Senin, 08 Agustus 2011

Asbâbun Nuzûl Surat ali-‘Imran (3) ayat: 165


Asbâbun Nuzûl Surat ali-‘Imran (3) ayat: 165
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١٦٥)
165. Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?”. Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.


Imâm Jalâludin as-Suyûthî mengeluarkan dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûlinya (Juz. 4, 3/ali-‘Imran) dengan menisbahkan kepada Ibnu Abî Hâtim dalam Tafsîr Ibn Abî Hâtimnya:
“Dikemukakan oleh Ibnu Abî Hâtim yang bersumber dari ‘Umar bin al-Khathâb. ‘Umar bin al-Khathâb berkata: “Orang-orang Mu’min ditimpa musibah yang luar biasa di perang Uhud, disebabkan mereka mengambil fida’ (tebusan tawanan perang) perang Badar, sampai 70 orang terbunuh dan para sahabat Nabi SAW. lainnya lari kocar-kacir, bercerai-berai, bahkan gigi (seri) Rasulullah SAW. yang keempat patah, topi besinya (Nabi SAW.) pecah dan darah mengalir di wajahnya (Nabi SAW). Maka Allah SWT. menurunkan ayat:
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١٦٥)
165. Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?”. Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

KETERANGAN:
Kata Imâm Jalâludin as-Suyûthî: “Hadis yang ia keluarkan di atas berkualitas Hasan shahih”.



CATATAN:
Ungkapan at-Tirmidzî dan para ahli Hadis yang lain mengenai: “Hadis ini berkualitas hasan shahih”. Makna ungkapan tersebut ada beberapa pendapat, di antaranya:
1.        Hadis tersebut memiliki dua sanad (jalur perawi hadis), yakni shahih dan hasan.
2.  Terjadi perbedaan dalam penilaian hadis, sebagian berpendapat shahih dan golongan lain berpendapat hasan.
3.        Atau dinilai hasan lidzatihi atau shahih lighayrihi.





