Marfu’, maksudnya: hadis Mawqûf[17] yang dihukumi Marfu’[18]. Karena para Muhadditsîn[19] telah bersepakat bahwa: “Ada beberapa macam Mawqûf yang dihukumi Marfu’, dan salah satunya yaitu: penafsiran para Sahabat yang berkaitan dengan sebab turunnya (asbâb an-nuzûl) suatu Ayat”.
Sebagaimana penjelasan para Muhadditsîn tersebut, maka Atsar ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas tergolong hadis Mawqûf yang dihukumi Marfu’ oleh para Muhadditsîn, sehingga (hadis ‘Abdullâh bin ‘Abbâs di atas) dapat dijadikan sebagai hujjah (pedoman/landasan) dalam hukum Syara’ (Islam).



PENJELASAN (dari al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalânî[20]):
Al-Hâfizh[21] Ibnu Hajar al-‘Asqalânî mengatakan dalam Tahdzîb at-Tahdzîbnya: “Hadis (di atas) para perawinya adalah perawi Kitâb Shahîh selain ‘Abdurrahmân bin ‘Alqamah. Dia (‘Abdurrahmân bin ‘Alqamah) ditsiqqahkan (dikuatkan ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya) oleh al-Hâfizh an-Nasâ-î, al-Hâfizh Ibnu Hibbân dan al-‘Ijlî”. Kata Ibnu Syâhain: “Ibnu Mahdî mengatakan bahwa dia (‘Abdurrahmân bin ‘Alqamah) termasuk al-Atsbât ats-Tsiqât (sangat kokoh lagi terpercaya)”.




BIBLIOGRAFI

Ash-Shahîh al-Musnad min Asbâb an-Nuzûl (asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î).
Khalq Af’âl al-‘Ibâd li al-Bukhârî (al-Imâm al-Hâfizh al-Bukhârî/Muhammad bin Ismâ’îl bin
Ibrâhîm bin al-Mughîrah bin Bardizbah).
Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûl (al-Hâfizh as-Suyûthî/al-Imâm al-Hâfizh ‘Abdurrahmân
bin Abî Bakr Jalâluddîn as-Suyûthî).
Tahdzîb at-Tahdzîb (al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalânî/Ahmad bin ‘Alî bin Muhammad bin
Muhammad bin ‘Alî).



















[1] Di dalam “Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân, Tahqîq ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî”, karya Imâm Ibnu Jarîr (Cetakan Pertama, Juz. 2, halaman: 163, 165 dan 170): ‘Abdullâh bin ‘Abbâs dan Imâm Ibnu Jarîr menafsirkan kata “CELAKA” dengan: Adzab (siksaan yang pedih).

[2] Di dalam “Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, Tahqîq Sâmî bin Muhammad as-Salâmah”, karya al-Hâfizh Ibnu Katsîr (Jilid. 1, Juz. 1, halaman: 312): ‘Abdullâh bin ‘Abbâs menafsirkan kata “ORANG-ORANG YANG MENULIS” dengan kalimat: “Pendeta (tokoh-tokoh) kaum Yahûdi”. Sedangkan di dalam “Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân, Tahqîq ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî”, karya Imâm Ibnu Jarîr (Cetakan Pertama, Juz. 2, halaman: 165-167): Qatâdah, as-Suddŷ dan Imâm Ibnu Jarîr menafsirkan kata “ORANG-ORANG YANG MENULIS” dengan: “Kaum Yahûdi (Banî Isrâ-îl)”.

[3] Di dalam “Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân, Tahqîq ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî”, karya Imâm Ibnu Jarîr (Cetakan Pertama, Juz. 2, halaman: 164, 167 dan 168): kata “AL-KITÂB” ditafsirkan dengan: “Kitâb Taurat”.

[4] Di dalam “Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân, Tahqîq ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî”, karya Imâm Ibnu Jarîr (Cetakan Pertama, Juz. 2, halaman: 169-170): Abî al-‘Âliyah dan para Mufassirîn yang lain menafsirkan kata “AKIBAT APA YANG MEREKA KERJAKAN” dengan: “Akibat kesalahan (kekeliruan) fatal yang mereka (kaum Yahûdi) perbuat”.

[5] Al-Hâfizh adalah: Gelar ahli hadis yang dapat men-shahîh-kan sanad serta matan hadis, dan dapat men-ta’dîl-kan dan men-jarh-kan para perawi hadis, serta seorang Hâfizh itu harus mempunyai kapasitas menghafal 100.000 hadis. Contoh para Huffâzh: Ahmad bin Hanbal, Yahyâ bin Ma’în, ‘Alî bin al-Madînî, Bukhârî, Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, ad-Dârimî, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, al-Bayhaqî, ad-Dâruquthnî, al-Hâkim, Zainuddîn ‘Abdurrahîm al-‘Irâqî, Syarafuddîn ad-Dimyathî, Ibnu Hajar al-‘Asqalânî, al-Mizzî, al-Haitsamî, adz-Dzahabî, Abû Zar’ah ar-Râzî, Abû Hâtim ar-Râzî, Ibnu Hazm, Ibnu Abî Hâtim, Ibnu ‘Adî, Ibnu al-Mundzir, Ibnu ‘Abdul Bâr, Ibnu Katsîr, Ibnu as-Sakan, Jalâluddîn as-Suyûthî, Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, dan sebagainya.

