Senin, 03 Desember 2012

Asbâbun Nuzûl Surat al-Baqarah (2), Ayat: 196

Asbâbun Nuzûl Surat al-Baqarah (2), Ayat: 196

وَأَتِمُّوْا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلاَ تَحْلِقُوْا رُءُوْسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّنْ رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَالِكَ لِمَنْ لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاتَّقُوْا اللهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ (١٩٦)
196. Dan sempurnakanlah ibadah Haji dan 'Umrah karena Allâh. Jika kalian terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) Qurban yang mudah didapat, dan janganlah kalian mencukur Kepala (Rambut) kalian, sebelum Qurban sampai di tempat penyembelihannya. Jika di antara kalian ada yang sakit atau ada gangguan di Kepalanya (di Rambutnya lalu ia bercukur), maka wajib atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berqurban. Apabila kalian telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'Umrah sebelum Haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah ia menyembelih) Qurban yang mudah didapat. Akan tetapi jika ia tidak menemukan (binatang Qurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa Haji dan tujuh hari (lagi) apabila kalian telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar Fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allâh, dan ketahuilah bahwa Allâh sangat keras siksaan-Nya.






Al-Imâm al-Hâfizh[1] Bukhârî[2] meriwayatkan dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (No. Hadis: 1687):
حَدَّثَنَا أَبُوْ نُعَيْمٍ, قَالَ: حَدَّثَنَا سَيْفٌ, قَالَ: حَدَّثَنِيْ مُجَاهِدٌ, قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِيْ لَيْلَى, أَنَّ كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ حَدَّثَهُ, قَالَ: وَقَفَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحُدَيْبِيَةِ, وَرَأْسِيْ يَتَهَافَتُ قَمْلًا. فَقَالَ: يُؤْذِيْكَ هَوَامُّكَ؟. قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَ: فَاحْلِقْ رَأْسَكَ, أَوْ قَالَ: احْلِقْ. قَالَ: فِيَّ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: (........فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّنْ رَّأْسِهِ.......) إِلَى آخِرِهَا. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ, أَوْ تَصَدَّقْ بِفَرَقٍ بَيْنَ سِتَّةٍ, أَوْ انْسُكْ بِمَا تَيَسَّرَ.
"Abû Nu’aim[3] telah bercerita kepada kami (kepada Bukhârî), dia (Abû Nu’aim) berkata: "Saif bin Sulaimân[4] telah bercerita kepada kami (kepada Abû Nu’aim), dia (Saif bin Sulaimân) berkata: "Mujâhid[5] telah bercerita kepada saya (kepada Saif bin Sulaimân), dia (Mujâhid) berkata: "Saya (Mujâhid) telah mendengar 'Abdurrahmân bin Abî Laylâ[6], bahwasannya Ka'b bin 'Ujrah[7] telah bercerita kepadanya (kepada 'Abdurrahmân bin Abî Laylâ), dia (Ka'b bin 'Ujrah) berkata: "Rasûlullâh SAW. pernah berdiri di hadapanku (di hadapan Ka'b bin 'Ujrah) pada saat di Hudaybiyah, sedangkan saya (Ka'b bin 'Ujrah) dalam keadaan Kutu berjatuhan dari kepalaku". Beliau SAW. berkata: "Apakah Kutu itu menyakitimu (mengganggu Ka'b bin 'Ujrah)?". Saya (Ka'b bin 'Ujrah) berkata: "Iya". Beliau SAW. bersabda: "Cukurlah kepalamu (kepala K`'b bin 'Ujrah)", atau beliau SAW. berkata: "Bercukurlah". Tentang aku (Ka'b bin 'Ujrah) lah Ayat ini turun (Surat al-Baqarah, Ayat: 196):
......... فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّنْ رَّأْسِهِ .......... (١٩٦)
196. …………. Jika di antara kalian ada yang sakit atau ada gangguan di kepalanya………….".


"(Ka'b bin 'Ujrah melanjutkan perkataannya): "Kemudian Nabi SAW. bersabda: "Berpuasalah tiga hari, atau bersedekah dengan satu faraq (16 ritl) untuk enam Orang Miskîn, atau berqurbanlah (sembelihlah Binatang Qurban) yang mudah (didapat)".