Imâm Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (1/30):
“Abu Nuh Qurad telah bercerita kepada kami (Ahmad bin Hanbal), katanya (Abu Nuh Qurad): “Telah mengabarkan kepada kami (Abu Nuh Qurad) ‘Ikrimah bin ‘Ammâr, katanya (‘Ikrimah bin ‘Ammâr): “Simak al-Hanafi Abu Zumail telah bercerita kepada kami (‘Ikrimah bin ‘Ammâr), katanya (Simak al-Hanafi Abu Zumail): “Abdullah bin ‘Abbas telah bercerita kepada saya (Simak al-Hanafi Abu Zumail), katanya (‘Abdullah bin ‘Abbas): “Telah bercerita kepada saya (‘Abdullah bin ‘Abbas) ‘Umar bin al-Khathâb, kata beliau (‘Umar bin al-Khathâb): “Ketika peristiwa Badar, dia (‘Umar bin al-Khathâb) berkata: “Nabi SAW. memandang kepada para Sahabatnya yang berjumlah kurang lebih 300 orang, lalu Beliau (Nabi SAW.) memandang ke arah Musyrikin yang berjumlah sekitar 1000 orang. Kemudian Beliau (Nabi SAW.) menghadap kiblat dan menengadahkan tangannya (berdoa), sementara Beliau (Nabi SAW.) memakai mantel dan sarung lalu berkata: “Ya Allah, manakah yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah laksanakanlah untukku apa yang telah Engkau janjikan. Ya Allah seandainya Engkau binasakan pasukan Muslim ini, niscaya Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini selamanya”. Ia (‘Umar bin al-Khathâb) mengatakan: “Beliau (Nabi SAW.) terus saja meminta pertolongan kepada Rabbnya dan berdoa sampai jatuh mantelnya. Lalu datanglah Abu Bakar ash-Shiddîq mengambil mantel itu dan mengembalikannya (kepada Nabi SAW). Kemudian dia (Abu Bakar ash-Shiddîq) tetap berdiri di belakang Beliau (Nabi SAW.), dan ia (Abu Bakar ash-Shiddîq) berkata: “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia pasti memenuhi janjinya. Dan Allah SWT. menurunkan firman-Nya (Surat al-Anfâl, ayat: 9):          
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ (٩)
9. (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut".
“Pada saat itu ketika mereka (kaum Muslim) mulai bertempur (pada perang Badar), Allah SWT. mengalahkan orang-orang Musyrikin, terbunuhlah dari mereka (kaum Musyrikin) 70 orang dan tertawan sebanyak 70 orang pula. Rasulullah SAW. bermusyawarah dengan Abu Bakar ash-Shiddîq, ‘Alî bin Abî Thâlib, dan ‘Umar bin al-Khathâb. Abu Bakar ash-Shiddîq berkata: “Wahai Rasulullah SAW; mereka adalah anak paman, kerabat dan saudara-saudara kita. Saya (Abu Bakar ash-Shiddîq) berpendapat lebih baik kita menerima tebusan mereka, agar menjadi kekuatan bagi kita menghadapi orang-orang Kafir, dan semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka (para tawanan perang Badar), sehingga menjadi bantuan bagi kita (kaum Muslim)”. Lalu Rasulullah SAW. berkata: “Apa pendapatmu wahai ‘Umar bin al-Khathâb?”. Saya (Umar bin al-Khathâb) berkata: “Demi Allah, saya tidak sependapat dengan Abu Bakar ash-Shiddîq. Akan tetapi menurut saya (‘Umar bin al-Khathâb), hendaknya anda (Nabi SAW.) memberi kekuasaan kepada saya (‘Umar bin al-Khathâb) terhadap si Fulan, kerabat ‘Umar agar saya tebas lehernya. Anda (Nabi SAW.) serahkan ‘Aqil kepada ‘Alî bin Abî Thâlib agar dia (‘Alî bin Abî Thâlib) menebas lehernya (‘Aqil). Dan si Fulan saudara Hamzah, biar Hamzah menebas lehernya. Supaya Allah SWT. mengetahui sesungguhnya tidak ada dalam hati kita kecenderungan kepada kaum Musyrikin. Mereka (para tawanan perang Badar) itu adalah tokoh-tokoh dan pemimpin mereka (kaum Musyrikin). Akan tetapi Rasulullah SAW. cenderung kepada pendapat Abu Bakar ash-Shiddîq dan tidak sependapat dengan pendapatku (‘Umar bin al-Khathâb). Lalu Beliau (Nabi SAW.) menerima tebusan dari mereka (para tawanan perang Badar). Keesokan harinya, kata ‘Umar bin al-khathâb: “Saya datang pagi hari kepada Rasulullah SAW; ternyata Beliau (Nabi SAW.) sedang duduk sambil menangis bersama Abu Bakar ash-Shiddîq. Saya (‘Umar bin al-Khathâb) pun berkata: “Wahai Rasulullah SAW; terangkanlah apa yang menyebabkan anda (Nabi SAW.) dan Sahabat (Abu Bakar ash-Shiddîq) anda menangis. Kalau aku bisa, aku akan menangis (bersama kalian), kalau tidak maka aku akan berpura-pura menangis karena tangisan anda berdua (Nabi SAW. dan Abu Bakar ash-Shiddîq). Katanya (‘Umar bin al-Khathâb): “Nabi SAW. bersabda: “Apa yang datang kepada para Sahabatmu dari tebusan yang ada, sungguh telah menyodorkan kepada kalian adzab yang lebih dekat dari pohon ini, Beliau (Nabi SAW.) isyaratkan pohon yang dekat di sana”. Dan Allah SWT. menurunkan (Surat al-Anfâl, ayat: 67-68):
مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الأرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٦٧)
لَوْلا كِتَابٌ مِنَ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (٦٨)
67. Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
68. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.
“Berupa tebusan”.
“Kemudian Allah SWT. menghalalkan ghanimah (hasil tebusan para tawanan perang Badar) bagi mereka (kaum Muslim). Dan tahun berikutnya pada saat perang Uhud, mereka (kaum Muslim) dihukum karena apa yang mereka (kaum Muslim) lakukan pada saat perang Badar, yaitu menerima tebusan (dari para tawanan perang Badar). Terbunuhlah dari mereka (kaum Muslim) 70 orang, dan sebagian Sahabat Nabi SAW. melarikan diri. Gigi seri Beliau (Nabi SAW.) patah, kepala Beliau (Nabi SAW.) terluka hingga darah mengalir ke wajah Beliau (Nabi SAW). Allah SWT. menurunkan:
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١٦٥)
165. Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?”. Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
“Karena kamu (kaum Muslim) menerima tebusan (dari para tawanan perang Badar)”.