[6] Nama sebenarnya yaitu: Muhammad bin Ismâ’îl bin Ibrâhîm bin al-Mughîrah bin Bardizbah. Ia (Bukhârî) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ pertengahan. Dan ia (Bukhârî) juga merupakan seorang tsiqqah mutqan al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-âdil-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang kuat lagi kokoh, al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (Bukhârî) juga seorang pakar hadîts (hadis), tafsîr (tafsir), fiqh (fiqih), at-Târîkh (sejarah) dan al-Lughah (bahasa). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Ju’fŷ al-Bukhârî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdullâh. Laqab (gelar/titel) nya: Imâm Bukhârî. Ia (Bukhârî) lahir di Bukhârâ pada tahun 194 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Madînah. Ia (Bukhârî) wafat di desa Khartank (wilayah Samarqand) pada tahun 256 Hijriyah.

[7] Nama lengkapnya yaitu: Yahyâ bin Ma’în bin ‘Aun. Ia (Yahyâ bin Ma’în) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ senior. Dan ia (Yahyâ bin Ma’în) juga merupakan seorang tsiqqah mutqan al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-âdil-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang kuat lagi kokoh, al-Imâm dan al-Hâfizh). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Ghaththafânî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Zakariŷâ. Tempat tinggalnya di Baghdâd. Ia (Yahyâ bin Ma’în) wafat di Madînah pada tahun 233 Hijriyah.

[8] Nama lengkapnya yaitu: Wakî’ bin al-Jarâh bin Malîh. Ia (Wakî’ bin al-Jarâh) merupakan seorang Tabi’ Tâbi’în junior. Ia (Wakî’ bin al-Jarâh) adalah seorang tsiqqah mutqan al-Hâfizh (kredibel ke-âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang kuat lagi kokoh dan al-Hâfizh). Nasab (keturunan) nya yaitu: ar-Ru-asî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Sufyân. Tempat tinggalnya di Kûfah. Ia (Wakî’ bin al-Jarâh) wafat di ‘Ain al-Waradah pada tahun 196 Hijriyah.

[9] Nama lengkapnya yaitu: Sufyân bin Sa’îd bin Masrûq. Ia (Sufyân ats-Tsaurî) merupakan seorang Tabi’ Tâbi’în senior. Ia (Sufyân ats-Tsaurî) adalah seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Nasab (keturunan) nya yaitu: ats-Tsaurŷ. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdullâh. Tempat tinggalnya di Kûfah. Ia (Sufyân ats-Tsaurî) wafat di Bashrah pada tahun 161 Hijriyah.

[10] Nama lengkapnya yaitu: ‘Abdurrahmân bin ‘Alqamah. Ia (‘Alqamah) merupakan seorang Tâbi’în dekat pertengahan. Ia (‘Alqamah) adalah seorang yang tsiqqah (kredibel ke-âdil-an dan ke-dhabith-annya). Ia (Ibnu Ishâq) di-tsiqqah-kan (dikredibelkan ke-âdil-an dan ke-dhabith-annya) oleh: al-Hâfizh an-Nasâ-î, al-Hâfizh Ibnu Hibbân, Ibnu Mahdî, Ibnu Syâhain dan al-‘Ijlî. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Makkŷ. Tempat tinggalnya di Marwa ar-Rawadz.

[11] Nama lengkapnya yaitu: ‘Abdullâh bin ‘Abbâs bin ‘Abdul Muthallib bin Hâsyim. Ia (‘Abdullâh bin ‘Abbâs bin ‘Abdul Muthallib bin Hâsyim) merupakan seorang Sahabat dan juga seorang pakar Tafsîr, serta ia (‘Abdullâh bin ‘Abbâs bin ‘Abdul Muthallib bin Hâsyim) telah meriwayatkan 1.660 Hadîts. Semua Sahabat Nabi SAW. tsiqqah dan ‘âdl. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Qurasyî al-Hâsyimî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû al-‘Abbâs. Tempat tinggalnya di Marwa ar-Rawadz. Ia (‘Abdullâh bin ‘Abbâs bin ‘Abdul Muthallib bin Hâsyim) wafat di Thâ-if pada tahun 68 Hijriyah.

[12] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan atara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm asy-Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.