KETERANGAN (dari para Muhadditsîn[8]):
Hadis di atas berkualitas shahîh[9], karena semua rawinya tsiqqât[10].
1.        Al-Hâfizh Bukhârî juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (No. Hadis: 3870).
2.  Al-Hâfizh Muslim[11] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li Muslimnya (No. Hadis: 2081, 2082, dan 2086).
3.  Al-Hâfizh at-Tirmidzî[12] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (No. Hadis: 2899), dan kata al-Hâfizh at-Tirmidzî: “Hadis yang ia (at-Tirmidzî) riwayatkan berkualitas hasan shahîh”.
4.     Al-Hâfizh Abû Dâwud[13] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Sunan Abî Dâwudnya (No. Hadis: 1586).
5.   Al-Hâfizh an-Nasâ-î[14] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Sunan an-Nasâ-î al-Kubrânya (No. Hadis: 4113 dan 11031).
6.     Al-Hâfizh Ibnu Mâjah[15] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Sunan Ibn Mâjahnya (No. Hadis: 3070).
7.    Al-Hâfizh Ahmad bin Hanbal[16] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (No. Hadis: 17406, dan 17426).
8.   Al-Hâfizh ad-Dâruquthnî[17] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Sunan ad-Dâruquthnînya (No. Hadis: 2814, dan 2816).
9.     Al-Hâfizh ath-Thabrânî[18] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam al-Mu’jam al-Kabîrnya (19/137), atau (No. Hadis: 300-302).
10.  Al-Hâfizh ath-Thayâlisî[19] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Musnad Abû Dâwud ath-Thayâlisînya (2/13), atau (No. Hadis: 1158, dan 1161).
11.    Al-Hâfizh Ibnu Abî Hâtim[20] juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Tafsîr Ibn Abî Hâtimnya (No. Hadis: 1813).
12.    Imâm Ibnu Jarîr[21] juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurânnya (3/382-3/384, dan 3/386-3/387) [22].
13. Al-Hâfizh Ibnu Katsir[23] juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîmnya (Jilid. 1, Juz. 1, halaman: 535)[24], dengan menyandarkan kepada Riwayat al-Hâfizh Bukhârî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (No. Hadis: 1687 dan 3870).
14.  Al-Hâfizh Jalâluddîn as-Suyûthî[25] juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 2, 2/al-Baqarah), dengan menisbahkan kepada Riwayat al-Hâfizh Bukhârî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (No. Hadis: 1687 dan 3870).
15.  Imâm al-Wâhidî juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam Asbâb an-Nuzûl li al-Wâhidînya (halaman: 39).
16. Abû ‘Awânah[26] juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam Mustakhraj Abî ‘Awânahnya (No. Hadis: 2972, dan 2975).















Al-Hâfizh ath-Thabrânî[27] meriwayatkan dalam al-Mu’jam al-Awsathnya (No. Hadis: 1883):
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ, قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ, قَالَ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ طَهْمَانَ، عَنْ أَبِيْ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِيْ رَبَاحٍ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ يَعْلَى بْنِ أُمَيَّةَ، عَنْ أَبِيْهِ, قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَضَمِّخٌ بِالْخَلُوْقِ، عَلَيْهِ مُقَطِّعَاتٍ، قَدْ أَحْرَمَ بِعُمْرَةِ. فَقَالَ: كَيْفَ تَأْمُرُنِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ فِيْ عُمْرَتِيْ؟. فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: (وَأَتِمُّوْا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ........). فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنِ السَّائِلُ عَنِ الْعُمْرَةِ؟. فَقَالَ: أَنَا. فَقَالَ: أَلْقِ ثِيَابَكَ، وَاغْتَسِلْ، وَاسْتَنْشِقْ مَا اسْتَطَعْتَ. وَمَا كُنْتَ صَانِعًا فِيْ حِجَّتِكَ, فَاصْنَعْهُ فِيْ عُمْرَتِكَ.
قَالَ: لَمْ يَرَوْ هَذَا الْحَدِيْثِ عَنْ أَبِيْ الزُّبَيْرِ إِلاَّ إِبْرَاهِيْمَ، وَلَمْ يَدْخُلْ أَبُوْ الزُّبَيْرُ بَيْنَ عَطَاءٍ وَصَفْوَانٍ أَحَدًا. وَرَوَاهُ مُجَاهِدٌ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ يَعْلَى، عَنْ أَبِيْهِ.
"Ahmad bin Hanbal[28] telah bercerita kepada kami (kepada ath-Thabrânî), dia (Ahmad bin Hanbal) berkata: "Muhammad bin Sâbiq[29] telah bercerita kepada kami (kepada Ahmad bin Hanbal), dia (Muhammad bin Sâbiq) berkata: "Ibrâhîm bin Thahmân[30] telah bercerita kepada kami (kepada Muhammad bin Sâbiq), dari Abû az-Zubair[31], dari 'Athâ bin Abî Rabâh[32], dari Shafwân bin Ya'lâ bin Umaŷah[33], dari bapaknya (yang bernama: Ya'lâ bin Umaŷah bin Abî 'Ubaidah[34]), dia (Ya'lâ bin Umaŷah bin Abî 'Ubaidah) berkata: "Seorang lelaki dengan memakai Jubah yang semerbak harum Parfum datang (dan bertanya) kepada Nabi SAW; dan ia (lelaki yang memakai Jubah semerbak harum Parfum) telah berihram untuk 'Umrah. Dia (lelaki yang memakai Jubah semerbak harum Parfum) berkata: "Wahai Rasûlullâh SAW; bagaimana perintah anda (Nabi SAW.) dalam 'Umrah saya?". Maka Allâh SWT. menurunkan (Surat al-Baqarah, Ayat: 196):
وَأَتِمُّوْا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ......... (١٩٦)
196. Dan sempurnakanlah ibadah Haji dan 'Umrah karena Allâh. ……………….".


"(Ya'lâ bin Umaŷah bin Abî 'Ubaidah melanjutkan perkataannya) maka Rasûlullâh SAW. berkata: "Siapa tadi yang bertanya tentang 'Umrah?". Dia (lelaki yang memakai Jubah semerbak harum Parfum) berkata: "Saya". Maka beliau SAW. bersabda: "Lepaskan pakaianmu, mandi dan beristinsyaqlah[35] semampumu. Dan apa yang kamu (lelaki yang memakai Jubah semerbak harum Parfum) lakukan dalam Hajimu, maka lakukanlah pula dalam 'Umrahmu".