KETERANGAN:
Kata Imâm Ahmad bin Hanbal: “Hadis di atas para perawinya adalah perawi kitab Shahîh”.





BIBLIOGRAFI

Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûli (as-Suyûthî/Imâm Jalâludin as-Suyûthî).
Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbal (Imâm Ahmad bin Hanbal/Ahmad ibn
Hanbal asy-Syaibanî).
Tafsîr Ibn Abî Hâtim (Ibnu Abî Hâtim).


Minggu, 24 Juli 2011

Asbâbun Nuzûl Surat ali-‘Imran (3) ayat: 161


Asbâbun Nuzûl Surat ali-‘Imran (3) ayat: 161
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (١٦١)
161. Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi balasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (balasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.



Imâm Jalâludin as-Suyûthî mengeluarkan dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûlinya (Juz. 4, 3/ali-‘Imran) dengan menisbahkan kepada Abû Dâwud dalam Sunan Abî Dâwudnya, serta menisbahkan kepada at-Tirmidzî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya:
“Dikemukakan oleh Abû Dâwud dan at-Tirmidzî yang menurut mereka berdua  (Abû Dâwud dan at-Tirmidzî) hadis ini berkualitas hasan, yang bersumber dari ‘Abdullah bin ‘Abbas. ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata: “Turunnya ayat ini berkenaan dengan hilangnya sehelai permadani merah pada waktu perang Badar. Sebagian orang berkata: “Barangkali sudah diambil Rasulullah SAW!”. Maka Allah SWT. menurunkan ayat:
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (١٦١)
161. Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi balasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (balasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya”.

KETERANGAN:
Kata Abû Dâwud dan at-Tirmidzî: “Hadis di atas (yang dinukil oleh Imâm Jalâludin as-Suyûthî) berkualitas hasan”.
Akan tetapi kata al-Hâfizh dalam Takhrîj al-Kasysyâfnya: “Khushaif bin ‘Abdirrahman dinyatakan cacat oleh Ibnu ‘Adî”.
Dan kata Abu ‘Abdirrahman dalam Jâmi’ al-Bayâni fi at-Ta’wîl al-Qur’âni (Tafsîr Ibnu Jarîr: 4/155): “Khushaif dinyatakan lemah oleh sebagian besar ulama, dan dia goncang dalam hadis di atas. Kadang dia (Khushaif bin ‘Abdirrahman) meriwayatkan secara mursal (tanpa sanad seorang sahabat Nabi SAW), dan kadang menyambungnya. Suatu ketika dia (Khushaif bin ‘Abdirrahman) mengatakan hadis ini dari Miqsam, kadang dia (Khushaif bin ‘Abdirrahman) mengatakan dari ‘Ikrimah, atau dari yang lain”.



Hadis di atas dikuatkan kerâjihannya dengan hadis yang diriwayatkan oleh ath-Thabranî dalam al-Mu’jam al Kabîrnya (12/134):
“Telah bercerita kepada kami (ath-Thabranî) ‘Abdan bin Ahmad, katanya (‘Abdan bin Ahmad): “Telah bercerita kepada kami (‘Abdan bin Ahmad) ‘Abdurrahman bin Khalid ar-Raqqî, katanya (‘Abdurrahman bin Khalid ar-Raqqî): “Mu’awiyah bin Hisyam telah bercerita kepada kami (‘Abdurrahman bin Khalid ar-Raqqî), katanya (Mu’awiyah bin Hisyam): “Sufyan telah bercerita kepada kami (Mu’awiyah bin Hisyam) dari Habib bin Abî Tsabit dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, katanya (‘Abdullah bin ‘Abbas): “Nabi Muhammad SAW. mengirim satu pasukan lalu dikembalikan benderanya, kemudian mengirim lagi lalu dikembalikan karena ada ghulul (harta rampasan perang yang belum dibagi-bagikan) berupa emas sebesar kepala pemintal. Lalu turunlah ayat:
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (١٦١)
161. Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi balasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (balasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya”.