[13] Al-Hâfizh adalah: Gelar ahli hadis yang dapat men-shahîh-kan sanad serta matan hadis, dan dapat men-ta’dîl-kan dan men-jarh-kan para perawi hadis, serta seorang Hâfizh itu harus mempunyai kapasitas menghafal 100.000 hadis. Contoh para Huffâzh: Ahmad bin Hanbal, Yahyâ bin Ma’în, ‘Alî bin al-Madînî, Bukhârî, Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, ad-Dârimî, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, al-Bayhaqî, ad-Dâruquthnî, al-Hâkim, Zainuddîn ‘Abdurrahîm al-‘Irâqî, Syarafuddîn ad-Dimyathî, Ibnu Hajar al-‘Asqalânî, al-Mizzî, al-Haitsamî, adz-Dzahabî, Abû Zar’ah ar-Râzî, Abû Hâtim ar-Râzî, Ibnu Hazm, Ibnu Abî Hâtim, Ibnu ‘Adî, Ibnu al-Mundzir, Ibnu ‘Abdul Bâr, Ibnu Katsîr, Ibnu as-Sakan, Jalâluddîn as-Suyûthî, Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, dan sebagainya.

[14] Nama lengkapnya yaitu: ‘Abdurrahmân bin Abî Bakr Jalâluddîn as-Suyûthî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Jalâluddîn as-Suyûthî. Ia (as-Suyûthî) adalah seorang yang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-âdil-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Serta ia (as-Suyûthî) juga seorang pakar Tafsîr, Hadîs, Lughah (Bahasa), Adab (Sastra), Fiqh (Fikîh), Târîkh (Sejarah) dan sebagainya. Ia (as-Suyûthî) lahir di Qâhirah pada tahun 849 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Qâhirah. Ia (as-Suyûthî) wafat di Qâhirah pada tahun 911 Hijriyah.

[15] Nama sebenarnya yaitu: Ahmad bin Syu’aib bin ‘Alî bin Sunân bin Bahr. Ia (an-Nasâ-î) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ junior. Dan ia (an-Nasâ-î) juga merupakan seorang al-Qâdhî al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-âdil-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm al-Hâfizh dan seorang Hakim). Ia (an-Nasâ-î) juga seorang pakar hadîts (hadis) dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: an-Nasâ-î an-Nasawy. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdurrahmân. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh an-Nasâ-î. Ia (an-Nasâ-î) lahir di Nasâ (wilayah Khurrâsân) pada tahun 215 Hijriyah. Ia (an-Nasâ-î) wafat di Ramalah (wilayah Palestina) pada tahun 303 Hijriyah; ia (an-Nasâ-î) dimakamkan di Baitul Maqdis (Palestina).

[16] Atsar adalah: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat dan Tâbi’în, baik berupa perkataan dan perbuatan.

[17] Hadis Mawqûf yaitu: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan; baik bersambung sanadnya ataupun terputus sanadnya.

[18] Marfu’ maksudnya: Terangkatnya derajat hadis hingga ke Nabi SAW.

[19] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan atara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm asy-Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.

[20] Nama sebenarnya yaitu: Ahmad bin ‘Alî bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Alî. Dan ia (Ibnu Hajar al-‘Asqalânî) merupakan seorang tsiqqah mutqan al-Hâfizh (kredibel ke-âdil-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang kuat lagi kokoh, dan al-Hâfizh). Ia (Ibnu Hajar al-‘Asqalânî) juga seorang pakar hadîts (hadis), fiqh (fiqih), dan al-Adb (sastra). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Kinânŷ al-‘Asqalânŷ asy-Syâfi’î. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû al-Fadhl. Laqab (gelar/titel) nya: Syihâbuddîn. Ia (Ibnu Hajar al-‘Asqalânî) lahir di Qâhirah (Mesir) pada tahun 773 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Qâhirah (Mesir). Ia (Ibnu Hajar al-‘Asqalânî) wafat di Qâhirah (Mesir) pada tahun 852 Hijriyah.

[21] Al-Hâfizh adalah: Gelar ahli hadis yang dapat men-shahîh-kan sanad serta matan hadis, dan dapat men-ta’dîl-kan dan men-jarh-kan para perawi hadis, serta seorang Hâfizh itu harus mempunyai kapasitas menghafal 100.000 hadis. Contoh para Huffâzh: Ahmad bin Hanbal, Yahyâ bin Ma’în, ‘Alî bin al-Madînî, Bukhârî, Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, ad-Dârimî, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, al-Bayhaqî, ad-Dâruquthnî, al-Hâkim, Zainuddîn ‘Abdurrahîm al-‘Irâqî, Syarafuddîn ad-Dimyathî, Ibnu Hajar al-‘Asqalânî, al-Mizzî, al-Haitsamî, adz-Dzahabî, Abû Zar’ah ar-Râzî, Abû Hâtim ar-Râzî, Ibnu Hazm, Ibnu Abî Hâtim, Ibnu ‘Adî, Ibnu al-Mundzir, Ibnu ‘Abdul Bâr, Ibnu Katsîr, Ibnu as-Sakan, Jalâluddîn as-Suyûthî, Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, dan sebagainya.