"Dia (ath-Thabrânî) berkata: "Tidak ada yang meriwayatkan Hadis ini dari Abû az-Zubair selain Ibrâhîm bin Thahmân, dan Abû az-Zubair tidak memasukkan seorangpun antara 'Athâ bin Abî Rabâh dan Shafwân bin Ya'lâ bin Umaŷah. Diriwayatkan pula oleh Mujâhid, dari 'Athâ bin Abî Rabâh, dari Shafwân bin Ya'lâ bin Umaŷah, dari ayahnya (namanya yaitu: Ya'lâ bin Umaŷah bin Abî 'Ubaidah)". [36]




KETERANGAN (dari para Muhadditsîn[37]):
Hadis di atas berkualitas shahîh[38], karena semua rawinya tsiqqât[39].
1.        Al-Hâfizh Ibnu Abî Hâtim juga meriwayatkan sebagaimana Hadis di atas dalam Tafsîr Ibn Abî Hâtimnya (No. Hadis: 1791).
2.      Al-Hâfizh Ibnu 'Abdul Barr juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam at-Tamhîd (2/249 – 2/252).
3.        Al-Hâfizh Abû Nu'aim juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam ad-Dalâil (1/225) atau (No. Hadis: 176).
4.      Al-Hâfizh Jalâluddîn as-Suyûthî juga mengeluarkan sebagaimana Hadis di atas dalam Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûlnya (Juz. 2, 2/al-Baqarah), dengan menisbahkan kepada Riwayat al-Hâfizh Ibnu Abî Hâtim dalam Tafsîr Ibn Abî Hâtimnya (No. Hadis: 1791).






PENJELASAN (dari asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î):
Kata asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î dalam ash-Shahîh al-Musnad min Asbâb an-Nuzûlnya (Surat al-Baqarah, Ayat: 196): “Hadis riwayat ath-Thabrânî di atas juga terdapat dalam riwayat Shahîhayn (Shahîh Bukhârî dan Muslim), akan tetapi tidak terdapat keterangan turunnya Ayat (Surat al-Baqarah, Ayat: 196)".

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î melanjutkan perkataannya: "Kata al-Hâfizh al-Haitsamî dalam Majma' az-Zawâid wa Manba' al-Fawâidnya (3/205): "Diriwayatkan oleh ath-Thabrânî dalam al-Mu'jam al-Awsath (No. Hadis: 1883), dan rawi-rawinya adalah para rawi Kitâb Shahîh". Al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânî menyebutkan Riwayat ath-Thabrânî dalam Fath al-Bârî bi Syarh Shahîh al-Bukhârînya, akan tetapi ia (al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânî) mendiamkannya (maksudnya: al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalânî tidak menilai kualitas Hadis riwayat ath-Thabrânî)".

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î melanjutkan perkataannya: "Adapun anggapan GHARÎB Riwayat ath-Thabrânî oleh Ibnu Katsîr dalam Tafsîr al-Qurân al-'Azhîmnya (1/532)[40] adalah tidak tepat, karena Riwayat ath-Thabrânî menjelaskan Hadis yang terdapat dalam Shahîhayn (Shahîh Bukhârî dan Muslim)".

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î melanjutkan perkataannya: "Sedangkan dalam Riwayat Ibnu Abî Hâtim (No. Hadis: 1791), secara kasat mata (zhahîrnya) menunjukkan gugurnya kalimat: DARI AYAHNYA (namanya yaitu: Ya'lâ bin Umaŷah bin Abî 'Ubaidah). Sehingga Hadis riwayat Ibnu Abî Hâtim berasal dari Shafwân bin Ya'lâ bin Umaŷah, dari ayahnya (namanya yaitu: Ya'lâ bin Umaŷah bin Abî 'Ubaidah), sebagaimana dalam Shahîhayn (Shahîh Bukhârî dan Muslim), al-Mu'jam al-Awsath li ath-Thabrânî, dan dalam Kitâb-kitâb Hadis selain keduanya".






PENJELASAN (kedudukan hadis di atas):
Atsar[41] Ka'b bin 'Ujrah dan Ya'lâ bin Umaŷah di atas digolongkan Mawqûf li hukmi Marfû’, maksudnya: hadis Mawqûf[42] yang dihukumi Marfû’[43]. Karena para Muhadditsîn[44] telah bersepakat bahwa: “Ada beberapa macam Mawqûf yang dihukumi Marfû’, dan salah satunya yaitu: penafsiran para Sahabat yang berkaitan dengan sebab turunnya (asbâb an-nuzûl) suatu Ayat”.
Sebagaimana penjelasan para Muhadditsîn tersebut, maka Atsar Ka'b bin 'Ujrah dan Ya'lâ bin Umaŷah di atas tergolong hadis Mawqûf yang dihukumi Marfû’ oleh para Muhadditsîn, sehingga (hadis Ka'b bin 'Ujrah dan Ya'lâ bin Umaŷah di atas) dapat dijadikan sebagai huĵah (pedoman/ landasan) dalam hukum Syara’ (Islâm).