KETERANGAN:
Kata al-Haitsamî dalam Majma’ al-Zawâid wa Manba’ al-Fawâidnya: “Para perawi hadis di atas tsiqqat (kredibel, adil, kuat daya hafal dan ingatnya)”.
Kata Imâm Jalâludin as-Suyûthî dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûlinya (Juz. 4, 3/ali-‘Imran): “Sanad (jalur para perawi hadis) di atas merupakan tokoh-tokoh yang tsiqqat (kredibel, adil, kuat daya hafal dan ingatnya)”.
Akan tetapi kata asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î: “Perkaranya sebagaimana dikatakan keduanya (al-Haitsamî dan as-Suyuthî) dari sisi perawinya, akan tetapi Habib bin Abî Tsâbit adalah mudallis (seorang yang menyembunyikan cacat dalam isnad dan menampakkan cara periwayatan yang baik), tidak tegas menyatakan tahdîts (menyatakan haddatsanâ), meskipun dia (Habib bin Abî Tsâbit) memang mendengar dari ‘Abdullah bin ‘Abbas”.
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î melanjutkan: “Ali bin al-Madinî dalam (Jami' at-Tahshîl) menetapkan bahwa dia (Habib bin Abî Tsâbit) bertemu dengan ‘Abdullah bin ‘Abbas”.
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î melanjutkan: “Al-‘Ijlî dalam (Tahdzîb at-Tahdzîb) juga menetapkan bahwa dia (Habib bin Abî Tsâbit) mendengar dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, akan tetapi dia (Habib bin Abî Tsâbit) mudallis (seorang yang menyembunyikan cacat dalam isnad dan menampakkan cara periwayatan yang baik)”.
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î melanjutkan: “Dalam (Ilzamat wa Tatabbu’: halaman 83) dia (Habib bin Abî Tsâbit) pernah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas melalui dua perantara yaitu: Muhammad bin ‘Alî bin ‘Abdullah bin ‘Abbas dan ayahnya (ayahnya Muhammad bin ‘Alî bin ‘Abdullah bin ‘Abbas), maka diketahuilah bahwa hadis yang ia (Habib bin Abî Tsâbit) riwayatkan sanadnya dha’îf (lemah)”.   




Kedua Hadis di atas juga dikuatkan kerâjihannya dengan hadis yang diriwayatkan oleh ath-Thabranî dalam al-Mu’jam al Kabîrnya (11/101):
“Muhammad bin Ahmad bin Yazid an-Narsi al-Baghdadi telah bercerita kepada kami (ath-Thabranî), katanya (Muhammad bin Ahmad bin Yazid an-Narsi al-Baghdadi): “Abu ‘Amr Hafsh bin ‘Umar al-Muqri ad-Dauri telah bercerita kepada kami (Muhammad bin Ahmad bin Yazid an-Narsi al-Baghdadi), katanya (Abu ‘Amr Hafsh bin ‘Umar al-Muqri ad-Dauri): “Abu Muhammad al-Yazidi telah bercerita kepada kami (Abu ‘Amr Hafsh bin ‘Umar al-Muqri ad-Dauri), katanya (Abu Muhammad al-Yazidi): “Telah bercerita kepada saya (Abu Muhammad al-Yazidi) Abu ‘Amr bin al-‘Ala’ dari Mujâhid dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, bahwa dia (‘Abdullah bin ‘Abbas) membaca ayat:
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (١٦١)
161. Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi balasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (balasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.
“Bagaimana mungkin beliau (Nabi SAW.) berkhianat, padahal beliau (Nabi SAW.) berhak memerangi. Allah SWT. berfirman:
۞ وَ يَقْتُلُوْنَ اْلأَنْبِيَاءَ ۞
“Dan mereka membunuh para Nabi”.

“Akan tetapi orang-orang munafiq menuduh Nabi SAW. dalam suatu perkara, lalu Allah SWT. menurunkan:
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (١٦١)
161. Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi balasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (balasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.
KETERANGAN:
Ath-Thabranî juga meriwayatkan sebagaimana hadis di atas dalam al-Mu’jam al-Ashgharnya (2/15). Al-Wâhidî juga mengeluarkan sebagaimana hadis di atas dalam Asbâb an-Nuzûl li al-Wâhidînya (halaman 84). Al-Khâthib al-Baghdadî juga mengeluarkan sebagaimana hadis di atas dalam Târîkh Baghdadnya (1/372).
Para perawi hadis di atas tsiqqat (kredibel, adil, kuat daya hafal dan ingatnya) kecuali guru ath-Thabranî. Sulit untuk menemukan biografi guru ath-Thabranî, dan biografi guru ath-Thabranî hanya terdapat dalam Târîkh Baghdad karya Khâtib al-Baghdadî.
Kata Khâtib al-Baghdadî dalam Târîkh Baghdadnya (1/372): “Dari gurunya ath-Thabranî ia (ath-Thabranî) meriwayatkan (hadis di atas)”. Khâtib al-Baghdadî juga tidak menyebutkan jarh (cacat) dan ta’dîl (adil) guru ath-Thabranî.




Al-Bazzâr juga menguatkan kerâjihan ketiga hadis di atas dalam Kasyf al-Atsar (3/43):
“Muhammad bin ‘Abdirrahim telah bercerita kepada kami (al-Bazzâr), katanya (Muhammad bin ‘Abdirrahim): “Telah bercerita kepada kami (Muhammad bin ‘Abdirrahim) ‘Abdul Wahhab bin ‘Atha’, katanya (‘Abdul Wahhab bin ‘Atha’): “Telah bercerita kepada kami (‘Abdul Wahhab bin ‘Atha’) Harun al-Qari’ dari az-Zubair bin al-Khurait dari ‘Ikrimah dari ‘Abdullah bin ‘Abbas:
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (١٦١)
161. Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi balasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (balasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.
“Tidak pantas Nabi SAW. dicurigai oleh para sahabatnya”.         

KETERANGAN:
Dalam Tahdzîb at-Tahdzîb karya Ibnu Hajar al-Asqalanî diterangkan bahwa: “Harun adalah Ibnu Musa al-Azdi al-‘Ataki, kuniahnya Abu ‘Abdillah, ada yang mengatakan Abu Ishaq an-Nahwi al-Bashri al-A’war, seorang ahli qira’at yang dinyatakan tsiqqat (kredibel, adil, kuat daya hafal dan ingatnya) oleh Yahya ibn Ma’in dan ditsiqqatkan juga oleh para muhaddits yang lain”.



KESIMPULAN:
Keempat hadis (melalui jalur ‘Abdullah bin ‘Abbas) di atas saling menguatkan antara yang satu dengan yang lain, sehingga naiklah derajat hadis tersebut dan dapat dijadikan sebagai hujjah (landasan/pedoman/dalil).







BIBLIOGRAFI

Al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzî (at-Tirmidzî/al-Imâm al-Hâfidz Abî ‘Îsâ
Muhammad bin ‘Îsâ bin Saurah at-Tirmidzî).
Al-Mu’jam al-Ashghâr (ath-Thabranî /Sulaiman bin Ahmad ath-Thabranî).
Al-Mu’jam al-Kabîr (ath-Thabranî /Sulaiman bin Ahmad ath-Thabranî).
Asbâb an-Nuzûl li al-Wâhidî (al-Wâhidî).
Ash-Shahîh al-Musnad min Asbâb al-Nuzûl (Asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-
Wadi’î).
Fath al-Bâri bi Syarh Shahîh al-Imâm Abî ‘Abdullâh Muhammad bin Isma’îl al-
Bukhârî (Al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Asqalanî/Ahmad bin ‘Alî bin Hajar al-
Asqalanî).
Jami' at-Tahshîl (‘Ali ibn al-Madinî).
Jâmi’ al-Bayâni fi at-Ta’wîl al-Qur’âni (Ibnu Jarîr/Abu Ja’far ath-Thabarî
Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr bin Ghâlib al-Âmalî).
Kasyf al-Atsar (Al-Bazzâr/Ahmad bin ‘Amar Al-Bazzâr).
Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûli (as-Suyûthî/Imâm Jalâludin as-Suyûthî).
Majma’ al-Zawâid wa Manba’ al-Fawâid (al-Haitsamî).
Sunan Abî Dâwud (Abû Dâwud/al-Imâm al-Hâfidz al-Mushannif al-Mutqan Abî
Dâwud Sulaimân Ibnu al-‘Asy’ats as-Sijistânî al-Azadî).
Tahdzîb at-Tahdzîb (Al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Asqalanî/Ahmad bin ‘Alî bin Hajar
al-Asqalanî).
Târîkh Baghdad (Al-Khâtib al-Baghdadî/Abu Bakar Ahmad bin ‘Alî bin Tsâbit
al-Khâtib al-Baghdadî).