KESIMPULAN:
Surat al-Baqarah, Ayat: 196 memiliki 2 Asbâbun Nuzûl, yaitu:
1.    Mengenai Ka'b bin 'Ujrah yang merasa terganggu (tersakiti) oleh Kutu yang ada di Kepalanya.
2.  Mengenai seorang lelaki dengan memakai Jubah yang semerbak harum Parfum yang datang dan bertanya mengenai 'Umrah kepada Nabi SAW.







BIBLIOGRAFI

Al-Âhâd wa al-Matsânî li Ibn Abî 'Âshim (al-Hâfizh Ibnu Abî 'Âshim).
Al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârî (al-Imâm al-Hâfizh al-Bukhârî/ Muhammad bin
Ismâ’îl bin Ibrâhîm bin al-Mughîrah bin Bardizbah).
Al-Jâmi’ ash-Shahîh li Muslim (al-Imâm al-Hâfizh Muslim/ Muslim bin al-Hajjâj bin
Muslim bin Warad).
Al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzî (al-Hâfizh at-Tirmidzî/ Muhammad bin Îsâ
bin Saurah bin Mûsâ bin adh-Dhahâk).
Al-Mu’jam al-Awsath (al-Hâfizh ath-Thabrânî/ Sulaimân bin Ahmad bin Aŷûb bin
Muthîr).
Al-Mu’jam al-Kabîr (al-Hâfizh ath-Thabrânî/ Sulaimân bin Ahmad bin Aŷûb bin
Muthîr).
Asbâb an-Nuzûl li al-Wâhidî (Imâm al-Wâhidî).
Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân (Imâm Ibnu Jarîr/ Muhammad bin Jarîr bin
Yazîd bin Katsîr bin Ghâlib).
Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûl (al-Hâfizh as-Suyûthî/ ‘Abdurrahmân bin Abî
Bakr).
Musnad Abû Dâwud ath-Thayâlisî (al-Hâfizh ath-Thayâlisî/ Sulaimân bin Dâwud bin
al-Jarûd).
Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbal (al-Imâm al-Hâfizh Ahmad bin Hanbal/ Ahmad
bin Muhammad bin Hanbal bin Hilâl bin Asad).
Mustakhraj Abî ‘Awânah (Abû ‘Awânah/ Wadhâh bin ‘Abdullâh Maulâ Yazîd bin
‘Athâ’).
Shahîh Ibn Hibbân (al-Hâfizh Ibnu Hibbân/ Muhammad bin Hibbân bin Ahmad bin
Hibbân bin Mu’âdz bin Ma’bad).
Sunan Abî Dâwud (al-Hâfizh Abû Dâwud/ Sulaimân bin al-Asy’ats bin Syadâd bin
‘Amrû bin ‘Âmir).
Sunan ad-Dâruquthnî (al-Hâfizh ad-Dâruquthnî/ ‘Alî bin ‘Umar bin Ahmad bin
Mahdî bin Mas’ûd bin an-Nu’mân bin Dînâr).
Sunan an-Nasâ-î al-Kubrâ (al-Hâfizh an-Nasâ-î/ Ahmad bin Syu’aib bin ‘Alî bin
Sunân bin Bahr).
Sunan Ibn Mâjah (al-Hâfizh Ibnu Mâjah/ Muhammad bin Yazîd).
Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm (al-Hâfizh Ibnu Katsîr/ Ismâ’îl bin ‘Amr bin Katsîr).
Tafsîr Ibn Abî Hâtim (al-Hâfizh Ibnu Abî Hâtim/ ‘Abdurrahmân bin Abî Hâtim).






















[1] Al-Hâfizh adalah: Gelar ahli hadis yang dapat men-shahîh-kan sanad serta matan hadis, dan dapat men-ta’dîl-kan dan men-jarh-kan para perawi hadis, serta seorang Hâfizh itu harus mempunyai kapasitas menghafal 100.000 hadis. Contoh para Huffâzh: Ahmad bin Hanbal, Yahyâ bin Ma’în, ‘Alî bin al-Madînî, Bukhârî, Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, ad-Dârimî, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, ad-Dâruquthnî, ath-Thabrânî, al-Bayhaqî, al-Hâkim, Zainuddîn ‘Abdurrahîm al-‘Irâqî, Syarafuddîn ad-Dimyathî, Ibnu Hajar al-‘Asqalânî, al-Mizzî, al-Haitsamî, adz-Dzahabî, Abû Zar’ah ar-Râzî, Abû Hâtim ar-Râzî, Ibnu Hazm, Ibnu Abî Hâtim, Ibnu ‘Adî, Ibnu al-Mundzir, Ibnu ‘Abdul Bâr, Ibnu Katsîr, Ibnu as-Sakan, Jalâluddîn as-Suyûthî, Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, dan sebagainya.

[2] Nama sebenarnya yaitu: Muhammad bin Ismâ’îl bin Ibrâhîm bin al-Mughîrah bin Bardizbah. Ia (Bukhârî) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ pertengahan. Dan ia (Bukhârî) juga merupakan seorang tsiqqah mutqan al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang kuat lagi kokoh, al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (Bukhârî) juga seorang pakar hadîts (hadis), tafsîr (tafsir), fiqh (fiqih), târîkh (sejarah) dan lughah (gramatika). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Ju’fŷ al-Bukhârî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdullâh. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh Bukhârî. Ia (Bukhârî) lahir di Bukhârâ pada tahun 194 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Madînah. Ia (Bukhârî) wafat di desa Khartank (wilayah Samarqand) pada tahun 256 Hijriyah.