Kamis, 30 Juni 2011

Asbâbun Nuzûl Surat ali-‘Imran (3) ayat: 154


Asbâbun Nuzûl Surat ali-‘Imran (3) ayat: 154

ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَى طَائِفَةً مِنْكُمْ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الأمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لا يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَا هُنَا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (١٥٤)
154. Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?". Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati.



Imâm at-Tirmidzî meriwayatkan dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (4/84):
“Telah bercerita kepada kami (at-Tirmidzî) ‘Abd bin Humaid, katanya (‘Abd bin Humaid): “Rauh bin ‘Ubadah telah bercerita kepada kami (‘Abd bin Humaid) dari Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas dari Abu Thalhah, katanya (Abu Thalhah): “Saya mengangkat kepalaku pada waktu perang Uhud, lalu saya pun melihat ternyata tidak satu pun dari mereka melainkan bergoyang di bawah perisainya karena mengantuk. Itulah firman Allah SWT:
ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَى طَائِفَةً مِنْكُمْ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الأمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لا يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَا هُنَا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (١٥٤)
154. Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?". Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati”.


KETERANGAN:
Kata at-Tirmidzî: “Hadis di atas berkualitas hasan shahih”. Lalu kata beliau (at-Tirmidzî):
“Abd bin Humaid telah bercerita kepada kami (at-Tirmidzî), katanya (‘Abd bin Humaid): “Rauh bin ‘Ubadah telah bercerita kepada kami (‘Abd bin Humaid) dari Hammad bin Salamah dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya (ayahnya Hisyam bin ‘Urwah) dari az-Zubair, dengan redaksi (matan) yang sama dengan periwayatan (hadis at-Tirmidzî) di atas”.






Imâm Jalâludin as-Suyûthî mengeluarkan dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûlinya (Juz. 4, 3/ali-‘Imran) dengan menisbahkan kepada Ahmad bin Rahawaih dalam Mathâlib al-‘Aliyahnya (4/219):
“Dikemukakan oleh Ahmad bin Rahawaih yang bersumber dari az-Zubair. Az-Zubair berkata: “Sungguh aku yakin bahwa pada hari perang Uhud, kami (kaum muslim) merasa ketakutan yang luar biasa, dan Allah SWT. mengirimkan kami rasa mengantuk sehingga terkelap (dagunya terkulai di dadanya). Demi Allah, saya betul-betul mendengar seperti mimpi ucapan Mutib bin Qusyair (sebagaimana dalam ayat):
........ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَا هُنَا...................
“Saya (az-Zubair) pun menghafalnya, lalu Allah SWT. menurunkan firman-Nya tentang itu:
ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَى طَائِفَةً مِنْكُمْ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الأمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لا يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَا هُنَا..................
“Karena ucapan Mutib bin Qusyair, katanya (sebagaimana dalam ayat):
................. لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ."


KETERANGAN:
Kata Imâm Jalâludin as-Suyûthî: “Hadis yang ia keluarkan di atas berkualitas hasan shahih.






CATATAN:
Ungkapan at-Tirmidzî dan para ahli Hadis yang lain mengenai: “Hadis ini berkualitas hasan shahih”. Makna ungkapan tersebut ada beberapa pendapat, di antaranya:
1.      Hadis tersebut memiliki dua sanad (jalur perawi hadis), yakni shahih dan hasan.
2.  Terjadi perbedaan dalam penilaian hadis, sebagian berpendapat shahih dan golongan lain berpendapat hasan.
3.       Atau dinilai hasan lidzatihi atau shahih lighayrihi.







BIBLIOGRAFI

Al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzî (at-Tirmidzî/al-Imâm al-Hâfidz Abî ‘Îsâ
Muhammad bin ‘Îsâ bin Saurah at-Tirmidzî).
Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûli (as-Suyûthî/Imâm Jalâludin as-Suyûthî).
Mathâlib al-‘Aliyah (Muhammad bin Rahawaih/Ibnu Rahawaih).



Senin, 27 Juni 2011

Asbâbun Nuzûl Surat ali-‘Imran (3) ayat: 144

Asbâbun Nuzûl Surat ali-‘Imran (3) ayat: 144

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ (١٤٤)
144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? . Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.



Imâm Jalâludin as-Suyûthî mengeluarkan dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûlinya (Juz. 4, 3/ali-‘Imran) dengan menisbahkan kepada Ibnu al-Mundzîr dalam Tafsîr Ibn al-Mundzirnya:
“Dikemukakan oleh Ibnu al-Mundzîr yang bersumber dari Umar bin al-Khatthab. Umar bin al-Khatthab berkata: “Kami (para sahabat) terpisah dari Rasulullah SAW. pada perang Uhud, lalu kami (para sahabat) naik gunung mendengar orang-orang Yahudi berteriak: “(Nabi) Muhammad telah terbunuh!”. Saya pun berteriak: “Telingaku tidak mau mendengar seorang pun yang berkata (Nabi) Muhammad terbunuh, dia pasti kupancung lehernya”. Lalu saya (Umar bin al-Khatthab) melihat Rasulullah SAW. dan orang-orang yang mendampingi Beliau kembali ke posnya masing-masing. Maka turunlah ayat:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ (١٤٤)
144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? . Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.




Imâm Jalâludin as-Suyûthî mengeluarkan dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûlinya (Juz. 4, 3/ali-‘Imran) dengan menisbahkan kepada Ibnu Abî Hâtim dalam Tafsîr Ibn Abî Hâtimnya:
“Dikemukakan oleh Ibnu Abî Hâtim yang bersumber dari ar-Rabi’. Ar-Rabi’ berkata: “Ketika orang-orang Islam terkena musibah, yaitu luka-luka parah di perang Uhud, mereka menyebut-nyebut Nabiyullah (Muhammad SAW.), sementara ada yang berteriak: “Dia (Nabi Muhammad) telah terbunuh”. Sebagian lagi berkata: “Kalau dia (Nabi Muhammad) seorang Nabi dia (Nabi Muhammad) tidak akan terbunuh”. Yang lain berkata: “Berperanglah mengikuti jejak Rasulullah SAW. sehingga mendapat kemenangan atau mati syahid bersama Beliau (Nabi Muhammad). Maka Allah SWT. menurunkan ayat:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ (١٤٤)
144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? . Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.





Imâm Jalâludin as-Suyûthî mengeluarkan dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûlinya (Juz. 4, 3/ali-‘Imran) dengan menisbahkan kepada al-Baihaqî dalam kitab ad-Dalâilnya:
“Dikemukakan oleh al-Baihaqî yang bersumber dari Abî Nâjih, bahwa ada seorang lelaki dari kaum Muhajirin bertemu dengan seorang lelaki kaum Anshar yang sedang berlumuran darah segar, dan berkatalah ia (seorang lelaki dari kaum Muhajirin): “Tahukah engkau bahwa (Nabi) Muhammad SAW. telah terbunuh?”. Lelaki Anshar tersebut menjawab: “Seandainya (Nabi) Muhammad terbunuh, maka ia (Nabi Muhammad) telah sampai kepada tujuan sebaik-baiknya. Maka berperanglah kamu untuk membela agamamu”. Maka turunlah ayat:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ (١٤٤)
144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? . Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.





Imâm Jalâludin as-Suyûthî mengeluarkan dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûlinya (Juz. 4, 3/ali-‘Imran) dengan menisbahkan kepada Ahmad bin Rahawaih dalam Musnad Ahmad Ibn Rahawaihnya:
“Dikemukakan oleh Ahmad bin Rahawaih yang bersumber dari az-Zuhrî, bahwa Setan berteriak-teriak pada waktu perang Uhud: “Bahwa (Nabi) Muhammad telah terbunuh!”. Berkatalah Ka’b bin Malik: “Aku lah orang pertama kali mengenali Rasulullah SAW. dari balik topi besinya, lantas ia (Ka’b bin Malik) berteriak sekuat tenaganya: “Ini dia Rasulullah SAW!”. Maka Allah SWT. menurunkan ayat:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ (١٤٤)
144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? . Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.

KETERANGAN:
Kata Imâm Jalâludin as-Suyûthî: “Hadis-hadis yang ia keluarkan di atas berkualitas Hasan”.








BIBLIOGRAFI

Ad-Dalâil (al-Baihaqî).
Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûli (as-Suyûthî/Imâm Jalâludin as-Suyûthî).
Musnad Ahmad Ibn Rahawaih (Ibnu Rahawaih/Muhammad bin Rahawaih).
Tafsîr Ibn Abî Hâtim (Ibnu Abî Hâtim).
Tafsîr Ibn al-Mundzîr (Ibnu al-Mundzîr).