[3] Nama sebenarnya yaitu: al-Fadhl bin Dakyan bin Hammâd bin Zuhair. Ia (Abû Nu’aim) merupakan seorang Tabi’ Tâbi’în junior. Ia (Abû Nu’aim) adalah seorang tsiqqah tsabat (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang konsisten). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Malâ-î at-Taymiy. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Nu’aim. Laqab (gelar/titel) nya: al-Ahwal. Tempat tinggalnya di Kûfah. Ia (Abû Nu’aim) wafat di Kûfah pada tahun 218 Hijriyah.

[4] Namanya yaitu: Saif bin Sulaimân. Ia (Saif bin Sulaimân) hidup bersama Tâbi’în junior, akan tetapi ia (Saif bin Sulaimân) tidak bertemu dengan Sahabat Nabi SAW. Ia (Saif bin Sulaimân) adalah seorang tsiqqah tsabat (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang konsisten). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Makhzûmî al-Makkî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Sulaimân. Tempat tinggalnya di Bashrah. Ia (Saif bin Sulaimân) wafat pada tahun 156 Hijriyah.

[5] Nama lengkapnya yaitu: Mujâhid bin Jabar. Ia (Mujâhid) merupakan seorang Tâbi’în pertengahan. Ia (Mujâhid) adalah seorang yang tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Makhzûmî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû al-Haĵâj. Tempat tinggalnya di Marwa ar-Ruwadz (salah satu Kota di Khurrâsân). Ia (Mujâhid) wafat di Marwa ar-Ruwadz pada tahun 102 Hijriyah.

[6] Nama lengkapnya yaitu: 'Abdurrahmân bin Abî Laylâ Yasâr. Ia ('Abdurrahmân bin Abî Laylâ) merupakan seorang Tâbi’în senior. Ia ('Abdurrahmân bin Abî Laylâ) adalah seorang yang tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Anshârî al-Awsî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû 'Îsâ. Tempat tinggalnya di Kûfah. Ia ('Abdurrahmân bin Abî Laylâ) wafat di Darayâ pada tahun 83 Hijriyah.

[7] Namanya yaitu: Ka'b bin 'Ujrah. Ia (Ka'b bin 'Ujrah) merupakan salah satu Sahabat Nabi SAW. Semua Sahabat Nabi SAW. tsiqqah dan ‘âdl. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Anshârî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Muhammad. Tempat tinggalnya di Madînah. Ia (Ka'b bin 'Ujrah) wafat di Madînah pada tahun 51 Hijriyah.

[8] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan antara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm asy-Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.

[9] Hadis Shahîh ialah: Hadis yang bersambung (muttashil) sanadnya, diriwayatkan oleh orang yang ‘âdl (‘âdl yaitu: orang yang istiqamah dalam beragama, baik akhlaqnya, tidak fasiq dan tidak melakukan cacat muru’ah), sempurna ke-dhabith-annya, tidak ada keganjilan (syadzdz), dan tidak ada kecacatan (‘illat).

[10] Tsiqqât adalah: Para perawi hadis yang kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya.

[11] Nama lengkapnya yaitu: Muslim bin al-Hajjâj bin Muslim bin Warad. Ia (Imâm Muslim) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ dekat pertengahan. Dan ia (Imâm Muslim) juga merupakan seorang tsiqqah al-Imâm al-Hâfizh al-Hujjah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm al-Hâfizh dan al-Hujjah). Ia (Imâm Muslim) juga seorang pakar hadîts (hadis) terkemuka. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Qusyairî an-Naysâbûrî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû al-Husain. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh Muslim. Ia (Imâm Muslim) lahir di Naysâbûr (Kota kecil yang ada di negara Iran) pada tahun 204 atau 206 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Naysâbûr. Ia (Imâm Muslim) wafat di Naysâbûr pada tahun 261 Hijriyah.

[12] Nama sebenarnya yaitu: Muhammad bin 'Îsâ bin Saurah bin Mûsâ bin adh-Dhaĥâk. Ia (at-Tirmidzî) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ junior. Dan ia (at-Tirmidzî) juga merupakan seorang tsiqqah al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (at-Tirmidzî) juga seorang pakar hadîts (hadis) dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: as-Sulamî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Îsâ. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh at-Tirmidzî. Ia (at-Tirmidzî) lahir di Turmudzî (Kota kecil yang terletak di sebelah Utara negara Iran) pada tahun 209 atau 210 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Turmudzî. Ia (at-Tirmidzî) wafat pada tahun 279 Hijriyah di daerah Bugh, yaitu suatu daerah yang dekat dengan daerah Turmudzî.

[13] Nama sebenarnya yaitu: Sulaimân bin al-Asy’ats bin Syadâd bin ‘Amrû bin ‘Âmir. Ia (Abû Dâwud) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ dekat pertengahan. Dan ia (Abû Dâwud) juga merupakan seorang tsiqqah mutqan al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang kuat lagi kokoh, al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (Abû Dâwud) juga seorang pakar hadîts (hadis), dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Azdî as-Sijistânî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Dâwud. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh Abû Dâwud. Ia (Abû Dâwud) lahir di Sijistân (suatu Daerah yang terletak antara negara Iran dan Afghanistan) pada tahun 202 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Bashrah. Ia (Abû Dâwud) wafat di Bashrah pada tahun 275 Hijriyah.

[14] Nama sebenarnya yaitu: Ahmad bin Syu’aib bin ‘Alî bin Sunân bin Bahr. Ia (an-Nasâ-î) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ junior. Dan ia (an-Nasâ-î) juga merupakan seorang tsiqqah al-Qâdhî al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm al-Hâfizh dan seorang Hakim di Mesir). Ia (an-Nasâ-î) juga seorang pakar hadîts (hadis) dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: an-Nasâ-î an-Nasawy. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdurrahmân. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh an-Nasâ-î. Ia (an-Nasâ-î) lahir di Kota Nasâ (wilayah Khurrâsân) pada tahun 215 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Mesir. Ia (an-Nasâ-î) wafat di Ramalah (wilayah Palestina) pada tahun 303 Hijriyah; ia (an-Nasâ-î) dimakamkan di Baitul Maqdis (Palestina). Ia (an-Nasâ-î) berusia 88 tahun.

[15] Nama sebenarnya yaitu: Muhammad bin Yazîd. Ia (Ibnu Mâjah) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ junior. Dan ia (Ibnu Mâjah) juga merupakan seorang tsiqqah al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (Ibnu Mâjah) juga seorang pakar hadîts (hadis), tafsîr (tafsir), fiqh (fikih), dan târîkh (sejarah). Nasab (keturunan) nya yaitu: ar-Rabi’î al-Qazwînî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdullâh. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh Ibn Mâjah. Ia (Ibnu Mâjah) lahir di Qazwîn (Kota besar yang ada di negara Iran) pada tahun 207 atau 209 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Qazwîn. Ia (Ibnu Mâjah) wafat pada tahun 273 Hijriyah.

[16] Nama sebenarnya yaitu: Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilâl bin Asad. Ia (Ahmad bin Hanbal) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ senior. Dan ia (Ahmad bin Hanbal) juga merupakan seorang tsiqqah mutqan al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm al-Hâfizh yang kuat dan kokoh). Ia (Ahmad bin Hanbal) juga seorang pakar hadîts (hadis) dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: asy-Syaibânî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdullâh. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh Ahmad Ibn Hanbal. Ia (Ahmad bin Hanbal) lahir di Baghdâd pada tahun 164 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Baghdâd. Ia (Ahmad bin Hanbal) wafat di Baghdâd pada tahun 241 Hijriyah.

[17] Nama sebenarnya yaitu: ‘Alî bin ‘Umar bin Ahmad bin Mahdî bin Mas’ûd bin an-Nu’mân bin Dînâr. Ia (ad-Dâruquthnî) merupakan seorang tsiqqah al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm dan al-Hâfizh). Ia (ad-Dâruquthnî) juga seorang pakar lughah (gramatika) hadîts (hadis), dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: ad-Dâruquthnŷ al-Baghdâdî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû al-Hasan. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh ad-Dâruquthnî. Ia (ad-Dâruquthnî) lahir di Dâr al-Qathn (salah satu Kota yang terletak di Baghdâd) pada tahun 306 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Dâr al-Qathn. Ia (ad-Dâruquthnî) wafat Dâr al-Qathn pada tahun 385 Hijriyah.

[18] Nama sebenarnya yaitu: Sulaimân bin Ahmad bin Aŷûb bin Muthîr. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Lakhamî asy-Syâmî ath-Thabrânî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû al-Qâsim. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh ath-Thabrânî. Ia (ath-Thabrânî) adalah seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Ia (ath-Thabrânî) juga seorang pakar tafsîr (tafsir) dan hadîts (hadis). Ia (ath-Thabrânî) lahir di Thabariŷah (wilayah Palestina) pada tahun 260 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Ishfahân. Ia (ath-Thabrânî) wafat di Ishfahân pada tahun 360 Hijriyah.

[19] Nama sebenarnya yaitu: Sulaimân bin Dâwud bin al-Jarûd. Nasab (keturunan) nya yaitu: ath-Thayâlisî. Ia (ath-Thayâlisî) merupakan seorang Tabi’ Tâbi’în junior. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Dâwud. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh ath-Thayâlisî. Ia (ath-Thayâlisî) adalah seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Ia (ath-Thayâlisî) juga seorang pakar hadîts (hadis). Ia (ath-Thayâlisî) lahir di Bashrah pada tahun 133 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Bashrah. Ia (ath-Thayâlisî) wafat di Bashrah pada tahun 204 Hijriyah.

[20] Nama lengkapnya yaitu: ‘Abdurrahmân bin Abî Hâtim. Ia (Ibnu Abî Hâtim) adalah seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Nasab (keturunan) nya yaitu: ar-Râzî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Muhammad. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh Ibn Abî Hâtim. Ia (Ibnu Abî Hâtim) adalah pakar tafsîr (tafsir) dan hadîts (hadis). Ia (Ibnu Abî Hâtim) wafat pada tahun 327 Hijriyah.

[21] Nama lengkapnya yaitu: Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr bin Ghâlib. Ia (Ibnu Jarîr) merupakan seorang tsiqqah ‘âlim (kredibel ke-âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang ‘âlim). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Âmalî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Ja’far ath-Thabarî. Laqab (gelar/titel) nya: Abâ at-Tafsîr dan Abâ at-Târîkh. Ia (Ibnu Jarîr) lahir di Thabari Sittân pada tahun 224 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Baghdâd. Ia (Ibnu Jarîr) wafat di Baghdâd pada tahun 310 Hijriyah.

[22] Imâm Ibnu Jarîr. 2001. Tafsîr ath-Thabarî, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta-wîl ay al-Qurân; Tahqîq Dr. ‘Abdullâh bin ‘Abdul Muhsin at-Tirkî. Kairo: Badâr Hajar. Cetakan Pertama, Juz. 3, halaman: 382 -384, dan 386 - 387.

[23] Nama lengkapnya yaitu: Ismâ’îl bin ‘Amr bin Katsîr. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Qurasyî ad-Dimasyqî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû al-Fidâ’. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh Ibn Katsîr. Ia (Ibnu Katsîr) adalah seorang tsiqqah mutqan al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh yang kokoh dan kuat). Ia (Ibnu Katsîr) juga seorang pakar tafsîr (tafsir), hadîts (hadis) dan târîkh (sejarah). Ia (Ibnu Katsîr) lahir di Bashrah pada tahun 700 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Bashrah. Ia (Ibnu Katsîr) wafat di Bashrah pada tahun 774 Hijriyah, dan dikubur di Damsyiq (Damaskus).

[24] Al-Hâfizh Ibnu Katsîr. Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, Tahqîq Sâmî bin Muhammad as-Salâmah. Ar-Riyadh: Dâr Thayyibah. Jilid. 1, Juz. 1, halaman: 535.

[25] Nama sebenarnya yaitu: ‘Abdurrahmân bin Abî Bakr. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Jalâluddîn. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh as-Suyûthî. Ia (as-Suyûthî) adalah seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Serta ia (as-Suyûthî) juga seorang pakar tafsîr (tafsir), hadîts (hadis), lughah (gramatika), adb (sastra), fiqh (fikih), târîkh (sejarah), dan sebagainya. Nasab (keturunan) nya yaitu: as-Suyûthî. Ia (as-Suyûthî) lahir di Qâhirah pada tahun 849 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Qâhirah. Ia (as-Suyûthî) wafat di Qâhirah pada tahun 911 Hijriyah.

[26] Nama lengkapnya yaitu: Wadhâh bin ‘Abdullâh Maulâ Yazîd bin ‘Athâ’. Ia (Abû ‘Awânah) merupakan seorang Tabi’ Tâbi’în senior. Ia (Abû ‘Awânah) adalah seorang tsiqqah tsabat (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang yang konsisten). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Yasykarî al-Wâsithî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Awânah. Tempat tinggalnya di Bashrah. Ia (Abû ‘Awânah) wafat di Bashrah pada tahun 176 Hijriyah.

[27] Nama sebenarnya yaitu: Sulaimân bin Ahmad bin Aŷûb bin Muthîr. Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Lakhamî asy-Syâmî ath-Thabrânî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû al-Qâsim. Laqab (gelar/titel) nya: al-Hâfizh ath-Thabrânî. Ia (ath-Thabrânî) adalah seorang tsiqqah al-Hâfizh (kredibel ke-âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Hâfizh). Ia (ath-Thabrânî) juga seorang pakar tafsîr (tafsir) dan hadîts (hadis). Ia (ath-Thabrânî) lahir di Thabariŷah (wilayah Palestina) pada tahun 260 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Ishfahân. Ia (ath-Thabrânî) wafat di Ishfahân pada tahun 360 Hijriyah.

[28] Nama sebenarnya yaitu: Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilâl bin Asad. Ia (Ahmad bin Hanbal) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ senior. Dan ia (Ahmad bin Hanbal) juga merupakan seorang tsiqqah mutqan al-Imâm al-Hâfizh (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya, serta seorang al-Imâm al-Hâfizh yang kuat dan kokoh). Ia (Ahmad bin Hanbal) juga seorang pakar hadîts (hadis) dan fiqh (fiqih). Nasab (keturunan) nya yaitu: asy-Syaibânî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû ‘Abdullâh. Laqab (gelar/titel) nya: al-Imâm al-Hâfizh Ahmad Ibn Hanbal. Ia (Ahmad bin Hanbal) lahir di Baghdâd pada tahun 164 Hijriyah. Tempat tinggalnya di Baghdâd. Ia (Ahmad bin Hanbal) wafat di Baghdâd pada tahun 241 Hijriyah.

[29] Namanya yaitu: Muhammad bin Sâbiq. Ia (Muhammad bin Sâbiq) merupakan seorang Tabi’ al-Atbâ’ senior. Dan ia (Muhammad bin Sâbiq) juga merupakan seorang yang tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Bazzâz at-Tamîmî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Ja'far. Tempat tinggalnya di Baghdâd. Ia (Muhammad bin Sâbiq) wafat pada tahun 213 Hijriyah.

[30] Nama lengkapnya yaitu: Ibrâhîm bin Thahmân bin Syu'bah. Ia (Ibrâhîm bin Thahmân) merupakan seorang Tabi’ Tâbi’în senior. Dan ia (Ibrâhîm bin Thahmân) juga merupakan seorang yang tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Khurrasânî al-Makkî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Sa'îd. Tempat tinggalnya di Hamsh. Ia (Ibrâhîm bin Thahmân) wafat di Marwa ar-Ruwadz (salah satu Kota di Khurrâsân) pada tahun 168 Hijriyah.

[31] Nama sebenarnya yaitu: Muhammad bin Muslim bin Tadris. Ia (Abû az-Zubair) merupakan seorang Tâbi’în dekat pertengahan. Ia (Abû az-Zubair) adalah seorang yang tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Asadî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû az-Zubair. Tempat tinggalnya di Marwa ar-Ruwadz (salah satu Kota di Khurrâsân). Ia (Abû az-Zubair) wafat pada tahun 126 Hijriyah.

[32] Nama lengkapnya yaitu: 'Athâ bin Abî Rabâh Aslam. Ia ('Athâ bin Abî Rabâh) merupakan seorang Tâbi’în pertengahan. Ia ('Athâ bin Abî Rabâh) adalah seorang yang tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Nasab (keturunan) nya yaitu: al-Qurasyî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Muhammad. Tempat tinggalnya di Marwa ar-Ruwadz (salah satu Kota di Khurrâsân). Ia ('Athâ bin Abî Rabâh) wafat di Marwa ar-Ruwadz pada tahun 114 Hijriyah.

[33] Namanya yaitu: Shafwân bin Ya'lâ bin Umaŷah. Ia (Shafwân bin Ya'lâ) merupakan seorang Tâbi’în senior. Ia (Shafwân bin Ya'lâ) adalah seorang yang tsiqqah (kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya). Nasab (keturunan) nya yaitu: at-Tamîmî. Tempat tinggalnya di Marwa ar-Ruwadz (salah satu Kota di Khurrâsân).

[34] Namanya yaitu: Ya'lâ bin Umaŷah bin Abî 'Ubaidah. Ia (Ya'lâ bin Umaŷah) merupakan salah satu Sahabat Nabi SAW. Semua Sahabat Nabi SAW. tsiqqah dan ‘âdl. Nasab (keturunan) nya yaitu: at-Tamîmî. Kuniyah (nama akrab) nya yaitu: Abû Khalaf. Laqab (gelar/titel) nya: Ibn Muniyah. Tempat tinggalnya di Marwa ar-Ruwadz (salah satu Kota di Khurrâsân).

[35] Istinsyaq yaitu: "Menghirup air ke dalam Hidung, kemudian mengeluarkannya kembali".

[36] Hadis riwayat ath-Thabrânî di atas memiliki Syawâhid (penguat-penguat), akan tetapi dalam Syawâhid (penguat-penguat) tersebut tidak terdapat keterangan turunnya Ayat (Surat al-Baqarah, Ayat: 196). Syawâhid (penguat-penguat) tersebut diriwayatkan oleh: al-Hâfizh Bukhârî dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (No. Hadis: 1664). Al-Hâfizh Muslim dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li Muslimnya (No. Hadis: 2017, 2019, dan 2021). Al-Hâfizh Abû Dâwud dalam Sunan Abî Dâwudnya (No. Hadis: 1553). Al-Hâfizh an-Nasâ-î dalam Sunan an-Nasâ-î al-Kubrânya (No. Hadis: 2620). Al-Hâfizh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad al-Imâm Ahmad Ibn Hanbalnya (No. Hadis: 17269). Al-Hâfizh Ibnu Hibbân dalam Shahîh Ibn Hibbânnya (No. Hadis: 3850). Al-Hâfizh Ibnu Abî 'Âshim dalam al-Âhâd wa al-Matsânî li Ibn Abî 'Âshimnya (No. Hadis: 1055).

[37] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan antara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm asy-Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.

[38] Hadis Shahîh ialah: Hadis yang bersambung (muttashil) sanadnya, diriwayatkan oleh orang yang ‘âdl (‘âdl yaitu: orang yang istiqamah dalam beragama, baik akhlaqnya, tidak fasiq dan tidak melakukan cacat muru’ah), sempurna ke-dhabith-annya, tidak ada keganjilan (syadzdz), dan tidak ada kecacatan (‘illat).

[39] Tsiqqât adalah: Para perawi hadis yang kredibel ke-‘âdl-an dan ke-dhabith-annya.

[40] Al-Hâfizh Ibnu Katsîr. Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, Tahqîq Sâmî bin Muhammad as-Salâmah. Ar-Riyadh: Dâr Thayyibah. Jilid. 1, Juz. 1, halaman: 532.

[41] Atsar adalah: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat dan Tâbi’în, baik berupa perkataan dan perbuatan.

[42] Hadis Mawqûf yaitu: Sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan; baik bersambung sanadnya ataupun terputus sanadnya.

[43] Marfu’ maksudnya: Terangkatnya derajat hadis hingga ke Nabi SAW.

[44] Muhadditsîn yaitu: Orang yang hafal matan-matan hadis, mengetahui gharîb serta faqîh, hafal sanad, mengetahui ihwal para perawi, dapat membedakan antara yang shahîh dengan yang dha’îf, seorang penghimpun buku, penulis, pendengar, pencari sanad-sanad hadis, dan mengetahui sanad yang terpendek dari padanya. Contoh para Muhadditsîn: Imâm Mâlik, Imâm asy-Syâfi’î, Imâm Ahmad bin Hanbal, Imâm Bukhârî, Imâm Muslim, at-Tirmidzî, Abû Dâwud, an-Nasâ-î, Ibnu Mâjah, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibbân, dan sebagainya.

2 komentar: